“Tanah ini menyimpan akar pepohonan sekaligus tetes darah dan martabat yang tak terbeli oleh lembaran uang bertinta emas.”
Kabut tebal menggantung di atas dedaunan pisang di tepi Desa Karangjati saat jarum jam menunjuk pukul lima pagi. Udara dingin pedesaan mengusung aroma basah embun, asap kayu bakar dari tungku tetangga, dan wangi pekat tanah merah. Di dalam bengkel kayu milik Ayah, tiga lampu bohlam lima watt berpendar kekuningan, memantulkan bayangan empat manusia yang berdiri mengelilingi meja kerja utama.
Aris memegang cangkir seng berisi teh jahe hangat menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya terbalut perban putih bersih yang baru dipasang Ibu satu jam lalu. Rasa perih pada luka robek di telapak tangannya masih berdenyut ritmis, menyeimbangi detak jantungnya yang terpacu cepat. Di sampingnya, Budi sibuk mengencangkan baut pada dongkrak hidrolik tua. Sementara itu, Ayah berdiri tenang di sudut meja, jemari kasarnya perlahan mengelus permukaan sandaran kursi jati buatan Aris yang belum selesai diamplas.
"Mereka datang sebelum matahari berada di atas puncak pohon kelapa," kata Budi tanpa menoleh. Suaranya serak. Pemuda itu sudah menyebarkan pesan kepada seluruh warga RT 04 sejak pukul tiga dini hari. "Pak RT bilang tiga mobil SUV hitam dan satu truk trailer yang mengangkut alat berat sudah terlihat berhenti di warung batas kecamatan."
Ayah mengambil napas panjang. Bau serbuk jati yang menusuk hidung memenuhi paru-parunya. Beliau menatap Aris lekat-lekat, menyimak pantulan pendar lampu di mata anak angkatnya. Tidak ada rasa gentar di sana. Yang tersisa hanyalah ketenangan dingin dari seorang pria yang telah memilih tempatnya berdiri.
"Kamu yakin dengan kertas-kertas dari stasiun itu, Ris?" tanya Ayah pelan. Suaranya bergema halus di antara tumpukan balok jati.
Aris meletakkan cangkir sengnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi ketukan pelan. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kilat sinar dari layar ponsel retaknya. "Lila sudah menerima seluruh pindaian 312 lembar dokumen dari loker 114 tepat pukul empat pagi. Tim hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Surabaya dan wartawan lima media nasional sudah berada di jalan raya menuju desa ini. Pukul enam tepat, berita utama akan tayang secara serentak."
Suara raung mesin berkapasitas besar mendadak memecah keheningan desa dari jarak empat ratus meter.
Dinding anyaman bambu bengkel bergetar pelan. Bunyi derak roda rantai baja alat berat yang menggilas batu kerikil jalanan desa terdengar semakin mendekat, diiringi suara klakson nyaring yang membuang kedamaian pagi. Burung-burung gereja terbang berhamburan dari atap seng.
Ibu melangkah keluar dari pintu dapur, membawa nampan berisi tiga piring pisang goreng hangat. Wajah tuanya pucat, namun jemarinya tidak gemetar saat meletakkan piring di atas meja kerja. Ia menatap Ayah, lalu beralih menatap Aris dan Budi.
"Jangan ada yang mengangkat senjata," kata Ibu tegas. Suaranya tenang, mengandung wibawa seorang perempuan yang telah puluhan tahun menahan pahitnya hidup. "Kita tidak sedang melawan perampok jalanan. Kita sedang mempertahankan rumah. Hadapi mereka dengan kepala tegak."
Aris mengangguk mantap. Ia membetulkan posisi kain bebat di tangan kirinya, lalu berjalan melangkah keluar dari naungan atap bengkel menuju halaman depan.
Di luar, puluhan warga desa telah berkumpul. Pak Mamat membawa pahat kayunya, Pak No datang bersama tiga tetangga dari warung kelontong, dan belasan perajin kayu muda berdiri berjajar di sepanjang pagar bambu. Mereka tidak membawa bambu runcing atau batu. Mereka membawa martabat perajin: pakaian kerja yang ternoda getah kayu, wajah-wajah jujur yang terbakar matahari, serta tangan-tangan kasar yang selama puluhan tahun mengolah kayu jati menjadi penghidupan.
Konvoi kendaraan Wiratama Group berhenti tepat di ujung jalan setapak depan halaman rumah.
Dua SUV hitam bermerek mahal memuntahkan hawa panas dari knalpotnya. Di belakang kendaraan tersebut, sebuah ekskavator warna kuning mencolok duduk angkuh di atas bak truk trailer besar. Mesin dieselnya tetap dibiarkan menyala meraung-raung, memuntahkan asap hitam pekat yang mengotori udara bersih pedesaan.
Pintu SUV depan terbuka. Handoko melangkah turun terlebih dahulu. Pria berjas abu-abu itu mengenakan sepatu kulit mengilap yang langsung teroles debu tanah merah saat kakinya menyentuh bumi desa. Di belakangnya, empat pria berbadan tegap berseragam serba hitam mengawal ketat, disusul oleh seorang juru sita pengadilan daerah berkemeja cokelat yang memegang map plastik tebal.
Handoko berjalan perlahan, menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan barisan warga. Ia menyapu pandangannya dengan raut wajah meremehkan, mengamati dinding bambu rumah Ayah dan tumpukan serutan kayu di halaman.
"Kang Karta," sapa Handoko, suaranya keras membelah suara raung mesin ekskavator. Ia tidak memandang Ayah, melainkan menatap lurus ke arah Aris. "Saya membawa surat penetapan eksekusi fisik dari Pengadilan Negeri. Lahan seluas 1.200 meter persegi ini, termasuk bengkel kayu dan rumah ini, telah terdaftar secara sah di bawah kepemilikan anak perusahaan Wiratama Group berdasarkan sertifikat hak milik nomor 842."
Juru sita berkemeja cokelat melangkah maju satu tingkat, membuka map plastiknya, dan membacakan lembaran kertas berstempel merah dengan nada kaku. "Berdasarkan amar keputusan, pihak tergugat diberikan waktu 120 menit untuk mengosongkan seluruh bangunan. Apabila dalam tenggat waktu tersebut lokasi tidak dikosongkan, tim penertiban akan meratakan seluruh struktur di atas tanah ini."
Warga desa mulai berbisik-bisik tegang. Pak RT melangkah maju, hendak memprotes, namun Ayah mengangkat tangan kanannya, meminta semua orang tetap tenang.