Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #19

Akar yang Terbuka

“Tanah ini menyimpan keringat yang tidak bisa dibeli dengan lembaran saham. Saat besi-besi tua bertabrakan dengan martabat, kejujuran selalu berdiri paling akhir.”


Kabut tebal menggantung rendah di atas pepohonan pisang saat jarum jam menunjuk pukul lima pagi. Udara dingin pedesaan merayap masuk lewat celah dinding bambu, membawa aroma embun basah dan tanah bakar. Di dalam bengkel kayu, lampu bohlam lima watt berayun pelan ditiup angin. Cahaya kuningnya memantulkan bayangan panjang dua pria yang berdiri membisu di depan meja kerja.


Aris memegang amplas kain berkode angka seratus dua puluh. Jemari tangannya yang terbalut perban putih menekan permukaan kayu jati muda yang kusam. Ia menggerakkan tangannya maju mundur secara teratur. *Srek... srek... srek...* Bunyi amplas bergesekan dengan serat kayu menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan pagi. Di sebelahnya, Ayah berdiri mengasah mata pahat baja pada permukaan batu asah yang dibasahi air keruh.


"Kemarin malam Budi cerita soal stasiun lama," ucap Ayah pelan tanpa menghentikan gesekan pahatnya. Air keruh berceceran di atas pinggiran batu. "Dia bilang kau melompat ke atas motor saat dua orang berjas hitam mengejarmu dari belakang gerbong."


Aris menghentikan gerakan amplasnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih berbalut perban kusam. "Pak Hardi ditangkap malam itu, Yah. Pria tua itu menahan mereka agar kami bisa lolos membawa bukti ini."


Ayah menarik pahat bajanya dari batu asah. Beliau menyapu permukaan tajam logam itu menggunakan ibu jarinya, memeriksa ketajamannya dengan tatapan mata yang tenang. "Pria tua itu tahu nilai kejujuran. Dia mempertaruhkan sisa hidupnya karena dia tahu kau berdiri di pihak yang benar."


Ayah melangkah menuju sudut ruangan, mengambil kemeja kerja kusamnya yang tergantung di paku dinding. "Hari ini mereka datang membawa mesin besi, Ris. Budi melihat dua truk trailer dan satu unit ekskavator terparkir di pinggir jalan kecamatan sejak jam empat subuh tadi."


Aris merapatkan rahangnya. Ia meraih tas kain cokelat yang tergeletak di atas lemari perkakas. Di dalam tas itu, terdapat berkas dokumen hasil cetak ulang dari flashdisk milik Pak Hardi yang berhasil ia amankan dari loker stasiun nomor 114. Dokumen itu berisi ratusan baris data transaksi, peta wilayah kawasan industri baru, dan salinan akta pemalsuan kepemilikan tanah yang dibuat oleh anak perusahaan Wiratama Group.


"Kita tidak akan lari lagi, Yah," tegas Aris. Matanya menatap lurus ke arah pintu bengkel yang terbuka lebar.


"Siapa yang bilang kita akan lari?" sahut Ayah. Beliau mengenakan topi caping lusuhnya, lalu mengambil gergaji pemotong kayu berukuran besar yang tergantung di rak. "Bapak sudah menanam pasak kayu di tanah ini sejak tiga puluh tahun lalu. Setiap jengkal tanah di bawah kaki kita dibayar pakai keringat dan doa ibumu. Orang kota tidak bisa mencabutnya hanya dengan selembar surat bertanda tangan basah."


Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah jalan setapak depan rumah. Budi muncul dari balik rimbunan pohon bambu dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang membiru akibat goresan ranting pohon terlihat pucat disiram cahaya pagi. Sepatu boot karetnya berlapis lumpur hitam.


"Mereka sudah bergerak, Ris! Pak Tukiran dan warga RT tiga sedang menghadang mereka di pertigaan jalan raya," panggil Budi dengan suara parau. Ia memegang sebatang besi stang motor bekas di tangan kanannya. "Empat mobil SUV hitam mengawal satu ekskavator raksasa. Pria berjas abu-abu dari toko mebel itu memegang pengeras suara, menyuruh semua orang menepi."


Aris melangkah keluar dari bengkel. Udara pagi yang dingin menyapu wajahnya, namun darah di dalam tubuhnya terasa panas bergejolak. Ibu keluar dari dapur membawa sebotol air hangat dan gulungan kain perban cadangan. Tangan tua Ibu gemetar saat menyerahkan botol itu ke dalam tas Aris, namun matanya menatap Aris tanpa rasa takut sedikit pun.


"Jangan biarkan mereka merusak tempat ini, Nak," pesan Ibu lirih. Tangannya mengusap pipi Aris yang berdebu. "Ibu sudah siapkan nasi goreng di meja. Kita makan sama-sama setelah orang-orang kota itu pergi."


Aris mengangguk mantap. Ia berjalan beriringan dengan Ayah dan Budi menyusuri jalan setapak tanah merah menuju pertigaan desa. Dari jarak dua ratus meter, deru mesin diesel berkapasitas besar sudah terdengar menggetarkan udara. Asap hitam pekat membumbung tinggi dari knalpot ekskavator yang merayap lambat di atas roda rantai besinya. Suara *krek... krek... krek...* dari rantai baja yang menggilas batuan jalan raya terdengar kencang, menghancurkan permukaan aspal tipis desa.


Puluhan warga desa berdiri rapat membentuk barisan manusia di bawah gapura bambu. Pak RT, Pak Tukiran sang pemilik warung kopi, dan para petani yang masih memegang cangkul berdiri berdampingan. Mereka menolak bergeser meskipun moncong sekop baja ekskavator itu berada hanya lima meter di depan dada mereka.


Sebuah sedan hitam melaju pelan, memotong jalan di antara ekskavator dan barisan warga. Pintu belakang terbuka. Handoko melangkah keluar dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi. Sepatu kulitnya yang mengilap langsung ternoda oleh debu kering jalan desa. Dua orang staf hukum membawa map merah berdiri di belakangnya, didampingi enam pria berbadan tegap yang mengenakan seragam keamanan swasta bermotif loreng gelap.


Handoko mengangkat pengeras suara genggam ke depan mulutnya. "Dengar seluruh warga desa! Kami datang membawa Surat Penetapan Eksekusi Lahan Nomor 45 dari Pengadilan Negeri Kabupaten! Tanah seluas empat hektar di kawasan ini, termasuk bengkel kayu milik Saudara Karta, merupakan aset sah milik PT Garuda Nusantara Land, anak perusahaan Wiratama Group!"


Suara Handoko memantul keras di antara dinding-dinding rumah warga. Beberapa ibu rumah tangga yang berdiri di belakang barisan mulai menangis ketakutan melihat ukuran ekskavator yang terus mendesis mengeluarkan uap panas.


"Kami memberikan waktu lima belas menit untuk mengosongkan seluruh bangunan!" lanjut Handoko tanpa memandang wajah-wajah warga di depannya. "Barang siapa yang mencoba menghalangi tindakan hukum ini akan ditindak tegas oleh pihak berwajib berdasarkan pasal penyerobotan lahan secara ilegal!"

Lihat selengkapnya