Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #18

"HARI"

Matahari pagi menyinari atap seng bengkel kayu. Aris berdiri berhadapan dengan meja kerja kayunya yang besar. Ia memegang selembar amplas kasar bernomor dua ratus. Tangan kanannya bergerak maju dan mundur di atas permukaan papan jati. Serbuk kayu berwarna cokelat muda menempel pada kulit lengannya yang berkeringat. Tetesan peluh mengalir turun dari dahinya. Keringat itu jatuh ke atas permukaan kayu dan meninggalkan noda bundar gelap.

Luka robek di telapak tangannya sudah tertutup rapat. Bekas jahitan medis seminggu lalu masih terlihat merah terang di bawah kulitnya. Rasa perih tajam muncul setiap kali ia menekan papan terlalu keras. Aris memilih untuk mengabaikan rasa sakit tersebut. Ia terus menggosok serat kayu itu dengan ritme konstan. Ia ingin memastikan permukaan papan ini benar-benar rata sebelum proses perakitan.

Tepat tujuh hari telah berlalu sejak insiden malam di pelataran Stasiun Lama. Berkas laporan keuangan ganda milik Wiratama Group telah disiarkan secara langsung oleh Lila di tiga saluran televisi nasional. Polisi telah menahan empat eksekutif senior perusahaan atas tuduhan pemalsuan dokumen lahan desa. Nilai saham Wiratama Group turun secara drastis dalam hitungan jam.

Ayah melangkah masuk melewati ambang pintu bengkel. Beliau memegang secangkir kopi hitam panas. Asap mengepul tebal dari permukaan cairan pekat tersebut. Ayah meletakkan cangkir itu di ujung meja kerja. Beliau mengambil pahat besi dan palu kayu dengan kedua tangannya.

"Kamu bangun sangat awal hari ini, Aris," kata Ayah pelan. Beliau memposisikan mata pahat logam tepat di atas garis ukur pensil pada kayu. Palu kayu berayun memukul ujung atas pahat. Potongan kecil kayu jati terlempar jatuh ke atas lantai tanah.

"Saya kesulitan memejamkan mata malam tadi, Yah," jawab Aris. Ia menghentikan gerakan mengamplasnya. Ia mengambil secarik kain lap usang dan membersihkan sisa debu dari papan.

Di luar ruangan, suara mesin kendaraan terdengar mendekat. Suara tersebut sangat halus dan senyap. Mesin ini berbunyi sangat berbeda dengan suara truk diesel atau motor bebek tua milik Budi. Sebuah sedan hitam besar berhenti tepat di depan halaman rumah.

Bambang Wiratama turun dari kursi penumpang bagian belakang. Pria paruh baya itu memakai setelan jas abu-abu gelap. Kemeja putih di baliknya tersetrika sangat rapi tanpa kerutan sedikit pun. Sepatu kulit hitamnya mengilap memantulkan cahaya matahari pagi. Ia berdiri di atas jalan tanah kemarau. Serpihan debu kering langsung menempel menutupi ujung sepatu mahalnya.

Ia berjalan memasuki pekarangan depan. Dua pria berbadan tegap dan berpakaian hitam mengikutinya berdekatan. Mereka berdua berhenti serempak di batas teras halaman. Bambang terus melangkah maju menuju bengkel kayu yang terbuka.

Bambang menatap sekeliling area bengkel. Ia melihat tumpukan karung berisi serbuk gergaji, deretan perkakas yang kusam, dan atap seng yang dipenuhi karat. Pandangannya kemudian bergerak menatap wajah Aris.

"Kamu membuat perusahaan kehilangan nilai valuasi sebesar empat triliun rupiah dalam waktu lima hari," kata Bambang. Suaranya terdengar sangat datar dan stabil. Ia berdiri tepat di tengah ruangan bengkel. Jaraknya hanya berselang dua meter dari meja kerja.

Aris meletakkan amplasnya ke atas meja. Ia menatap lurus ke arah mata ayah kandungnya. "Laporan televisi itu berisi bukti riwayat transaksi keuangan asli. Anda sengaja memalsukan dokumen kepemilikan lahan desa ini untuk memuluskan proyek komersial."

"Catatan keuangan selalu bisa dikonstruksi ulang," Bambang merespons dengan cepat. Ia merogoh saku bagian dalam jas abu-abunya. Tangannya menarik keluar sebuah amplop cokelat tebal bersegel merah. Ia melemparkan amplop tersebut ke atas meja kerja kayu. Amplop itu meluncur dan berhenti tepat di samping cangkir kopi milik Ayah.

Ayah menahan ayunan palunya di udara. Beliau menatap amplop cokelat tersebut dengan kening berkerut. Beliau kemudian menatap wajah Bambang.

Lihat selengkapnya