Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #16

Papan Catur di Atas Serbuk Jati

Keadilan yang dibeli dengan emas hanyalah panggung sandiwara, tetapi kebenaran yang ditelanjangi di depan publik adalah satu-satunya palu hakim yang tak bisa disuap oleh siapa pun.



Pita segel pengadilan berwarna kuning terang itu berkibar ditiup angin sepoi-sepoi di pagi yang mencekam. Pita tersebut melilit pilar-pilar balai desa dan memagari area bengkel kayu layaknya garis polisi yang biasanya membentang di lokasi pembunuhan. Bedanya, yang dibunuh di sini bukanlah manusia secara fisik, melainkan ruang hidup mereka dan harapan warga desa yang selama ini menggantungkan nasib pada tanah tersebut.

Aris berdiri di balik garis kuning tersebut. Ia menatap tajam ke arah tiga mobil van berpelat merah yang perlahan meninggalkan area desa, meninggalkan kepulan debu di jalanan aspal yang rusak. Di sekelilingnya, puluhan warga desa berkumpul dengan napas memburu dan rahang mengeras. Beberapa pemuda masih menggenggam erat gagang cangkul dan celurit, otot-otot lengan mereka tegang karena menahan amarah yang nyaris meledak. Hanya karena Budi berdiri di garda depan, merentangkan tangan dan memohon dengan suara parau agar mereka menahan diri, darah tidak tertumpah pagi itu.

"Ini gila, Ris," desis Budi yang kini berjalan mendekati Aris. Keringat membasahi pelipis pemuda desa itu. "Kang Maman tidak boleh berjualan sayur dari kebunnya sendiri. Bapakku tidak boleh memotong satu ranting pun di bengkel ini. Mereka mencekik leher kita pelan-pelan. Kalau kita diam saja menunggu proses pengadilan yang katanya memakan waktu bertahun-tahun, warga desa akan mati kelaparan sebelum hakim mengetuk palu!"

"Itu memang tujuan utama ayahku, Bud," jawab Aris dingin. Matanya tidak berkedip menatap sisa debu kendaraan pengadilan. "Dia ingin mematahkan moral desa ini. Dia ingin warga kelaparan, berutang, dan akhirnya memohon padanya untuk membeli tanah ini dengan harga murah hanya agar bisa makan. Ini adalah permainan klasik yang sudah dia mainkan selama berpuluh-puluh tahun."

Aris membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam area bengkel yang kini berstatus sengketa. Ayah duduk di atas dingklik dengan tatapan kosong, tangannya mengelus permukaan palu kayunya yang kini tak lagi boleh digunakan. Pemandangan itu menusuk ulu hati Aris lebih dalam daripada luka fisik mana pun yang pernah ia terima. Ia berjalan menuju selembar papan kayu jati lebar yang tadi ia coret menggunakan arang hitam. Di atas papan itu, Aris telah menggambar sebuah skema jaringan, bukan skema mebel, melainkan struktur gurita bisnis Wiratama Group yang menjalar hingga ke akar-akar korupsi yang paling dalam.

"Lalu apa rencanamu, Bos Kota?" tanya Budi, mengikuti langkah Aris dengan langkah berat. "Kau bilang mau bakar ruang sidangnya. Pakai apa? Bensin? Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu lama menahan dendam?"

"Pakai ini," suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai tanah yang keras menjawab pertanyaan Budi dengan tegas.

Lila berjalan masuk ke dalam bengkel. Wajahnya dipenuhi peluh, namun matanya menyala terang oleh adrenalin jurnalistik. Di belakangnya, dua teknisi stasiun televisi sedang menarik kabel serat optik tebal berwarna hitam dari mobil van Satellite News Gathering yang kini diparkir tepat di sebelah bengkel kayu. Lampu-lampu LED portabel berdaya tinggi mulai dipasang di sudut-sudut bengkel, menyinari tumpukan serbuk jati dengan cahaya putih benderang yang biasanya hanya ada di studio ibu kota.

"Aku sudah menelepon produser eksekutifku," ucap Lila sambil melipat lengan kemejanya. "Ini bukan lagi sekadar berita kriminal pagi. Ini adalah skandal korporat dekade ini. Timku tidak akan pulang. Kami menjadikan bengkel kayu ini sebagai biro redaksi darurat kami. Selama antena parabola di atap mobil van kami mengarah ke satelit, suara desa ini akan disiarkan secara langsung ke seluruh penjuru negeri."

Aris mengangguk tegas. Ia menatap Lila, lalu beralih menatap Budi dan Ayah.

"Dengar," ucap Aris, suaranya kini memancarkan aura seorang CEO yang sedang memimpin rapat krisis, bukan lagi seorang tukang kayu pelarian yang selalu bersembunyi. "Tirta Wiratama sangat menguasai hukum perdata. Dia bisa membeli saksi ahli, menyuap panitera, dan menunda sidang hingga kita semua membusuk. Hukum adalah kandangnya. Kita tidak akan pernah bisa menang jika kita melawan seekor singa di dalam kandangnya sendiri."

Aris mengambil arangnya kembali, mengetukkannya pada papan jati untuk memberi penekanan pada setiap kata.

"Tirta Wiratama hanya peduli pada satu hal di dunia ini, lebih dari darah dagingnya sendiri, yaitu valuasi saham Wiratama Group dan citranya di mata investor asing," lanjut Aris, menatap lurus ke arah mereka satu per satu. "Jika kita menyerahkan seluruh isi buku hitam itu ke polisi, bukti itu bisa saja hilang di ruang barang bukti, atau disegel sebagai rahasia negara selama bertahun-tahun. Jadi, kita tidak akan menyerahkannya serentak."

Aris menoleh pada Lila. "Kau punya salinan digital di flashdisk yang kuberikan tadi, kan?"

Lihat selengkapnya