Baja dan rantai besi mungkin bisa meratakan bangunan hingga rata dengan tanah dalam hitungan menit, namun mereka tidak akan pernah bisa mencabut akar yang telah mengikat hati pada pijakannya.
Udara pagi itu seharusnya terasa menenangkan. Biasanya, pukul enam kurang lima belas menit di desa adalah waktu yang magis. Itu adalah saat di mana embun masih menempel malu-malu di ujung daun pisang raja, memantulkan sisa-sisa cahaya bulan sebelum fajar benar-benar merekah. Itu adalah waktu di mana suara kokok ayam jantan saling bersahutan membelah kabut tipis yang merayap turun dari bukit, dan aroma wangi dari kayu bakar yang mulai dihidupkan di dapur-dapur rumah panggung menguar ke udara.
Namun pagi ini, magis itu telah dibunuh. Udara desa terasa pekat, kotor, dan mengancam. Bau tanah basah yang biasanya menenangkan telah digantikan oleh aroma tajam solar yang terbakar, asap knalpot hitam pekat yang mencekik tenggorokan, dan bau besi panas yang memuakkan.
Di atas sadel motor bebek dua tak yang meraung membelah sisa-sisa kegelapan pagi, Aris mencengkeram pinggang Budi dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangan kirinya yang masih dibalut perban berlumur darah kering sisa pelarian di stasiun tadi malam terasa mati rasa. Denyut ngilu merambat dari ujung jari hingga ke pangkal bahunya, seolah ribuan jarum kecil ditusukkan ke dalam pembuluh darahnya bersamaan dengan hawa dingin angin pagi. Namun, ia mengabaikan rasa sakit itu. Tangan kanannya mendekap erat jaket parasit di dadanya. Di balik ritsleting jaket yang ditarik hingga ke leher itu, menempel tepat di atas detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, terletak buku besar bersampul kulit hitam dan sebuah flashdisk perak. Senjata pamungkas mereka. Bukti kejahatan triliunan rupiah.
"Lebih cepat, Bud! Lebih cepat!" teriak Aris. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang menampar wajahnya tanpa ampun dan lengkingan mesin motor yang dipaksa bekerja jauh melampaui batas kewajarannya.
"Ini sudah mentok, Ris! Kalau kupelintir gasnya satu milimeter lagi, piston motor ini bisa pecah berantakan dan kita berdua bakal mencium aspal di tengah jalan!" balas Budi dengan suara parau, berteriak melewati bahunya.
Pemuda desa itu menundukkan tubuhnya serendah mungkin di atas setang, mencoba membelah angin layaknya pembalap jalanan. Matanya yang merah karena kurang tidur dan terpaan debu menatap tajam ke depan, mengikuti liukan jalan aspal desa yang mulai berlubang. Budi tidak peduli pada lubang-lubang itu; ia menerjangnya begitu saja, membuat suspensi motor yang sudah mati itu menghantam tulang ekor mereka berkali-kali.
Jantung Aris seolah ditabuh menggunakan palu godam raksasa setiap kali matanya menangkap angka di jam tangan digital murah yang melingkar di pergelangan tangan kiri Budi.
Pukul 05.50 pagi.
Sepuluh menit. Hanya tersisa sepuluh menit sebelum instruksi berdarah dari Handoko yang tertulis di buku hitam itu dieksekusi. Sepuluh menit sebelum seluruh kehidupan yang Aris kenal selama dua tahun terakhir ini dihancurkan menjadi debu.
Pikiran Aris berpacu lebih cepat dari roda motor yang berputar. Ia membayangkan Ayah yang mungkin saat ini baru saja selesai menunaikan salat subuh, melangkah ke halaman belakang untuk menyapa kayu-kayu jatinya. Ia membayangkan Ibu yang mungkin sedang meniup bara api di tungku tanah liatnya untuk menanak nasi. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa monster raksasa dari baja sedang mengintai tepat di luar pagar rumah mereka. Rasa bersalah yang teramat sangat mencekik leher Aris. Ini salahku, batinnya berteriak. Karena nama belakangku, karena darah yang mengalir di nadiku, rumah ini akan dihancurkan.
"Kita hampir sampai, Bos! Pegangan yang kuat!" seru Budi, membuyarkan lamunan kelam Aris.
Di depan mereka, kabut pagi mulai tersibak. Saat motor mereka akhirnya melewati tikungan terakhir dan memasuki area gapura desa yang terbuat dari susunan bata merah berlumut, pemandangan yang menyambut mereka membuat darah di sekujur tubuh Aris serasa membeku seketika. Paru-parunya seolah berhenti memompa oksigen.
Ini bukanlah desa yang ia kenal. Ini adalah zona perang.
Tiga unit buldoser raksasa berwarna kuning terang dengan lambang kontraktor tak bernama—hanya cat polos tanpa identitas—berdiri angkuh di lapangan tanah merah depan balai desa. Mesin dieselnya menggerung rendah dan konstan, sebuah suara stasioner yang mengerikan, menggetarkan tanah di bawahnya seperti gempa bumi berskala kecil yang tak kunjung usai. Lampu sorot tembak dari alat-alat berat itu menyala menyilaukan, menembus sisa kabut pagi dan menyoroti partikel debu yang beterbangan di udara, menciptakan siluet-siluet panjang bergerigi yang menyerupai monster purba.
Di belakang ketiga buldoser itu, dua unit ekskavator dengan lengan besi raksasa yang menyerupai capit kalajengking siap bergerak. Roda rantai baja mereka telah meninggalkan jejak parit-parit dalam yang merusak jalan masuk desa.
Puluhan pria berbadan tegap dengan seragam safari hitam dan rompi pelindung telah mengepung jalan utama desa, membentuk barikade rapat. Wajah mereka keras, dingin, dan tanpa ekspresi, khas algojo bayaran yang tidak peduli pada air mata. Di tangan mereka, tergenggam tongkat pemukul dari rotan tebal, pentungan karet hitam, dan beberapa memegang linggis besi.
Di seberang barikade preman bayaran tersebut, tepat di area perbatasan menuju pemukiman, puluhan warga desa telah berkumpul dengan wajah pias, panik, namun didorong oleh keputusasaan yang nekat. Pemandangan itu mengiris hati Aris. Ia melihat ibu-ibu menangis histeris sambil memeluk erat anak-anak mereka yang masih memakai baju tidur bergambar kartun. Para pemuda desa, dipimpin oleh Kang Maman si penjual sayur dan beberapa buruh tani, berdiri di garis depan dengan dada membusung meski tangan mereka bergetar. Mereka tidak memiliki senjata. Beberapa hanya memegang sepotong kayu bakar, gagang cangkul, atau celurit tumpul yang biasa digunakan untuk menyabit rumput. Mereka mencoba menahan laju para preman agar tidak merangsek masuk ke area rumah warga.
"Berhenti di sini, Bud! Jangan diterobos langsung!" teriak Aris saat mereka berjarak sekitar lima puluh meter dari kerumunan luar.
Budi menginjak pedal rem belakang kuat-kuat sambil menarik tuas rem depan. Ban motor berdecit keras dengan suara melengking yang menyakitkan telinga, meninggalkan jejak karet hitam yang panjang dan berbau hangus di atas aspal. Motor itu melintir sebelum akhirnya berhenti dengan posisi miring, nyaris membuang mereka berdua ke selokan.
Aris melompat turun bahkan sebelum motor itu sepenuhnya diam. Kakinya yang kaku akibat udara dingin menghantam aspal dengan keras, membuat lututnya berdenyut ngilu dan memicu nyeri tajam di rusuk kirinya—luka lama dari kecelakaan dua tahun lalu yang tiba-tiba ikut bereaksi terhadap stres ekstrem. Namun, ledakan adrenalin di dalam darahnya menutupi semua rasa sakit itu dengan cepat.
Ia memindai kekacauan di depannya dengan mata memicing, mencari titik episentrum dari eksekusi ini. Aris tahu, para preman dan alat berat ini hanyalah wayang. Ia harus mencari dalangnya.
Dan ia menemukannya.
Tepat di sebelah barat lapangan, berjarak sekitar tiga puluh meter dari kerumunan utama, berdiri bangunan bengkel kayu reyot berdinding anyaman bambu milik Ayah. Di depan bengkel itulah pertunjukan sesungguhnya sedang berlangsung.
Berdiri Handoko.
Tangan kanan ayahnya yang paling mematikan itu mengenakan setelan jas abu-abu Italia yang disetrika sempurna, lengkap dengan kemeja putih bersih dan dasi sutra hitam. Penampilannya sangat kontras, menjijikkan, dan sepenuhnya salah tempat di tengah tanah desa yang becek oleh embun dan jejak rantai buldoser. Handoko berdiri dengan postur setenang permukaan danau yang membeku, kedua tangannya bertaut rapi di belakang punggung. Ia dikelilingi oleh empat pengawal pribadinya yang berbadan dua kali lipat lebih besar dari preman biasa.
Di sebelah Handoko, Juragan Karta berdiri dengan wajah memerah karena kegirangan yang tak disembunyikan. Tengkulak serakah itu tersenyum lebar dengan angkuh, memamerkan gigi-giginya yang bernoda nikotin. Tangannya yang dipenuhi cincin akik menunjuk-nunjuk ke arah bangunan bengkel sambil meneriakkan perintah kepada operator buldoser terdepan.
Namun, bukan Handoko atau Juragan Karta yang membuat hati Aris hancur berkeping-keping. Melainkan dua sosok yang berdiri di teras bengkel tersebut.
Ayah berdiri tegak di undakan paling depan tanah bengkelnya. Tubuh rentanya yang biasanya melengkung saat memikul kayu kini berdiri tegak lurus menantang maut. Beliau mengenakan kaus oblong putih lusuh dan sarung kotak-kotak yang digulung hingga ke lutut. Ayah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seolah percaya bahwa tubuh tua dan tulang-tulangnya yang rapuh mampu menahan laju pisau baja buldoser yang berbobot belasan ton. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah palu kayu besar—palu kayu mahoni yang biasa ia gunakan dengan penuh kasih sayang untuk menyambung pasak jati. Alat pencipta karya itu kini terpaksa beralih fungsi menjadi senjata terakhir untuk mempertahankan harga dirinya, rumahnya, dan ruang hidupnya.
Di belakang Ayah, pemandangan yang lebih menyayat hati terpampang. Ibu menangis sejadi-jadinya, terduduk lemas di atas lantai tanah bengkel. Tangan keriputnya memeluk erat tiang bambu penyangga atap, seakan tiang rapuh itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya dari badai kiamat. Wajah Ibu basah oleh air mata, bibirnya bergetar merapalkan doa-doa yang tak terdengar karena tertelan deru mesin.