Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #23

Kunci di Antara Besi Tua

“Besi berkarat menyimpan bukti tanpa kompromi. Di atas kertas bertinta hitam ini, angka-angka tertulis untuk menghentikan langkah mereka.”



Pukul 02.15 WIB. Jarum jam dinding di warung kopi Pantura berdetak pelan. Budi memukul permukaan meja kayu menggunakan telapak tangan kanannya. Cangkir kopi kaleng di depannya bergetar. Air hitam di dalam cangkir meloncat keluar, membasahi papan kayu yang berdebu.


Budi berdiri. Matanya memerah.

"Kita kembali ke stasiun sekarang, Ris," kata Budi. Suaranya rendah. Rahagnya menegang kaku.


Aris menatap perban putih yang membebat telapak tangan kirinya. Darah kering membentuk noda cokelat berdiameter tiga sentimeter di atas kain perban itu. Rasa nyeri menusuk otot jarinya setiap kali ia mencoba mengepalkan tangan.


"Loker 114 ada di lorong timur," jawab Aris. Ia merogoh saku jaketnya. Jemari tangan kanannya menyentuh permukaan kunci kuningan dingin bernomor 114. "Area itu dijaga dua orang berjas hitam. Kita tidak bisa menembus mereka dari pintu depan."


Budi menarik napas panjang. Ia merapikan jaket kulitnya. "Kereta barang jurusan Surabaya melintas pukul 03.00 WIB. Suara mesinnya bisa menyamarkan langkah kita."


Jika Anda berdiri di samping dua pemuda ini pada pukul 02.20 WIB, Anda akan melihat bagaimana keringat dingin terus mengucur di pelipis mereka. Pipi Budi pucat, sementara jari-jari Aris bergetar menahan dingin. Ketakutan itu nyata pada denyut nadi di leher mereka. Namun tekad untuk melindungi tanah bengkel Ayah Karta menahan langkah mereka untuk tidak mundur. milik Anda mungkin sebuah kenyamanan rumah dengan pintu kayu yang terkunci aman dari bahaya, tetapi bagi mereka, malam ini adalah pertaruhan terakhir.


Mereka naik ke atas motor bebek tua milik Budi pada pukul 02.35 WIB. Budi tidak menyalakan lampu utama. Ia membiarkan motor meluncur dalam kegelapan menyusuri jalan lingkar luar sejauh delapan kilometer.


Pukul 02.55 WIB, mereka berhenti di area semak belukar, 300 meter di sebelah timur komplek Stasiun Lama. Bau minyak pelumas bekas dan rumput basah memenuhi udara malam. Udara dingin bersuhu 21 derajat Celsius menembus serat kain jaket Aris.


Budi mencabut kunci kontak motor. Ia mengambil sepotong besi beton sepanjang 40 sentimeter dari dalam bagasi motor.


"Aku pancing dua orang itu ke arah peron tiga," bisik Budi. Ia menunjuk area tumpukan rel tua dengan ujung besi beton. "Kau punya waktu lima menit untuk membuka loker 114."


Aris mengangguk. Ia mengepalkan kunci kuningan di dalam saku.


Tepat pukul 03.00 WIB, klakson lokomotif kereta barang meraung keras dari arah barat. Getaran roda baja menghantam rel. Tanah di bawah kaki Aris berguncang pelan.


Budi melempar sepotong besi beton ke arah drum seng di peron tiga. Besi itu menghantam kaleng seng dengan benturan keras. Suara itu mengalahkan gemuruh mesin kereta api.


Dua sinar lampu senter LED menyala seketika di lorong utama. Dua pasang langkah kaki bersepatu kulit berlari kencang menuju sumber suara di peron tiga.


Aris bergerak.


Ia melompati pagar tanaman liar. Sepatu ketsnya mendarat di atas kerikil tanpa suara. Ia berlari membungkuk menyusuri dinding bata merah bagian luar.


Pintu belakang lorong bagasi tua tidak terkunci. Aris mendorong daun pintu kayu yang lapuk. Engselnya berderit pelan. Bau debu tebal dan kertas lembap menyengat hidungnya.


Lorong bagasi itu gelap. Hanya ada satu lampu neon berdaya 10 watt yang berkedip di ujung plafon. Di sepanjang dinding sebelah kiri, berjejer belasan loker besi berwarna hijau lumut yang penuh noda karat.


Aris menyusuri deretan loker tersebut. Tangannya meraba plat besi berangka timbul.


Lihat selengkapnya