Rahasia tergelap tidak pernah dikubur di tempat yang mewah. Ia disembunyikan di sudut berdebu, menunggu tangan yang cukup berani untuk membongkarnya.
Pelarian gila itu berakhir di sebuah warung kopi bambu dua puluh empat jam yang reyot di pinggiran Jalur Pantura. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, tempat ini seperti perbatasan antara peradaban dan antah-berantah. Suara menderu dari ban-ban raksasa truk tronton bermuatan penuh yang melintas sesekali menggetarkan dinding anyaman bambu warung tersebut, menebarkan debu jalanan yang menyusup lewat celah-celah papan. Lampu neon panjang yang menempel di langit-langit berkedip tidak beraturan, sesekali mendesis seperti lebah yang sekarat, memancarkan cahaya putih pucat yang membuat segala sesuatu di ruangan itu tampak mati. Di sudut warung, pemiliknya tertidur pulas dengan dengkuran halus, tidak peduli pada dua buronan yang baru saja merangsek masuk.
Aris duduk merosot di atas kursi plastik merah yang memudar dan reyot. Napasnya masih memburu, dadanya naik turun dengan keras hingga membuatnya terbatuk-batuk. Adrenalin pekat yang sejak tadi mendidih di pembuluhnya perlahan mulai mengendap. Begitu pertahanan diri itu surut, ia meninggalkan sisa-sisa kelelahan ekstrem dan rasa sakit yang mulai berteriak dari setiap inci tubuhnya. Kemeja mahalnya robek di bagian bahu, ternoda oleh campuran keringat, debu, dan darah yang mulai mengering.
Di depannya, Budi duduk dengan wajah tegang yang teramat asing. Pemuda desa yang biasanya tidak pernah kehabisan bahan candaan, yang selalu bisa menemukan lelucon di tengah kemiskinan dan kesulitan hidup mereka, kini membisu layaknya patung batu. Sorot matanya gelap. Ia baru saja kembali dari sebuah minimarket tidak jauh dari situ, membawa tas kresek berisi sebotol air mineral dingin, obat merah cair, sebungkus kapas, dan segulung perban.
"Tahan sedikit, Bos," gumam Budi parau. Suaranya kehilangan nada riang yang biasa menghiasi setiap kalimatnya. Tangannya yang kasar, yang terbiasa memegang tuas motor, kunci inggris, dan beban berat, kini dengan sangat hati-hati dan penuh presisi membersihkan kerikil hitam serta pasir tajam yang menancap di telapak tangan Aris yang robek akibat pendaratan darurat mereka di aspal tadi.
Aris mendesis tajam, matanya terpejam erat menahan perih yang menyengat hingga ke sumsum tulang saat cairan antiseptik itu menyentuh luka terbukanya. Namun, seburuk apa pun rasa perih di tangannya, itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang meremukkan dadanya dari dalam. Bayangan Pak Hardi, pria tua ringkih dengan seragam satpamnya yang kebesaran, merentangkan kedua tangan demi menghalangi para preman berbadan tegap yang mengayunkan tongkat besi, terus berputar di pelupuk matanya. Adegan itu berulang-ulang seperti kaset rusak yang terjebak pada bingkai paling mengerikan. Aris masih bisa mendengar suara hantaman benda tumpul itu.
"Aku meninggalkannya, Bud," suara Aris bergetar. Tatapannya kosong menatap meja kayu di hadapannya yang lengket oleh sisa tumpahan kopi masa lalu. Setetes air mata lolos dari sudut matanya, bercampur dengan kotoran di pipinya. "Dia meneriaki kita untuk lari. Dia mengorbankan nyawanya agar aku bisa lolos membawa informasi ini. Ayahku, monster berdarah dingin itu tidak akan pernah mengampuninya. Pak Hardi mungkin sudah mati sekarang karena aku."
Budi diam mendengarkan. Ia menuntaskan balutan di tangan Aris, mengikat ujung perbannya dengan simpul yang kuat namun tidak menyumbat aliran darah. Setelah selesai, Budi mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Aris lekat-lekat, memaksakan kontak mata.
"Kalau kau memutar balik motor kita tadi, kalau kita kembali ke sana untuk mati konyol, pengorbanan bapak tua itu yang akan benar-benar sia-sia, Ris. Dia memilih takdirnya malam ini untuk memberimu kesempatan." Budi menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sendiri. "Sekarang katakan padaku. Tidak ada lagi rahasia. Apa sebenarnya yang sedang kau buru sampai kita harus dikejar belasan algojo bayaran dan mempertaruhkan nyawa begini?"
Aris menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dilapisi amplas. Ia akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Tentang amplop cokelat tebal berisi dokumen yang diselipkan di kursi mobilnya, tentang skema perampasan lahan ilegal yang sangat terstruktur, dan fakta paling mengerikan yang baru saja ia dengar langsung dari mulut Pak Hardi sebelum pengejaran terjadi.