Bila Anda berdiri di atas tanah merah itu pagi ini, Anda akan membaui aroma keringat dan serbuk jati yang pekat. Tanah milik Anda mungkin bukan empat ratus lima puluh meter persegi tempat bengkel kayu ini berdiri, namun Anda akan paham rasa perih saat rumah milik Anda diancam rubuh.
Lantai papan warung Pantura bergetar saat Budi menegakkan tubuhnya. Pria itu berdiri kaku. Meja plastik merah bergeser dua sentimeter, menimbulkan bunyi decit yang kasar di atas semen berdebu.
Napas Budi memburu. Dua tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Empat ratus lima puluh meter persegi," ucap Budi. Suaranya serak, rendah, dan bergetar. "Tanah bengkel Ayah."
Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku dalam jaketnya yang robek. Jemarinya yang terbalut kain kasa bernoda darah mengeluarkan sebatang kunci kuningan. Kunci itu berukuran lima sentimeter, terasa dingin, dengan ukiran angka 114 yang mulai terkikis di pangkalnya.
Aris meletakkan kunci itu di atas meja. Bunyi ketukan besi bertemu plastik terdengar nyaring di antara deru mesin truk tronton di luar warung.
"Pak Hardi memberikan kunci ini sebelum orang-orang ayahku merobohkannya ke tanah," kata Aris. Ia menatap lurus ke dalam mata Budi. "Loker nomor 114 di Stasiun Lama. Di dalam sana ada berkas asli pemalsuan akta tanah desa kita. Wiratama Group memakai tiga perusahaan cangkang untuk menguasai jalur ini."
Budi menunduk. Pandangannya terkunci pada angka 114 di atas kunci kuningan tersebut. Rahangnya menegang keras. Otot-otot di pipinya berkedut cepat.
"Kita pulang sekarang," kata Budi. Ia menyambar kunci kontak sepeda motornya dari atas meja.
"Jam berapa sekarang?" tanya Aris.
Budi melirik jam dinding berbingkai plastik hitam yang tergantung miring di atas etalase warung. Jarum pendek menunjuk angka dua, jarum panjang tepat di angka empat.
"Pukul 02.20 WIB," jawab Budi.
"Kita punya waktu empat jam sebelum matahari terbit," Aris merapatkan balutan kain di tangan kirinya. Rasa perih masih menyengat kulitnya yang terkelupas, namun ia mengabaikannya. "Utusan ayahku pasti bergerak ke desa pagi ini. Mereka tahu aku berhasil lolos dari stasiun."
Mereka melangkah keluar dari warung bambu itu tanpa menoleh lagi.
Udara malam Jalur Pantura menghantam dada mereka dengan suhu enam belas derajat Celsius. Budi menaiki sepeda motor Honda Bebek 125 cc miliknya. Ia menekan tuas kick starter dengan hentakan kaki yang kuat. Mesin dua tak itu melolong nyaring, memuntahkan asap tipis ke udara malam yang gelap.
Aris naik ke jok belakang. Tangan kanannya mencengkeram besi pegangan di ekor motor, sementara tangan kirinya meremas kunci kuningan nomor 114 di dalam saku.
Motor itu melesat membelah aspal hitam. Kecepatan jarum spidometer bertahan kaku di angka 65 kilometer per jam. Angin malam menusuk pori-pori wajah Aris tanpa ampun, menerbangkan debu-debu kering yang tersisa di rambutnya. Di kanan dan kiri jalan, pepohonan jati berdiri kaku seperti deretan prajurit gelap yang membisu.
Rasa sakit di rusuk kiri Aris kembali berdenyut tumpul. Setiap kali roda belakang motor menghantam lubang aspal, benturan itu merambat ke tulang punggungnya. Ia menggertakkan gigi. Ia menolak menyerah pada rasa sakit fisiknya.
Tepat pukul 04.30 WIB, roda depan sepeda motor Budi memotong jalan tanah berkerikil di batas desa.
Kabut tebal menggantung rendah di atas pekarangan. Bau tanah basah dan asap kayu bakar menyambut hidung mereka. Desa masih tertidur lelap, namun dari arah halaman belakang rumah anyaman bambu itu, cahaya kuning remang dari lampu minyak tanah sudah menyala terang.
Srek... srek... srek...
Suara gesekan besi pada batu asah terdengar ritmis.
Budi mematikan mesin motor lima puluh meter sebelum pagar bambu. Mereka berjalan kaki menembus kegelapan fajar, melangkah pelan di atas rumput gajah yang basah oleh embun.
Di sudut bengkel kayu, Ayah duduk di atas bangku dingklik buatan Aris. Pria tua itu mengenakan kaus oblong putih yang sudah menguning di bagian bahu dan sarung kotak-kotak lusuh. Tangannya yang dipenuhi kapalan tebal sedang menggerakkan sebilah pahat baja berukuran dua inci di atas permukaan batu asah yang basah.
Ayah berhenti mengasah. Beliau tidak mendongak, namun telinganya yang tajam sudah mengenali langkah kaki kedua pemuda itu.
"Kalian kembali," kata Ayah. Suaranya berat, tenang, namun menyisakan gema kelelahan yang dalam.
Ayah meletakkan pahatnya di atas meja kerja. Beliau menegakkan punggung, lalu memutar tubuhnya perlahan. Mata tua Ayah tertuju pada tangan kiri Aris yang terbungkus kain kasa bernoda merah tua.
Ibu keluar dari pintu dapur membawa seceret air panas dan dua cangkir seng. Wanita tua itu menghentikan langkahnya di ambang pintu. Matanya berkaca-kaca saat melihat Aris dan Budi berdiri di depannya dengan baju robek dan kotor oleh lumpur kering.
"Aris... Budi..." Ibu meletakkan ceret ke atas papan dengan tangan gemetar.