Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #11

Putusnya Rantai Emas

Rahasia tergelap tidak pernah dikubur di tempat yang mewah. Ia disembunyikan di sudut berdebu, menunggu tangan yang cukup berani untuk membongkarnya.


Angin malam kota terasa jauh lebih tajam daripada angin malam di desa, seolah membawa ribuan jarum kasat mata yang menusuk pori-pori kulit. Di sini, angin tidak membawa aroma daun basah, bunga cengkeh, atau tanah sehabis hujan. Udara kota sarat dengan bau aspal yang dipanggang matahari seharian, asap knalpot pekat, dan debu kering yang membuat tenggorokan terasa tercekik. Gedung-gedung pencakar langit menjulang di kanan-kiri layaknya benteng raksasa yang mengurungnya, memblokir cahaya bintang dan menggantinya dengan pendar neon yang menyilaukan dan dingin.

Aris setengah berlari menyusuri trotoar beton yang retak dan tidak rata. Sesekali ia menoleh ke belakang, napasnya memburu, matanya memindai lautan kendaraan yang merayap di jalan raya. Ia memastikan tidak ada pria berjas hitam atau mobil SUV berkaca gelap yang membuntutinya sejak ia nekat keluar dari galeri pameran. Adrenalin yang memompa jantungnya membuat telapak tangannya yang kapalan terasa kebas.

Sambil terus melangkah cepat dan sesekali menabrak bahu pejalan kaki yang mengumpat ke arahnya, jemarinya yang gemetar menekan layar ponselnya yang retak di bagian ujung. Ia menghubungi nomor ponsel butut milik Budi. Nada sambung berbunyi panjang tiga kali. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan. Tepat sebelum Aris mematikan panggilan, terdengar suara gemerisik angin yang sangat keras dari seberang, disusul suara bising klakson.

"Halo? Budi?" napas Aris tersengal, ia berbelok ke sebuah gang sempit yang sepi untuk meredam suara jalan raya. "Dengar, aku butuh bantuanmu, tapi jarak dari desa terlalu jauh. Tolong kau langsung lari ke rumah, jaga Ayah dan Ibu. Jangan biarkan siapa pun masuk ke bengkel—"

"Santai, Bos Kota," suara Budi memotong, berbicara setengah berteriak untuk mengalahkan deru bising kendaraan bermotor besar di latar belakangnya. "Aku tidak ada di desa. Aku ada di pom bensin batas kota sekarang. Sekitar dua puluh menit dari pusat kotamu."

Langkah Aris terhenti seketika. Ia bersandar pada dinding bata berlumut di bawah lampu jalan yang temaram. "Batas kota? Bagaimana bisa kau ada di sana? Apa yang terjadi?"

"Sore tadi, setelah pemasok kayu menelepon dan membatalkan semua pesanan kita secara sepihak, wajah Ayah langsung pucat pasi," jelas Budi. Nada jenaka yang biasanya selalu melekat pada pemuda desa itu kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh keseriusan parau yang jarang sekali ia tunjukkan. "Ayah tidak bicara sepatah kata pun selama sepuluh menit. Beliau hanya menatap pahat kayunya, lalu tiba-tiba mendapat firasat yang sangat buruk tentangmu, Ris. Katanya dadanya sesak. Beliau yang memaksaku menyusulmu sore itu juga pakai motor bebek ini. Katanya, kota sedang marah besar padamu dan kau butuh pelindung. Di mana posisimu sekarang?"

Bulu kuduk Aris meremang hebat. Tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. Naluri seorang ayah angkat ternyata mampu melampaui logika ruang dan jarak seratus kilometer. Di saat ayah kandungnya mengirim utusan untuk menghancurkannya, ayah angkatnya mengirimkan bantuan bahkan sebelum ia memintanya. Keringat dingin yang mengucur di lehernya kini terasa sedikit hangat.

"Stasiun Lama," jawab Aris cepat, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Lewati jalur belakang yang gelap, area bongkar muat batu bara. Jangan lewat pintu depan, mereka pasti sudah menyebar. Dan Budi... jangan sampai ada yang melihatmu. Ini bukan preman pasar, ini orang-orang profesional."

"Meluncur. Bertahanlah di sana." Klik. Telepon terputus.

Aris memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, merapatkan kerahnya, dan kembali berlari. Pukul 19.50, setelah melewati labirin gang-gang kecil, ia akhirnya tiba di pelataran Stasiun Lama.

Tempat itu seperti kuburan massal bagi monster-monster baja masa lalu. Sejak jalur kereta cepat antarprovinsi dibangun lima tahun lalu, stasiun raksasa ini nyaris mati perlahan, hanya digunakan sesekali pada malam hari untuk transit kereta barang bermuatan batu bara, semen, atau kayu gelondongan. Penerangannya sangat minim; hanya ada beberapa lampu merkuri berwarna kuning pucat yang menyorot peron berlumut, menyisakan lebih banyak bayangan pekat daripada cahaya.

Sensasi sensoris tempat itu langsung menyerang Aris. Bau tajam dari karat besi tua, tumpahan oli bekas yang meresap ke dalam tanah, serta aroma rel baja yang lembap oleh embun malam menusuk indra penciumannya. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh pelan namun konstan dari mesin lokomotif diesel yang dibiarkan menyala, getarannya terasa hingga ke telapak sepatu Aris.

Deretan belasan gerbong barang yang kosong dibiarkan terparkir memanjang di empat jalur rel yang berbeda, menciptakan sebuah labirin visual raksasa yang mencekam. Aris merapatkan punggungnya ke dinding bata stasiun yang catnya sudah mengelupas parah, matanya memindai kegelapan dengan waspada.

Jantungnya berdesir keras hingga memukul-mukul tulang rusuknya. Di area peron dua, sekitar lima puluh meter dari posisinya, tiga buah sorot senter LED putih bergerak konstan menyapu tumpukan gundukan kerikil dan roda-roda baja gerbong. Tiga pria berjas hitam berjalan menyebar dengan formasi taktis. Postur tubuh mereka tegak kaku, langkah sepatu kulit mereka nyaris tak bersuara di atas rel, persis seperti anjing pelacak militer yang terlatih memburu mangsa. Ayahnya benar-benar tidak membuang waktu. Pria tua itu pasti telah mengerahkan belasan orang untuk menyusup ke setiap sudut celah yang mungkin didatangi Aris malam ini.

Aris tahu ia harus bergerak maju, menembus blokade itu. Informan misterius itu memintanya datang pukul delapan tepat. Ia menarik napas panjang, menundukkan kepala, dan berjalan berjongkok menyelinap keluar dari bayangan dinding bata. Ia merayap dari balik roda baja raksasa gerbong satu ke gerbong lainnya. Tanah kerikil di bawahnya terasa tajam dan dingin.

Telinganya menangkap suara langkah sepatu pantofel yang menginjak kerikil. Suaranya sangat dekat, hanya selisih dua gerbong darinya. Aris langsung menghentikan langkah, menahan napasnya hingga dadanya terasa sakit, dan menempelkan punggungnya pada dinding gerbong besi yang sedingin es. Sorot lampu senter putih menyapu tanah tepat setengah meter dari ujung sepatunya. Pria berjas itu berhenti sejenak, tampaknya mendengarkan sesuatu, sebelum akhirnya melangkah menjauh ke arah gerbong berikutnya.

Aris baru saja membuang napas lega ketika tiba-tiba, sebuah tangan yang kasar, tebal, dan berbau tembakau murah mencengkeram kerah jaketnya dari arah belakang bayangan.

Sebelum Aris sempat bereaksi atau berteriak, tangan itu menariknya dengan tenaga yang luar biasa mengejutkan ke dalam celah sempit di antara sambungan dua gerbong barang yang gelap gulita. Sebuah telapak tangan yang kapalan membekap mulutnya dengan keras, menekan punggungnya ke dinding besi.

"Ssst. Berhenti bergerak, Anak Muda, atau mereka akan mematahkan leher kita berdua malam ini juga," bisik sebuah suara serak tepat di telinganya.

Aris meronta sejenak, insting bertahannya melawan, sebelum perlahan matanya terbiasa dengan kegelapan celah gerbong tersebut. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya yang usianya mungkin mendekati enam puluh tahun. Rambutnya hampir seluruhnya memutih, kusut tak terawat. Wajahnya dipenuhi kerut-merut kelelahan yang dalam, matanya dihiasi kantung hitam, dan ia memakai jaket kulit usang yang ukurannya terlalu besar. Namun, sorot matanya masih setajam elang.

Lihat selengkapnya