Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #21

akhirnya

“Besi tua mungkin berkarat oleh waktu, tetapi tekad yang ditempa rasa sayang tidak akan pernah patah di hadapan gertakan.”


Pria berbekas luka di rahang itu melangkah maju. Sepatu kulitnya menekan tanah kerikil dengan bunyi berderit kaku. Cahaya lampu merkuri di atas pagar beton memantulkan bayangan tubuhnya yang tinggi besar, menutupi tubuh Aris yang tersudut di dinding.


"Sudah selesai larinya, Tuan Muda?" tanya pria itu. Suaranya serak, berat, dan dingin. Ia merogoh balik jas hitamnya, menarik keluar sebatang besi lipat dengan ketukan logam yang tajam.


Aris menyerap udara malam banyak-banyak ke dalam paru-parunya. Rusuk kirinya berdenyut hebat. Telapak tangannya yang robek meneteskan darah ke atas tanah kerikil. Jemari kanannya mengepal rapat, menekan kunci kuningan bernomor 114 hingga pinggiran logam itu melukai kulit jarinya sendiri. Ia menatap dua pria di depannya tanpa berkedip.


Tepat saat pria berbekas luka itu mengangkat lengan untuk mengayunkan besi lipatnya, sebuah deru mesin memecah keheningan pelataran stasiun.


Breeeeem... teng-teng-teng-teng!


Suara mesin dua tak meraung kencang dari arah gang samping. Lampu depan sepeda motor bebek tua menyala terang, membelah kegelapan malam, dan mengarah lurus ke posisi mereka. Ban belakang sepeda motor itu selip di atas kerikil basah, melempar serpihan batu ke segala arah.


"Aris! Naik!" teriak Budi dari atas kemudi.


Budi memutar selongsong gas hingga maksimal. Asap knalpot mengepul tebal, memenuhi udara di sekitar pagar beton dengan bau oli samping yang pekat. Sepeda motor itu meluncur menghantam pria berjas hitam kedua dari samping. Benturan keras terdengar saat pelindung lumpur depan motor menabrak paha pria tersebut hingga ia jatuh terlempar ke gundukan pasir batu bara.


Pria berbekas luka mengalihkan perhatiannya ke arah Budi. Aris tidak membuang detik yang berharga itu. Dengan sisa tenaga di kaki kirinya, Aris mencengkeram segenggam kerikil tajam dari bawah, lalu melemparnya tepat ke wajah pria berbekas luka tersebut.


"Argh!" Pria itu mengerang, menutup matanya dengan sebelah tangan.


Aris meloncat ke jok belakang sepeda motor Budi. "Jalan, Bud! Cepat jalan!"


Budi memasukkan gigi dengan entakan kaki yang keras. Roda belakang menyambar tanah, melemparkan batu-batu kecil ke arah pria yang memegang besi lipat. Sepeda motor bebek tua itu melesat keluar dari pelataran parkir Stasiun Lama, meninggalkan asap tebal dan teriakan amarah para pengejar di bawah sorot lampu merkuri yang pucat.


Angin malam menghantam wajah Aris tanpa ampun saat sepeda motor bebek Budi membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu toko yang memudar bergulir cepat di samping mereka. Budi terus memutar gas, membawa kendaraan tua itu melintasi gang-gang sempit untuk menghilangkan jejak dari kemungkinan kejaran kendaraan lain.


"Kamu tidak apa-apa, Ris?" teriak Budi di atas raungan mesin motor. Pandangannya tetap fokus pada jalanan aspal yang berlubang.


"Aku hidup," balas Aris pendek. Tangannya memegangi besi pegangan belakang jok, menahan guncangan keras setiap kali roda motor menghantam cekungan jalan. "Kita harus berhenti di area penitipan barang Stasiun Lama bagian depan. Aku butuh mengambil sesuatu sebelum tempat ini dikepung total."


Budi menepi di balik jajaran warung makan remang-remang yang sudah tutup, sekitar dua ratus meter dari pintu masuk utama stasiun. Aris turun dengan langkah agak pincang. Luka robek di telapak tangannya terasa perih tersengat angin, tetapi ia memaksakan kakinya bergerak cepat.


Dengan menyamar di antara kerumunan penumpang bus malam yang berlalu-lalang di trotoar luar, Aris menyusup ke lorong loker penitipan barang mandiri yang terletak di samping loket tiket lama. Tempat itu sepi, hanya diterangi sebatang lampu neon pendek yang berkedip-kedip.


Aris mencari nomor loker 114. Tangannya yang gemetar memasukkan kunci kuningan kecil pemberian Pak Hardi ke dalam lubang kunci yang kusam.


Klek.


Pintu besi berukuran tiga puluh sentimeter itu terbuka perlahan. Di dalam celah loker yang berdebu, tergeletak sebuah map dokumen tebal berbahan kulit sintetis warna cokelat tua dan sebuah kaset pita perekam suara. Aris meraup kedua benda itu, memasukkannya ke balik jaket flanelnya, lalu menutup kembali pintu loker.


Saat Aris kembali ke tempat Budi menunggu, ia mengajak temannya itu masuk ke dalam gang paling gelap di balik pasar beras kota. Mereka duduk di atas dua buah peti kayu bekas buah.


"Apa isi map itu, Ris?" tanya Budi pelan. Matanya memperhatikan gerak-gerik Aris yang membuka tali pengikat map dengan hati-hati.


Di bawah pendar lampu jalan yang kekuningan, Aris membuka lembar demi lembar kertas di dalamnya. Isinya bukan sekadar dokumen biasa. Ada cetakan surat bukti kepemilikan tanah ganda, risalah rapat rahasia jajaran direksi Wiratama Group, serta daftar pembayaran dana kepada beberapa oknum pejabat daerah. Nama desa mereka tercantum jelas di lima halaman berbeda.


Satu dokumen khusus membuat rahang Aris mengeras. Dokumen itu berisi surat kuasa penyitaan tanah bengkel kayu milik Ayah atas klaim tunggakan utang bahan baku yang telah dipalsukan nilainya menjadi tiga ratus juta rupiah. Stempel dan tanda tangan di atas kertas itu dibuat atas nama perusahaan cangkang yang dikendalikan penuh oleh Bambang Wiratama.


"Ini bukan sekadar usaha membeli tanah," kata Aris. Suaranya dingin, bergetar oleh amarah yang tertahan. "Mereka merancang skenario agar bengkel Ayah bangkrut secara paksa, lalu menyita tanahnya lewat hukum kotor ini minggu depan."


Budi mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Orang-orang kaya itu... mereka pikir bisa membeli dan mengusir kita begitu saja?"


"Tidak kali ini," jawab Aris tegas. Ia merapikan kembali kertas-kertas tersebut ke dalam map. "Kita punya bukti sah. Tapi kalau kita menyerahkan ini ke kantor polisi lokal malam ini, orang-orang ayahku akan mencegatnya di jalan. Kita butuh saluran yang langsung menyiarkan ini ke masyarakat luas."

Lihat selengkapnya