Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #17

"M"

“Keadilan terkadang menuntut kita untuk sudi berpuasa di tengah ladang gandum kita sendiri, hanya demi membuktikan kepada dunia bahwa harga diri seorang manusia tidak pernah bisa dibeli dengan sepiring nasi.”



Hari kelima.

Pita kuning bertuliskan 'Garis Batas Pengadilan - Dilarang Melintas' itu kini tidak lagi berkibar gagah seperti saat pertama kali dipasang. Debu kemarau yang pekat telah menempel pada permukaannya, mengubah warna kuning terangnya menjadi kecokelatan yang kusam. Namun, fungsi mengancam dari pita plastik tipis itu sama sekali tidak berkurang. Benda itu menjerat leher desa ini lebih kuat daripada rantai baja mana pun.

Aris duduk bersandar pada tiang utama balai desa, membiarkan terik matahari sore memanggang sebagian wajahnya. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap lurus ke arah jalan utama desa yang kini lengang bak kuburan. Tidak ada lagi lalu-lalang gerobak sayur Kang Maman. Tidak ada lagi suara tawa anak-anak yang berlarian mengejar layang-layang. Tidak ada lagi deru mesin pemotong kayu dari arah bengkel Ayah.

Keheningan ini tidak terasa damai. Keheningan ini terasa seperti tangan tak kasat mata yang sedang mencekik saluran napas mereka perlahan-lahan.

Status hukum Sengketa Hak Milik Tingkat Tinggi yang dijatuhkan oleh tim pengacara ayahnya, Tirta Wiratama, bekerja persis seperti racun yang melumpuhkan sistem saraf. Karena seluruh area desa kini berada di bawah pembekuan pengadilan (Status Quo), tidak ada satu pun kegiatan komersial atau agrikultur yang diizinkan beroperasi hingga ada putusan inkrah—sebuah proses yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Di ujung jalan desa, tepat di depan gapura bata merah, dua mobil patroli polisi dan sebuah tenda posko penjagaan telah didirikan. Mereka tidak di sana untuk menangkapi warga, melainkan untuk memastikan tidak ada satu pun barang bernilai ekonomi yang keluar dari desa ini.

Dua hari yang lalu, Kang Maman nekat mencoba membawa pikapnya yang berisi penuh panen sayur kol dan tomat ke pasar kabupaten. Polisi mencegatnya, menyita kendaraannya, dan membuang seluruh sayurannya ke selokan dengan dalih bahwa sayuran tersebut ditanam di atas "tanah sengketa", sehingga hasil panennya adalah barang bukti yang status kepemilikannya ditangguhkan. Kang Maman pulang dengan bahu merosot, menangis tanpa suara melihat tomat-tomat yang ia rawat berbulan-bulan membusuk dilindas ban truk patroli.

Kemarin, giliran toko kelontong Mak Ijah yang menjadi korban. Pemasok beras dan minyak goreng dari kota dilarang masuk melewati gapura. Alasan birokratisnya: desa ini sedang dalam status karantina sipil akibat sengketa massal. Logistik terputus total.

Aris memejamkan matanya, merasakan denyut nyeri di pelipisnya. Perang ini tidak lagi menggunakan buldoser dan preman berseragam safari. Tirta Wiratama telah mengubah medan pertempuran. Raksasa korporat itu tidak lagi menyerang secara fisik; ia sedang membiarkan warga desa ini mati kelaparan oleh hukum mereka sendiri.

"Mereka menghitung stok beras kita, Ris," suara Budi memecah lamunan Aris.

Pemuda desa itu berjalan mendekat dan duduk mengempaskan diri di sebelah Aris. Tubuh Budi tampak lebih kurus hanya dalam waktu lima hari. Rambutnya acak-acakan dan bibirnya kering pecah-pecah. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang isinya tinggal sepertiga, namun Aris menggeleng, mengisyaratkan Budi untuk meminumnya sendiri.

"Aku baru saja dari lumbung desa bersama Pak Kades," lanjut Budi, suaranya parau. Ia menenggak air itu sedikit, sekadar membasahi kerongkongannya. "Stok beras cadangan hanya cukup untuk tiga hari ke depan. Itu pun kalau jatah makan setiap keluarga dipotong menjadi satu kali sehari, dicampur dengan singkong. Susu formula untuk balita sudah habis sejak kemarin sore. Anak bayinya Mbak Narti menangis semalaman karena hanya diberi tajin."

Mendengar itu, rahang Aris mengeras hingga gigi-giginya bergemeretak. Rasa bersalah yang luar biasa masif menghantam dadanya seperti palu godam. Ia telah menarik warga desa ini ke dalam pertempuran yang jauh lebih besar dari sekadar mempertahankan sepetak tanah. Ia telah menjadikan mereka tameng manusia dalam perangnya melawan Wiratama Group.

"Ini semua karena aku, Bud," bisik Aris, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin kering. "Kalau saja aku tidak muncul dengan buku hitam itu... kalau saja aku membiarkan mereka menggusur bengkel kemarin, kalian mungkin akan kehilangan tanah, tapi setidaknya kalian mendapat uang ganti rugi fiktif itu dan bisa pindah. Sekarang? Aku menyandera kalian dalam kelaparan."

Budi menoleh tajam. Tangan kasarnya meninju lengan Aris dengan tenaga yang cukup keras hingga membuat Aris meringis.

"Jangan berani-berani bicara seperti itu, Bos Kota!" desis Budi dengan kemarahan yang tertahan. Matanya menyala garang. "Kau pikir kami ini anjing yang bisa diusir dengan dilempari tulang bekas gigitan ayahmu? Uang ganti rugi itu uang darah! Kalau kami menerimanya, kami akan hidup selamanya sebagai gelandangan yang kehilangan akar. Lebih baik lambung kami melilit hari ini di atas tanah kami sendiri, daripada kenyang tapi tidur di emperan toko orang!"

Budi menghela napas panjang, meredakan emosinya. Ia merangkul pundak Aris. "Dengar, Ris. Setiap bapak di desa ini sudah sepakat. Kami lebih baik makan singkong rebus berbulan-bulan daripada menyerah pada perusahaan ayahmu. Sekarang, tugasmu bukan untuk menangis dan menyalahkan diri sendiri. Tugasmu adalah memastikan pengorbanan lambung kami ini sepadan. Bagaimana status sahamnya?"

Mendengar pertanyaan itu, Aris kembali menemukan titik fokusnya. Ia menatap ke arah mobil van Satellite News Gathering milik stasiun televisi Lila yang masih terparkir kokoh di halaman bengkel. Mesin generator portabel van itu menderu pelan, menjadi satu-satunya mesin yang diizinkan menyala di desa ini karena berstatus sebagai "alat kelengkapan pers independen".

"Hancur lebur," jawab Aris. Sedikit senyum predator, dingin dan penuh perhitungan, mengembang di sudut bibirnya. "Selama lima hari berturut-turut, kita telah membocorkan lima halaman dari buku hitam Handoko setiap pukul satu siang. Kita membocorkan nama perusahaan cangkangnya, daftar suap ke dinas tata kota, hingga bukti penghindaran pajak."

Aris berdiri, menepuk debu dari celana jeans-nya yang semakin kedodoran. "Kemarin sore, indeks saham Wiratama Group anjlok hingga mencapai batas Auto Rejection Bawah (ARB) di bursa efek. Perdagangan saham mereka dihentikan paksa oleh otoritas bursa karena penurunannya terlalu ekstrem. Triliunan rupiah valuasi perusahaan itu menguap begitu saja ke udara kosong. Investor asing dari Singapura dan Jepang dilaporkan sedang merancang gugatan class action terhadap jajaran direksi ayahku."

Budi bersiul pelan, nada kekaguman bercampur kengerian terdengar jelas. "Gila. Kau benar-benar membakar kerajaannya dari dalam."

"Itu bahasa yang hanya dimengerti oleh ayahku, Bud. Uang dan citra. Selama ini dia merasa kebal hukum karena dia bisa membeli hakim. Tapi dia tidak bisa membeli kepanikan pasar saham. Jutaan investor ritel dan institusi yang melihat uang mereka hangus tidak akan peduli pada lobi-lobi politik Tirta Wiratama. Mereka hanya ingin kepalanya di atas nampan perak."

Aris menatap jam tangannya. Pukul tiga sore. "Dalam beberapa hari, tekanan dari dewan komisaris akan sangat mencekik. Ayahku akan dihadapkan pada dua pilihan: terus bersikeras mempertahankan proyek bodong di desa ini dan membiarkan perusahaannya bangkrut total, atau dia mundur dari jabatannya, mencabut pembekuan desa ini, dan menyerahkan dirinya ke penyidik."

"Kalau begitu kita tinggal bertahan beberapa hari lagi," ucap Budi optimis.

Namun, Aris tidak seoptimis itu. Ia tahu siapa Tirta Wiratama. Pria yang telah menguasai belantara beton ibu kota selama tiga dekade itu tidak akan jatuh tanpa memberikan perlawanan yang menghancurkan. Tirta ibarat seekor naga yang terluka; sebelum ia benar-benar mati, kibasan ekornya akan menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya.

Dan benar saja. Serangan mematikan itu datang malam itu juga, tanpa peringatan, tanpa surat resmi, dan tanpa belas kasihan.

Pukul 18.30 WIB. Langit baru saja kehilangan rona jingganya, digantikan oleh jubah malam yang kelam. Di halaman bengkel, Lila dan timnya sedang melakukan evaluasi rating siaran harian mereka di bawah cahaya lampu bohlam teras yang terang. Aris baru saja menyuap sendok pertama dari nasi putih berlauk tempe kukus ketika kejanggalan itu terjadi.

Pertama, suara dengung kulkas tua di dalam rumah tiba-tiba mati. Kedua, bohlam lampu pijar di teras bengkel berkedip dua kali, lalu padam sepenuhnya. Ketiga, suara mesin pompa air Sanyo yang biasanya mengalun dari sumur komunal di tengah desa mendadak berhenti dengan bunyi klik yang kering.

Hanya dalam hitungan detik, seluruh desa tenggelam dalam kegelapan absolut.

Satu-satunya sumber cahaya yang tersisa hanyalah lampu sorot LED portabel milik tim televisi Lila yang ditenagai oleh generator mobil van mereka. Sisanya? Gelap gulita yang menyergap seolah dunia baru saja ditelan ke dalam perut bumi.

"Apa yang terjadi? Pemadaman bergilir?" teriak Lila dari mejanya, tangannya meraba-raba mencari senter ponsel.

Aris langsung berdiri, menjatuhkan piring makannya begitu saja. Instingnya mengatakan ini bukan pemadaman biasa. Ia berlari ke arah jalan utama, matanya menyipit menembus kegelapan malam. Ia melihat ke arah perbukitan di seberang sungai, tempat di mana desa tetangga berada. Lampu-lampu rumah di desa tetangga menyala terang benderang. Tiang-tiang lampu jalan provinsi di kejauhan juga masih menyala kuning benderang.

Hanya desa mereka. Hanya sepetak tanah yang masuk dalam peta sengketa ini yang dipadamkan.

"Budi! Kang Maman!" teriak Aris membelah kepanikan warga yang mulai berhamburan keluar rumah dengan membawa senter dan lilin. "Ikut aku ke gardu induk di batas desa! Sekarang!"

Ketiga pria itu berlari kesetanan menembus jalanan aspal yang gelap gulita. Jantung Aris berpacu kencang. Ia menyadari apa yang sedang terjadi dan kengerian dari taktik ayahnya kali ini membuat darahnya mendidih.

Sesampainya mereka di batas desa, dekat gapura penjagaan, sebuah truk dengan keranjang crane milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) tampak sedang bersiap untuk pergi. Dua orang teknisi berseragam biru baru saja turun dari tiang trafo utama yang menyuplai seluruh aliran listrik ke desa.

"Hei! Berhenti!" bentak Aris. Ia menerjang maju, menghalangi pintu kemudi truk tersebut. Budi dan Kang Maman berdiri di sisi kiri dan kanan Aris dengan dada membusung, wajah mereka mengeras menahan amarah. "Apa-apaan ini?! Kenapa kalian memutus jalur trafo ke desa kami? Kami tidak ada tunggakan bayar listrik!"

Teknisi PLN yang memegang kemudi itu tampak pucat dan ketakutan. Ia menurunkan kaca jendelanya sedikit. "Maaf, Mas... sungguh, kami cuma menjalankan perintah dari pusat kabupaten. Kami tidak punya pilihan."

"Perintah apa?!" raung Kang Maman, urat di lehernya menonjol keluar. "Di rumahku ada orang tua yang sakit asma dan butuh alat uap! Kalau listrik mati, kalian mau membunuhnya?!"

Teknisi itu menelan ludah dengan susah payah, ia menyerahkan selembar kertas fotokopi dari celah jendela. Aris merebutnya kasar dan membacanya di bawah cahaya lampu depan truk.

Itu adalah surat tembusan dari Pengadilan Negeri Kabupaten, ditandatangani oleh hakim yang sama yang mengeluarkan status sengketa. Surat itu merujuk pada regulasi kuno tentang penertiban aset. Isinya dengan jelas menyatakan bahwa: "Mengingat area tersebut merupakan objek sengketa Hak Milik Tingkat Tinggi yang dibekukan, maka segala bentuk fasilitas dan utilitas negara yang disubsidi, termasuk namun tidak terbatas pada pasokan listrik dan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum, wajib dihentikan sementara hingga ada putusan hukum tetap untuk mencegah kerugian negara."

Lihat selengkapnya