Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #10

Pameran di Kota

Rahasia paling gelap jarang dikubur di tempat mewah. Ia justru bersembunyi di sudut berdebu, menunggu tangan yang cukup berani untuk menyentuhnya.


Enam minggu berlalu sejak nama Aris Wiratama disebutkan secara terbuka di toko Juragan Karta, dan sejak jurang kepercayaan yang sempat menganga di antara Aris dan kedua orang tua angkatnya perlahan mulai tertutup lewat sebuah dingklik kecil dari kayu limbah. Musim kemarau mulai menggantikan musim hujan, membuat tanah di sekitar Desa Karangjati mengeras dan berdebu, tapi suasana di dalam rumah bambu mereka justru terasa jauh lebih hangat dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Kabar tentang identitas asli Aris memang sempat menyebar di pasar kecamatan, dibisikkan dari mulut ke mulut seperti yang selalu terjadi di desa mana pun, sama seperti kabar yang pernah dibawa Budi ke halaman rumah mereka beberapa minggu sebelumnya dengan wajah tegang dan berkeringat. Namun anehnya, kabar itu tidak pernah benar-benar meledak menjadi berita besar. Sebagian warga tidak sepenuhnya percaya, menganggapnya cuma isu yang dilebih-lebihkan Juragan Karta untuk mencari sensasi. Sebagian lagi memilih bersikap biasa saja, toh bagi mereka, Aris tetaplah pemuda yang selalu membantu mengangkut kayu bakar dan tidak segan bekerja di bawah terik matahari, apa pun nama belakangnya.

Yang membuat Aris justru semakin waspada adalah kesunyian dari pihak Wiratama Group sendiri. Sejak kepergian Handoko dari toko Karta enam minggu lalu, tidak ada lagi utusan, tidak ada lagi amplop, tidak ada lagi ancaman yang datang secara langsung. Kesunyian itu, alih-alih menenangkan, justru terasa seperti hitungan mundur sebelum badai berikutnya datang, sebuah insting yang tidak pernah sepenuhnya bisa ia abaikan meski hari-hari berlalu dengan tenang, insting yang sudah terlatih sejak malam amplop berlogo emas itu tiba di teras rumah mereka.

Di tengah kewaspadaan yang tidak pernah sepenuhnya reda itu, kehidupan sehari-hari keluarga kecil ini perlahan menemukan ritme barunya. Ibu sudah kembali bersenandung saat memasak, meski sesekali masih ada jeda canggung yang muncul tanpa diundang, sisa luka yang belum sepenuhnya mengering sejak malam ia menolak uluran tangan Aris di dapur. Setiap pagi, Aris dan Ayah bekerja berdampingan di bengkel, kadang berdebat kecil soal proporsi kaki kursi atau kemiringan sandaran, tapi kali ini perdebatan itu terasa ringan, bukan lagi pertengkaran yang menyimpan kecurigaan di baliknya seperti pada hari-hari tergelap mereka.

Kabar tentang kursi buatan Aris dan Ayah ternyata menyebar lebih jauh dari yang mereka duga, kali ini lewat jalur yang sama sekali berbeda dari gosip soal identitas Aris. Seorang arsitek muda yang kebetulan singgah di toko Juragan Karta mencari furnitur untuk proyek kafe kliennya tertarik pada desain minimalis yang jarang ditemui di toko-toko mebel pedesaan. Ia memotret salah satu kursi itu dan mengunggahnya ke media sosial dengan keterangan singkat memuji kejujuran desainnya, tanpa menyebut nama Aris sama sekali, hanya menuliskan bahwa kursi itu ditemukan di toko mebel kecamatan, buatan tangan seorang perajin desa yang luar biasa jujur dalam mengolah material.

Unggahan itu, tanpa diduga siapa pun, mendapat perhatian cukup besar, dibagikan berkali-kali hingga akhirnya sampai ke telinga seorang wanita bernama Lila Anggraini, kurator sebuah galeri seni independen di kota yang juga dikenal karena tulisan-tulisan investigatifnya yang sesekali dimuat di media daring nasional. Lila, yang selalu tertarik pada kisah di balik sebuah karya lebih dari karya itu sendiri, menelusuri jejak unggahan tersebut sampai menemukan nama toko Juragan Karta, lalu dengan sedikit usaha, menemukan alamat bengkel kecil di Desa Karangjati tempat kursi-kursi itu sesungguhnya dibuat.

Suatu sore, sepucuk surat beramplop sederhana, jauh berbeda dari amplop berlogo emas yang pernah membakar tangan Aris beberapa bulan lalu, tiba di rumah mereka lewat tukang pos yang mengayuh sepeda tuanya sampai ke pelosok desa. Surat itu berisi undangan resmi untuk memamerkan beberapa karya kursi buatan Aris dalam sebuah pameran kerajinan tangan bertajuk "Kayu dan Kejujuran" di sebuah galeri kecil di pusat kota, dijadwalkan berlangsung akhir pekan berikutnya.

"Kamu harus datang, Ris," desak Ayah setelah membaca surat itu berulang kali, matanya berbinar bangga. "Ini kesempatan bagus. Kalau orang kota tahu kualitas kerja kita, pesanan bisa datang tanpa perlu lewat Juragan Karta lagi."

Namun kali ini, ada kekhawatiran baru yang tidak pernah mereka rasakan sebelum kabar identitas Aris tersebar. "Tapi kalau di sana ada yang kenal Aris dari, dari dunia lamanya, gimana, Pak?" tanya Ibu, tangannya meremas ujung dasternya, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali kekhawatiran mengambil alih pikirannya.

Aris menatap surat itu lama, perutnya bergejolak antara semangat dan kecemasan yang jauh lebih nyata sekarang dibanding sebelum Handoko datang ke toko Karta. Pusat kota berarti keramaian, kamera, dan kemungkinan besar bertemu orang yang mengenalinya dari kehidupan lama, sebuah risiko yang kini terasa jauh lebih konkret dibanding sekadar ketakutan abstrak. Namun ia juga tahu, kesempatan seperti ini datang sekali seumur hidup bagi keluarga seperti mereka, sebuah pintu menuju kemandirian ekonomi yang selama ini hanya bisa mereka impikan, dan menyerah pada rasa takut sama saja membiarkan Bambang Wiratama menang tanpa perlu berbuat apa-apa lagi.

"Aris akan datang, Yah," putusnya akhirnya. "Kita sudah cukup lama hidup dalam ketakutan sejak enam minggu lalu. Kalau memang ada yang mengenali Aris di sana, biar saja. Aris tidak akan lari lagi."

Ibu sibuk menyetrika satu-satunya kemeja batik milik Aris yang masih layak pakai, menggosoknya berulang kali meski kerutannya sudah lama hilang, seolah aktivitas itu adalah caranya menyalurkan kegugupan yang juga ia rasakan. "Jangan lupa senyum kalau ada yang tanya-tanya, Ris. Jangan cemberut kayak biasa," candanya, mencoba mencairkan ketegangan yang terasa di udara rumah mereka malam itu.

Ayah, di sisi lain, sibuk memoles kembali tiga kursi terpilih dengan kain lembut, meski sudah berkali-kali ia yakinkan dirinya bahwa kursi-kursi itu sudah cukup rapi. "Ini kesempatan besar buat kita, Ris. Jangan sampai gara-gara kita terlalu takut, rezeki ini lewat begitu saja."

Malam sebelum keberangkatan, Aris memeriksa ulang tiga kursi terbaik yang akan mereka bawa, mengelap setiap permukaannya dengan kain lembut meski tidak ada satu pun noda yang terlihat. Ia sengaja tidak melapisi kursi-kursi itu dengan pelitur mengilap seperti kebanyakan furnitur pameran, membiarkan tekstur kasar kayu jati mudanya tetap terlihat apa adanya, jujur tanpa polesan berlebihan, sesuai filosofi yang selama ini ia pegang sejak pertama kali menyentuh kayu di bengkel ini, filosofi yang sama yang selama ini menuntunnya melewati setiap ujian sejak dua tahun lalu.

Galeri tempat pameran berlangsung ternyata jauh lebih megah dari yang Aris bayangkan, sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang telah direnovasi menjadi ruang pamer modern, dindingnya berwarna putih bersih dengan pencahayaan tersorot yang dirancang khusus untuk menonjolkan setiap detail karya yang dipajang. Denting gelas anggur dan alunan musik instrumental mengalun pelan dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang begitu asing bagi Aris, meski ironisnya, suasana semacam ini pernah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari di masa lalu.

Kursi-kursi buatan mereka dipajang di sudut ruangan yang cukup strategis, diterangi lampu sorot yang membuat setiap serat kayunya tampak hidup, memantulkan kehangatan yang berbeda dari kilau dingin furnitur pabrikan di sekitarnya. Beberapa pengunjung berhenti sejenak, mengagumi kesederhanaan desainnya, sesekali menyentuh permukaan kayu yang kasar dengan ekspresi terkejut, seolah tidak menyangka sesuatu yang begitu sederhana bisa terasa begitu istimewa di tengah pameran yang dipenuhi karya-karya rumit dan mahal.

Lihat selengkapnya