Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #13

Serangan ke Jantung Desa

Mesin besi raksasa boleh saja menggilas tanah dan mematahkan kayu jati tua. Namun, mereka lupa bahwa akar yang tertanam dalam tidak akan pernah bisa diratakan menjadi abu.


Udara dingin fajar Jalur Pantura menembus sela-sela dinding anyaman bambu warung kopi yang mulai lapuk. Aris terbangun dengan tubuh menggigil tepat pukul setengah lima pagi. Kemeja katunnya yang robek di bagian bahu tidak mampu menahan tiupan angin laut yang kering dan berdebu. Rasa kaku menjalar hebat di sepanjang tulang belakangnya, seolah hawa dingin fajar itu telah mengendap dan membekukan sumsum tulangnya.

Di udara, bau asap kompor minyak tanah bercampur dengan adonan tempe yang mulai digoreng oleh pemilik warung di sudut ruangan. Bau minyak kelapa panas itu berkelindan dengan aroma solar pekat dari truk-truk kontainer raksasa yang diparkir berderet di bahu jalan raya Pantura. Setiap kali ada truk tronton bermuatan penuh melintas di jalan raya, seluruh dinding bambu warung bergoyang pelan. Lampu neon panjang yang menempel di langit-langit berkedip tidak beraturan, mendesis seperti serangga yang sekarat, memancarkan cahaya putih pucat yang membuat wajah mereka berdua tampak sangat kusam.

Aris berusaha menegakkan punggungnya secara perlahan. Rasa ngilu menjalar dari bahunya yang memar hingga ke sela-sela jari tangan kanannya yang dibalut perban kusam. Perban itu kini mulai berwarna kelabu karena debu jalanan dan sisa oli motor yang menempel selama pelarian malam tadi. Di seberang meja kayu yang lengket oleh sisa tumpahan kopi hitam masa lalu, Budi sudah berdiri tegak. Pemuda desa itu memasukkan sisa kapas ke dalam saku celana jeansnya yang pudar. Wajah Budi pucat. Sepasang lingkaran hitam tebal menggantung di bawah matanya karena kurang tidur, namun tatapannya tetap tajam memindai jalan raya di luar yang diselimuti kabut putih tipis.

"Ayo, Ris. Keretanya sebentar lagi sampai," bisik Budi. Suaranya serak, tersumbat oleh kabut fajar Pantura yang lembap dan dingin.

Mesin dua tak motor bebek tua milik Budi menderu cempreng saat dihidupkan. Suaranya memekakkan telinga, membelah aspal hitam yang basah oleh embun pagi. Aris merapatkan jaket kulit imitasi milik Budi yang ukurannya kebesaran untuk menyembunyikan kemeja mahalnya yang kotor, penuh noda tanah, dan robek di bahu kanan.

Di atas jok belakang yang keras dan bergoyang liar setiap kali roda menghantam lubang jalanan yang dalam, Aris mencengkeram erat besi pegangan di belakang motor. Setiap entakan aspal mengirimkan rasa sakit yang menusuk tajam ke telapak tangannya yang robek. Luka yang baru dibersihkan semalam kembali berdenyut panas seiring dengan detak jantungnya. Aris mengatupkan rahang kuat-kuat. Ia memilih diam. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya di hadapan sahabatnya.

Mereka tiba di pelataran Stasiun Lama pada pukul lima lewat lima menit. Prediksi Budi terbukti sepenuhnya. Tempat yang semalam sunyi mirip kuburan tua itu kini menjelma menjadi lautan manusia yang riuh, kacau, dan bergerak tanpa arah yang jelas. Lokomotif ekonomi lokal baru saja berhenti dengan dengus uap panas yang membubung ke langit kelabu fajar. Roda besi raksasa berdecit memekakkan telinga saat bergesekan dengan rel baja yang dingin.

Bau tanah becek, kol busuk dari keranjang yang pecah, daun pisang basah, dan asap kretek murah langsung menyergap indra penciuman Aris. Kepalanya pening. Ibu-ibu tengkulak dengan kain jarik melangkah tergesa-gesa di atas tanah basah yang becek berlumpur. Mereka saling berteriak menawar harga sawi dan bayam langsung dari keranjang bambu raksasa. Teriakan para pedagang asongan yang menjajakan kopi seduh di dalam gelas plastik bersahut-sahutan dengan bunyi derit lori barang yang didorong kasar di atas semen peron stasiun yang retak-retak.

Aris menarik rendah topi kanvas kusam milik Budi hingga menutupi sebagian dahi dan wajahnya yang kotor. Ia melangkah turun dari motor. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, memastikan kunci kuningan kecil bernomor 114 yang sedingin es masih berada di genggamannya. Genggaman tangannya yang terluka membuat permukaan logam kunci itu sedikit lengket oleh darah hangat yang merembes kembali dari perban kusamnya, tetapi ia tidak peduli.

"Aku tunggu di dekat tiang listrik luar. Begitu dapat barangnya, langsung lari ke sini, jangan menoleh lagi," bisik Budi sebelum sosoknya menghilang cepat di balik kerumunan pikulan pisang yang dibawa para pedagang dari desa sebelah.

Aris melangkah masuk ke dalam arus kerumunan pedagang yang bergerak lambat. Di dekat pilar beton stasiun yang catnya sudah mengelupas parah hingga memperlihatkan lumut kering, ia memperlambat langkah kakinya. Dua pria berjas hitam semalam masih berdiri tegak di sana. Mereka berdiri kaku seperti patung besi yang mengawasi keadaan. Wajah mereka dingin. Mata mereka bergerak dengan ritme yang konstan, memindai setiap pasang kaki dan wajah yang melintas di depannya.

Namun, kerumunan pedagang sayur yang membawa pikulan bambu besar dan keranjang tinggi sangat membantu. Pikulan-pikulan itu menghalangi pandangan kedua penjaga sepenuhnya. Aris segera menyelinap di antara dua ibu pembawa keranjang bayam yang berbau lumpur segar. Ia menggunakan tubuh mereka sebagai perisai alami untuk melewati pos penjagaan darurat tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.

Lihat selengkapnya