Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #10

Gema Peluit di Ujung Malam

Lampu-lampu kota yang benderang hanya mampu menyilaukan mata, namun kejujuran sebuah karya selalu tahu cara menyentuh bagian paling gelap di dalam dada.


Lampu neon putih menyorot lurus ke atas kursi jati buatan Aris, menciptakan bayangan tegas di atas lantai keramik galeri yang mengilap. Serbuk kayu halus masih menempel di sela-sela anyaman rotan pada bagian dudukan. Aris membiarkan teksturnya tetap kasar, menolak menghaluskannya. Ia merancang kursi itu agar mampu menopang punggung manusia secara fungsional, bukan sekadar menjadi pajangan mati. Di sekelilingnya, karya desainer lain memantulkan cahaya lampu karena lapisan pelitur tebal dan pernis buatan pabrik. 

Puluhan pengunjung memadati ruangan galeri malam itu. Suara denting gelas kaca tipis yang berisi cairan anggur merah sesekali terdengar menyela alunan musik instrumental klasik. Sepatu kulit dan hak tinggi mereka bergesekan dengan lantai keramik, menciptakan dengung keramaian yang konstan. Pasangan muda menunjuk label harga sambil berbisik. Seorang pria paruh baya berkacamata tebal meraba sambungan kayu tanpa paku di bagian kaki kursi Aris, bergumam pelan mengagumi presisi potongan pasak tersebut. Mahasiswa desain menekan layar ponsel, memotret detail kemiringan sandaran punggung dari berbagai sudut. 

Kurator pameran bernama Lila berdiri dua langkah di samping karya Aris. Ia mengenakan gaun hitam sederhana. Suaranya terdengar jelas, terlatih untuk mengalahkan obrolan pengunjung, saat ia menjelaskan asal-usul jenis kayu jati tua tersebut. 

Aris menyandarkan punggungnya ke dinding di ujung ruangan, menjaga jarak dari kerumunan. Kulit di sekitar ibu jari dan telunjuknya mengelupas karena sisa lem kayu yang mengering. Bau tajam cairan pengencer cat dan peluh kering masih menempel kuat di jaket katunnya, menabrak aroma parfum mahal bermerek yang menguar dari tubuh para pengunjung di dekatnya. Ia mendengar orang-orang memuji lengkungan sandaran kursinya yang organik. Beberapa kolektor menanyakan asal bahan baku dan siapa perajin di balik karya tanpa nama tersebut. Aris merapatkan bibir. Ia menatap lurus ke depan dan menolak menjawab setiap pertanyaan yang diarahkan kepadanya. 

Seorang pria berkumis tipis berjongkok. Keningnya berkerut saat meneliti bagian bawah rangka. Jarinya tidak sengaja menyentuh bagian bawah dudukan kayu yang agak tersembunyi. 

"Ada kertas terselip di sini," ucapnya kepada pria berbaju kotak-kotak di sebelahnya. Suaranya parau dan sedikit terkejut. Mereka tertawa pelan, mengira itu adalah label harga yang lupa dicabut atau kecerobohan panitia. 

Di sudutnya, Aris mengepalkan tangan kanannya di dalam saku jaket hingga kuku-kukunya menekan tajam telapak tangan. Ia menaruh potongan kertas usang itu di sana kemarin malam, menyembunyikannya di balik celah rotan. Kertas itu bukan label harga. Kertas itu berisi deretan angka cetak dari masa lalu yang berusaha ia kubur. 

Mendengar gumaman pengunjung, Lila menunduk. Ia merespons gerakan pegawai pameran yang baru saja memiringkan kursi untuk mengecek kestabilan pijakannya. Jari lentik Lila menyentuh ujung kertas lusuh tersebut. Kertas itu agak kaku, seolah menolak untuk ditarik. Ia menariknya perlahan. Terdengar suara gemerisik pelan saat kertas itu terlepas dari celah kayu. 

Mata Lila menyusuri angka-angka dan inisial buram di permukaan kertas kusam itu. Garis wajahnya berubah kaku. Ia berhenti bicara di tengah kalimat. Ruangan galeri mendadak hening. Alunan musik klasik tiba-tiba terasa terlalu keras. 

"Ini... ini bukan dokumen karya. Ini nomor registrasi barang dari gudang logistik," ucap Lila pelan, nada suaranya bergetar. 

Seorang perempuan berkalung tanda pengenal pers di dekatnya bereaksi lebih cepat dari yang lain. Ia langsung mengangkat kamera lensa panjangnya. Kilat lampu flash kamera menyala putih, menyilaukan mata. Pengunjung lain yang penasaran ikut berkerumun mendekati titik cahaya, mengabaikan karya lain di ruangan itu. Mereka memusatkan pandangan pada kursi kayu jati tersebut dan kertas di tangan Lila. 

Lihat selengkapnya