Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #15

Retak di Balik Laporan

Kayu yang dipaksa bengkok di bawah mesin pres mungkin terlihat lurus untuk sementara waktu. Namun serat di dalamnya akan selalu menyimpan tegangan yang mematikan; begitu tekanan dilepaskan, ia tidak akan pernah benar-benar kembali ke bentuk asalnya tanpa meninggalkan bekas retakan yang menganga.


Sirene polisi yang tadi meraung-raung membelah kesunyian desa kini telah mati, namun kebisingan yang menggantikannya justru terasa jauh lebih memekakkan telinga. Lapangan tanah merah yang semalam berstatus sebagai medan pertempuran antara keangkuhan baja dan pertahanan darah daging, kini telah berubah wujud menjadi lokasi kejadian perkara (TKP) sekaligus sirkus media nasional.

Garis polisi berwarna kuning terang membentang mengelilingi tiga unit buldoser dan dua ekskavator raksasa, tampak seperti jahitan luka operasi yang dipaksakan di atas kulit tanah desa yang terkoyak. Mesin-mesin diesel yang tadinya menggerung layaknya monster haus darah itu kini terdiam kaku, meninggalkan bau tajam solar yang tumpah, pelumas panas, dan sisa karet hangus yang mengendap pekat di udara pagi. Matahari sudah sepenuhnya naik, sinarnya yang garang menyoroti partikel debu yang masih melayang lambat di sekitar roda rantai baja.

Aris berdiri menyandar di dekat pintu belakang mobil van stasiun televisi milik tim Lila. Napasnya masih terasa berat, ditarik dan dihembuskan dengan ritme yang patah-patah. Di tangannya, segelas kopi instan yang diseduh di gelas plastik murahan—entah diberikan oleh siapa, mungkin salah satu warga atau kru televisi—terasa menghantarkan kehangatan yang sangat ia butuhkan untuk meredakan tremor pada jari-jarinya. Tangannya yang terbalut perban kembali berdenyut ngilu, darah kering merembes di sela-sela kain kasa, namun rasa sakit fisik itu seolah tenggelam oleh keletihan mental yang luar biasa masif.

Ia menatap ke sekeliling. Warga desa tidak langsung kembali ke rumah mereka. Mereka duduk berkerumun di balai desa, beberapa dirawat oleh petugas medis dari puskesmas kecamatan yang baru saja tiba. Ibu-ibu masih memeluk anak-anak mereka dengan tatapan kosong, syok pasca-trauma yang akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh. Beberapa pemuda desa, termasuk Kang Maman yang pelipisnya diperban karena hantaman tongkat rotan preman, sedang memberikan keterangan kepada petugas kepolisian dengan berapi-api.

Kemenangan ini terasa nyata, namun mengapa udara masih terasa begitu mencekik?

Suara derap langkah sepatu bot yang tegas memecah lamunan Aris. Lila mendekat, wajahnya yang biasanya tertata rapi kini tampak kuyu, rambutnya diikat asal-asalan, dan kantung matanya menghitam. Namun, sorot matanya justru menyala dengan intensitas predator yang baru saja mencium bau darah yang lebih segar. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet berukuran besar yang menampilkan grafik tren perbincangan di media sosial yang bergerak naik-turun secara agresif, diselingi oleh potongan klip siaran berita pagi dari berbagai stasiun televisi saingan.

"Beri aku dua menit untuk bernapas, Lila," gumam Aris sebelum wanita itu sempat membuka mulut. Aris menyesap kopi pahitnya, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya yang kering.

"Kau tidak punya dua menit, Aris. Kau bahkan tidak punya dua detik," ucap Lila tanpa basa-basi, nada suaranya mengiris udara layaknya silet. Ia berdiri tepat di depan Aris, menghalangi pandangan pemuda itu dari lapangan. "Tarik napasmu nanti. Sekarang, kau harus melihat ini."

Lila menyodorkan layar tablet itu ke wajah Aris. Di layar tersebut, terpampang siaran langsung dari sebuah konferensi pers dadakan yang digelar di lobi kaca sebuah gedung pencakar langit yang sangat Aris kenal. Gedung Kantor Pusat Wiratama Group di ibu kota.

Di depan puluhan mikrofon dan kilat lampu kamera, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan setelan jas seharga ratusan juta. Pria itu adalah kuasa hukum utama Wiratama Group, pengacara senior yang reputasinya dibangun di atas mayat-mayat perusahaan kecil yang ia hancurkan di pengadilan.

"...Wiratama Group adalah entitas bisnis yang selalu menjunjung tinggi supremasi hukum," suara bariton pengacara itu menggema dari speaker tablet, terdengar begitu tenang, berwibawa, dan sangat meyakinkan. "Kami sangat terkejut dan mengutuk keras insiden yang terjadi di desa tersebut pagi ini. Kami ingin mengklarifikasi bahwa tindakan tersebut sama sekali bukan merupakan instruksi dari jajaran direksi maupun Bapak Tirta Wiratama. Investigasi internal kami yang dilakukan satu jam yang lalu mengindikasikan bahwa Saudara Handoko, yang kini telah diamankan pihak berwajib, bertindak di luar wewenang (rogue employee) demi keuntungan pribadi dengan menggunakan perusahaan cangkang fiktif tanpa sepengetahuan pusat..."

Aris mendengus kasar. Tawa sinis yang hambar keluar dari bibirnya yang kering. "Kambing hitam. Strategi klasik. Ayahku mengorbankan Handoko untuk menyelamatkan lehernya sendiri."

"Dengarkan kelanjutannya. Ini bagian yang menyangkut dirimu," potong Lila tajam.

Pengacara di layar itu membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap langsung ke arah kamera dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat dengan sangat sempurna. "Dan terkait dokumen yang diklaim sebagai bukti oleh seorang individu di lokasi kejadian... Kami harus menyampaikan fakta yang sangat disayangkan. Individu tersebut, yang merupakan mantan karyawan yang telah diberhentikan dua tahun lalu karena masalah kejiwaan, telah melakukan pembobolan fasilitas perusahaan. Buku catatan yang ditunjukkan di media adalah properti rahasia perusahaan yang dicuri, dan isinya diduga kuat telah dimanipulasi untuk mendiskreditkan nama baik Wiratama Group. Tim hukum kami saat ini sedang memproses laporan kepolisian atas tindak pidana pencurian pemberatan, pembocoran rahasia dagang, dan pencemaran nama baik."

Lila mematikan layar tablet itu, membiarkan layar hitamnya memantulkan wajah Aris yang kini menegang keras. Rahang pemuda itu berkedut menahan amarah yang kembali mendidih.

"Wiratama Group tidak akan diam, Aris," ucap Lila, suaranya kini sedikit merendah namun penuh urgensi. "Ayahmu adalah grandmaster dalam permainan catur korporat. Tim hukum mereka, firma PR (Public Relations) krisis mereka, para buzzer di media sosial—semuanya sudah mulai bergerak serentak. Mereka tidak lagi melawan isu korupsi. Mereka sedang mengubah narasinya. Mereka akan mencoba mengalihkan isu ini menjadi kasus pencurian internal dan balas dendam anak yang sakit hati."

Aris memandang ke arah bengkel kayu ayahnya yang kini tampak begitu kecil, reyot, dan rapuh di kejauhan. Atap seng karatan bengkel itu seolah tak ada artinya dibandingkan dengan benteng beton dan kaca milik ayahnya di ibu kota. "Mereka punya uang untuk menyewa firma hukum terbaik di negeri ini, menyuap saksi ahli, dan membeli opini publik. Aku tahu itu, Lila. Aku pernah duduk di meja rapat saat mereka merancang strategi menjijikkan seperti ini untuk menghancurkan kompetitor." Aris meremas gelas plastik di tangannya hingga kopi yang tersisa tumpah mengenai sepatunya yang kotor. "Tapi kebenaran tidak bisa dibungkam dengan kontrak kerja yang tebal dan siaran pers palsu."

"Kebenaran adalah komoditas paling mahal di pengadilan negeri ini, Aris," jawab Lila dingin, menatap mata Aris untuk memastikan pemuda itu menyadari realitasnya. "Kebenaran tanpa kekuatan hukum dan narasi yang kuat hanyalah dongeng sebelum tidur. Kau telah memutus tali darahmu sendiri secara publik hari ini. Kau mempermalukan pria paling berkuasa di sektor properti di depan jutaan pasang mata. Kau tahu apa konsekuensinya? Kau tidak lagi memiliki perlindungan nama besar. Kau bukan lagi Tuan Muda. Sekarang, di mata hukum yang sedang mereka rancang, kau hanyalah seorang mantan pewaris cacat yang dianggap gila, berkhianat, dan pencuri."

Aris menoleh, menatap Lila lekat-lekat. Angin pagi yang membawa debu menerpa wajahnya, namun ia tidak berkedip. Di balik mata cokelat gelapnya yang kelelahan, ada sepercik api yang tidak bisa dipadamkan oleh ancaman apa pun.

"Justru itulah kebebasanku, Lila," bisik Aris pelan, namun kata-katanya berbobot baja. "Aku tidak lagi harus mengukur langkahku berdasarkan ekspektasi orang lain. Aku tidak peduli mereka menyebutku gila atau pencuri. Mereka bisa mengambil sisa nama baikku di kota. Tapi mereka tidak akan pernah bisa mengambil tanah ini."

Lila menatap Aris selama beberapa detik, mencari keraguan di wajah pemuda itu, namun ia tidak menemukannya. Jurnalis investigasi itu akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk. "Polisi akan memanggilmu untuk BAP (Berita Acara Pemeriksaan) tambahan di polda provinsi besok pagi. Siapkan mentalmu. Interogasinya tidak akan ramah. Beberapa perwira tinggi di sana pasti ada yang ada di dalam kantong ayahmu. Aku akan mengatur pengacara pro-bono dari LBH (Lembaga Bantuan Hukum) untuk mendampingimu. Jangan bicara sepatah kata pun pada polisi tanpa pengacaramu. Paham?"

"Paham. Terima kasih, Lila. Untuk semuanya," jawab Aris tulus.

"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada bapak tua penjaga loker yang memberimu kunci itu. Jika dia tidak melakukan pengorbanan itu, kita semua tidak akan berdiri di sini hari ini," jawab Lila getir sebelum berbalik dan kembali masuk ke dalam van siarannya.

Mendengar nama Pak Hardi disebut, rasa bersalah kembali menohok ulu hati Aris bagai belati tumpul. Ia berdoa dalam hati agar pria tua yang baik hati itu masih bernapas di suatu tempat di rumah sakit kota.

Aris membuang gelas plastiknya ke tempat sampah terdekat, lalu mulai melangkah meninggalkan area kerumunan media, berjalan perlahan menuju bengkel kayunya. Setiap langkah yang ia ambil terasa luar biasa berat. Adrenalin yang membakarnya sejak insiden pelarian di stasiun semalam, hingga konfrontasi gila di depan buldoser pagi ini, kini telah menguap tanpa sisa. Tubuhnya mulai menagih hutang. Otot-otot punggungnya yang dihantam tongkat rotan terasa kaku dan membengkak. Lututnya gemetar setiap kali menapak di atas tanah yang tidak rata.

Ia berjalan melewati sisa-sisa barikade warga. Beberapa orang yang melihatnya lewat langsung terdiam. Mereka menatap Aris dengan tatapan campur aduk. Ada kekaguman yang jelas terlihat di mata para pemuda desa; bagi mereka, Aris adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang baru saja menghentikan kiamat. Namun, di mata para orang tua, Aris juga melihat ketakutan. Ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka baru saja menyadari bahwa pemuda pendiam yang selama dua tahun ini hanya memotong kayu di bengkel, ternyata adalah anak dari monster yang mencoba menghancurkan hidup mereka. Keberadaan Aris di desa ini kini seperti pedang bermata dua—ia adalah pelindung mereka, namun sekaligus magnet yang menarik amarah sang raksasa.

Aris memaksakan senyum tipis ke arah Kang Maman yang sedang duduk merokok sambil dikompres es batu oleh istrinya. Tukang sayur itu membalas senyumnya dan mengangguk hormat, sebuah gestur kecil yang membuat beban di pundak Aris terasa sedikit lebih ringan.

Lihat selengkapnya