Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #20

"Bukti"

Jam lima lebih tiga puluh menit pagi. Kabut tipis menggantung lima meter di atas pelataran Stasiun Lama. Udara dingin berhembus pelan, membawa aroma minyak pelumas dan karat besi tua. Aris berdiri kaku di depan deretan loker penyimpanan barang berbahan seng hijau yang catnya mengelupas. Tangannya yang terbalut kain perban mengusap lapisan debu tebal pada pintu loker nomor 114.


Budi berdiri tiga meter di belakang Aris. Tangannya menggenggam erat sepotong kayu jati sepanjang enam puluh sentimeter. Matanya memperhatikan setiap sudut lorong stasiun yang sepi.


Aris merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan kunci kuningan kecil berkarat yang diberikan oleh Pak Hardi. Gerakan tangannya mantap saat memasukkan anak kunci itu ke dalam lubang kunci. Ia memutar poros kunci ke arah kanan. Terdengar bunyi klik keras yang bergema di sepanjang dinding stasiun. Pintu loker berukuran tiga puluh lima kali lima puluh sentimeter itu terbuka perlahan.


Di dalam loker yang berbau lembap, sebuah map kain berwarna biru tua tergeletak di atas lembaran koran cetakan tahun 2018. Aris mengambil map tersebut. Bobotnya cukup berat. Ia melepas ikatan tali rami di bagian depan map dan membuka lipatannya.


Empat puluh dua lembar kertas tebal tersusun rapi di dalamnya. Lembaran itu berisi salinan resmi akta pendirian PT Nusa Kencana dan PT Sentosa Mahakam. Dua perusahaan tersebut terdaftar atas nama seorang pria yang bekerja sebagai sopir pribadi Tuan Wiratama. Pada lembar kedelapan belas, terdapat rincian mutasi rekening bank bernomor transaksi 8092 yang mencatat transfer uang senilai dua koma empat miliar rupiah. Uang itu dikirimkan kepada mantan kepala desa untuk memuluskan pelepasan hak atas sembilan belas hektar tanah warga. Nama bengkel kayu milik Pak Dirman tercantum tepat di baris dua puluh empat sebagai area pemukiman yang ditargetkan untuk dikosongkan sebelum tanggal dua puluh Agustus 2026.


Aris merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel berlayar retak. Ia mengambil foto setiap lembar dokumen tersebut satu per satu. Ia memastikan angka pencatatan, cap stempel basah, dan tanda tangan di bagian bawah lembaran terlihat jernih. Setelah selesai, ia mengirimkan seluruh berkas digital itu ke alamat surel pribadi milik Lila dan Rian, seorang jurnalis investigasi dari Harian Surya.


"Dokumen ini sah," kata Aris. Suaranya datar dan tegas. "Semua nomor rekening penampung dan bukti transfer tercatat utuh di sini."


Budi melangkah mendekat, menatap deretan angka pada lembar kertas di tangan Aris. "Kita harus kembali ke desa sekarang. Dua kawan saya di kecamatan mengirim pesan singkat sepuluh menit lalu. Tiga unit ekskavator Komatsu PC200 baru saja turun dari truk trailer di batas wilayah desa kita."


Aris menutup map kain biru itu, lalu memasukkannya ke balik jaket flanelnya. Ia merapatkan ritsleting hingga batas leher. "Ayo."


Motor bebek merah milik Budi membelah jalan aspal kabupaten dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam. Suara mesin dua taknya meraung di tengah udara pagi yang bersuhu delapan belas derajat Celsius. Angin dingin menampar wajah Aris, namun ia menolak untuk berpaling. Jemari tangan kanannya cengkeram erat besi pegangan belakang jok motor, sementara tangan kirinya yang terluka menekan map biru di balik jaketnya.


Pukul tujuh lebih sepuluh menit, roda motor mereka melintasi gapura kayu batas Desa Sukamaju. Asap pembakaran jerami melayang tipis di atas area persawahan di kanan dan kiri jalan.


Jalanan utama desa tersumbat tepat di depan toko kelontong milik Pak No. Tiga unit truk pengangkut alat berat berhenti berjejer, menutup seluruh badan jalan rekayasa desa. Mesin diesel truk-truk itu dibiarkan menyala, memuntahkan asap hitam ke udara. Dua belas pria berseragam hitam dengan sepatu bot tinggi berdiri berbaris di sekitar mobil SUV hitam milik Handoko.


Pak No berdiri di depan warungnya bersama lima warga desa. Wajah mereka tegang. Pak No memegang erat kayu penutup warungnya, menatap rombongan pria berjas itu dengan pandangan tajam.


Budi mematikan mesin motor lima belas meter di belakang truk trailer terakhir. Aris langsung turun dari jok belakang. Ia menyapu pandangannya ke arah gerbang bambu rumah Pak Dirman.


Handoko berdiri dua langkah dari pintu pagar. Pria itu memegang selembar kertas tebal berstempel merah. Di samping kirinya, dua pria berbadan tegap berdiri menjejakkan kaki, masing-masing memegang linggis besi sepanjang satu meter.


Pak Dirman berdiri di garis terdepan halaman rumahnya. Pria tua itu memakai kaus oblong putih yang sudah menguning di bagian bahu dan celana kain hitam. Tangan kanannya memegang erat palu kayu pemahat yang biasa ia gunakan di bengkel. Ibu berdiri tepat di sampingnya, memegang sebilah pisau dapur kecil dan dua genggam pasir kering.


"Bapak tidak memiliki dasar hukum untuk bertahan di sini," kata Handoko. Suaranya lantang, mengalahkan deru mesin truk di belakangnya. "Sertifikat tanah kawasan ini sudah beralih kepemilikan atas nama PT Nusa Kencana sejak enam bulan lalu. Kami datang membawa surat penetapan pengosongan resmi dari pengadilan negeri."


Pak Dirman tidak bergeser satu sentimeter pun dari posisinya. "Saya tidak pernah menjual tanah ini kepada siapa pun. Tanah ini milik keluarga saya sejak tahun 1978. Saya memegang Sertifikat Hak Milik Nomor 412 yang dikeluarkan oleh kantor pertanahan kabupaten."


Handoko merapikan lengan jas abu-abunya. Ia melangkah satu tindak mendekat. "Sertifikat tua milik Bapak sudah tidak berlaku sejak penetapan pembebasan lahan industri. Kami membawa uang ganti rugi sebesar lima puluh juta rupiah di dalam tas ini. Ambil uangnya, kemasi barang-barang Bapak dalam waktu sepuluh menit, atau tiga unit ekskavator di belakang saya yang akan meratakan bengkel ini."


Lihat selengkapnya