“Bulan Juli kembali. Batas antara bertambah dan berkurangnya masa kehidupanku dimulai dari sini, dari bulan Juli. Sebab itu aku menyukainya sebagai penyekat sebuah halaman lama dengan yang baru.” Ia menutup buku catatannya setelah mengingatkan diri sendiri bahwa bulan kelahirannya telah tiba.
Hujan membubarkan barisan mahasiswa baru yang sedang dijemur di sebuah lapangan hampir seharian dengan kostum rompi dari karung gandum lengkap dengan topi dari bola yang dibelah dua dan kalung papan nama dari kertas karton dan tali rafia yang dirumbai. Ya, memang beberapa menit yang lalu terik matahari masih membakar kulit mereka, tetapi tiba-tiba saja mendung datang, disusul hujan turun sangat deras tanpa memberi aba-aba sedikit pun sebelumnya. Seketika mereka berhamburan lari kocar-kacir menuju gedung kampus menyelamatkan diri dan atribut yang mereka kenakan dari hujan yang telah membasahi tubuh mereka dalam sekejap. Keadaan menegangkan dari seorang senior yang sedang memberi arahan orientasi dengan suara lantang dan tegas berubah menjadi riuh teriakan: Hujan... Hujan... Lari...
Walau begitu, tidak demikian dengan sang senior yang berjalan santai sambil menutup kepalanya dengan jas almamater kebanggaan berwarna biru langit. “Dari tadi pagi panas, hujan memang suka mempermainkanku, tapi tetap saja aku menyukainya.” Katanya pada diri sendiri. Ia berjalan dengan santai menikmati hujan sambil menghirup aroma tanah basah favoritnya yang baru saja berhembus. Celananya sudah basah sampai ke dalam, begitu juga dengan jas almamater yang tak bisa benar-benar meneduhkan kepalanya. Rambut lurus belah tengahnya juga sudah lepek, seakan air baru saja disiramkan tepat di atas kepalanya. Namun tetap saja, ia tak memedulikan hal itu hanya karena ia menyukai hujan. Pemuda dengan tinggi badan seratus tujuh puluh lima sentimeter tersebut berjalan berlawanan arah dengan para mahasiswa baru berlarian digiring hujan. Daripada menuju gedung kampus berdesakan dengan orang-orang, ia memilih pergi berteduh di sebuah gazebo yang menjadi tempat favoritnya untuk menyendiri di ujung lapangan. Setelah mengibas-ngibaskan jas almamater dan membentangkannya di sebuah sandaran kursi, membetulkan rambutnya dan meletakkan tasnya di meja, ia melihat ke arah pohon besar di samping gazebo, melempar senyuman sebagai tanda sapaan. “Sudah bulan Juli, bukan? Mengapa masih hujan? Apa kau suka?” Ujarnya pada pohon flamboyan yang sudah hidup puluhan tahun di sana, namun hampir saja kekeringan semenjak beberapa minggu lalu disengat terik matahari. Segera ia kembali ke meja lalu mengeluarkan bukunya yang sebagian sudah basah akibat air hujan yang merembes ke dalam tas. Menarik kursi, mengambil pena dan duduk seorang diri.
“Hujan membuat gaduh telingaku, namun aku tetap menyukainya. Sendiri membuat sunyi isi kepalaku, namun aku tak pernah menginginkannya. Dapatkah kau berteman denganku lebih lama? Aku butuh keseimbangan untuk terus hidup di antara kegaduhan dan kesunyian yang membuatku hampir gila.” Tulisnya di buku catatan tebal setengah penuh yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Sudah hampir dua jam hujan tak kunjung reda. Bayung masih duduk di tempat yang sama dengan goresan pena yang terus memenuhi setiap halaman di bukunya. Iya, namanya Lembayung. Ia akrab disapa Bayung oleh teman-teman dekatnya. Seorang mahasiswa semester lima yang sedang sibuk mengurusi penerimaan mahasiswa baru karena ia telah ditunjuk sebagai penanggung jawab orientasi mahasiswa baru untuk Jurusan Teknik Mesin dikarenakan ia paling aktif dalam mengikuti organisasi mahasiswa. Walaupun aktif berorganisasi, Bayung tetap berprestasi di bidang akademik. Indeks prestasinya tak pernah kurang dari tiga koma lima. Karya tulisnya selalu diterbitkan di majalah dinding kampus, terbit di koran dan majalah remaja, juga sering ia kirimkan ke radio. Beberapa kali memenangkan lomba karya tulis memberi nilai tambah bagi ia untuk mendapat julukan pria paling sempurna di kampus. Bahkan dari semua angkatan pada saat itu. Semua telah mengakui ketampanan seorang Bayung kecuali satu orang, dirinya sendiri. Bahkan ia begitu berat hati untuk bercermin dan melihat wajahnya sendiri karena takut muncul rasa sombong pada dirinya. Begitu ia sering bergurau dengan teman-temannya.
Hari sudah makin sore. Hujan menyisakan gerimis yang tak membuat seseorang yang melintas basah. Bayung mulai tersadar dari konsentrasi menulisnya karena tak mendengar lagi dera suara hujan. Ia bergegas memasukkan buku dan beranjak dari gazebo. Sekali lagi ia memandang ke atas, ke arah pohon flamboyan besar yang telah kenyang menyerap begitu banyak air hujan setelah berminggu-minggu dahaga. “Kau harus tetap hidup di sana untuk melindungi kami dari kepanasan saat jam olahraga siang bolong. Paling tidak, sampai aku lulus.” Ujarnya pada pohon itu dengan senyuman tipis dari bibirnya. Setelah melewati rimbunnya daun-daun, Bayung kembali menegakkan kepala. Gerimis kecil masih menetes di wajah tampannya. “Masih gerimis, tak ada senja lagi hari ini.” Mata kanannya mengerit menghalau tetesan air hujan.
Bayung berjalan di tengah lorong ruang kelas menuju ruang KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Salah satu organisasi besar di kampusnya yang menjadi wadah bagi para penulis untuk menerbitkan karya tulisnya di majalah dinding atau yang lebih familiar dengan sebutan mading. Ia datang untuk menemui seseorang. Sebenarnya, ia berniat menyerahkan tulisannya sebagai bahan mading yang sudah ia kerjakan selama hujan turun. Sampailah di depan mading kampus yang terdiri dari tiga buah papan panjang berisi penuh informasi perkuliahan, promosi kegiatan kampus, juga karya-karya sastra mahasiswa seperti cerpen, anekdot, pantun, puisi, cerbung dan lain-lain. Ia menghentikan langkahnya sebentar lalu melirik ke arah tulisan-tulisannya sebelum liburan semester yang masih menempel di sana. “Masih sama.” Katanya pada diri sendiri. Setelah itu, ia segera membuka pintu, lalu mengambil buku dari dalam tasnya dan menyobek beberapa halaman yang akan ia serahkan.
“Ini bahan mading untuk minggu depan dariku.” Bayung menyodorkan beberapa lembar kertas kepada seorang gadis.
“Basi. Kita butuh sesuatu yang baru.” Jawab seorang gadis yang sudah tinggal dalam organisasi ini selama ia kuliah. Semua orang juga mengenal gadis yang biasa disapa YK itu. Nama aslinya Yulia Kurniasih. Ia sendiri yang membuat akronim namanya menjadi YK. Mahasiswa yang juga semester lima Jurusan Seni dan Budaya tersebut bisa dibilang yang paling dekat dengan Bayung karena keduanya memiliki hobi yang sama, yaitu menulis puisi, cerpen, kata-kata mutiara, dan karya sastra lainnya untuk diterbitkan. Memang dandanannya sangat tomboi dengan rambut pendek, celana cut-bray, dan kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khasnya membuat orang tak percaya bahwa YK sangat piawai menulis sajak, melukis, bermain alat musik, bahkan kadang-kadang nembang lagu Jawa serta bermain seni peran di kampusnya atau di acara kesenian kota.
“Sesuatu yang baru, bagaimana maksud kamu?” Tanya Bayung pada YK begitu dingin. Dahinya mengerut, membuat tatapan sinis tidak suka terhadap kata-kata YK yang mengatakan tulisannya basi.
“Sudah beberapa minggu tulisan kamu selalu tentang patah hati, terluka, sakit, dan semacamnya. Kita butuh sesuatu yang membuat pembaca semangat. Sekarang sudah masuk awal semester baru. Semua orang sedang butuh motivasi dan penyemangat untuk menjalani hal-hal baru, Yung.” YK membalas perkataan Bayung dengan suara keras ciri khasnya. “Semua orang tahu kamu sedang patah hati, Yung. Tapi tidak semua orang ingin membaca puisi atau cerita yang menyedihkan setiap minggu.” Ia melanjutkan ceramahnya, beranjak dari tempat duduk, kemudian mengambil kertas-kertas milik Bayung yang berisi puisi patah hati dan menunjukkan lagi kepada Bayung. “Ini, semua menyedihkan... Untuk sementara waktu, aku akan menerbitkan tulisan-tulisan dari seorang pendengar radio. Dia begitu sering mengirim tulisannya sampai aku bingung yang mana lagi yang harus aku baca. Dan juga tulisannya banyak memberi motivasi tentang kehidupan. Sajak-sajaknya indah. Setelah emosi kamu kembali. Kita akan menerbitkan tulisan kamu lagi sambil menunggu yang lain bergabung.” YK terus bicara kepada Bayung. Sementara Bayung bisa memaklumi semua perkataan YK karena memang emosinya sedang tidak bagus setelah genap satu bulan ia dicampakkan oleh seorang gadis paling cantik yang bernama Bintang, mahasiswi jurusan psikologi di kampus dan semester yang sama dengan mereka.
“Ya sudah.” Kata Bayung singkat, tak ada perlawanan. Untuk memecah keheningan dan menenangkan suasana setelah YK berbicara lantang dan panjang sebelumnya.
Hari sudah mulai gelap, tak terdengar suara apa pun lagi kecuali tetesan sisa-sisa hujan dari ujung genting yang jatuh di atas genangan air di tanah. Suasana sedikit mencekam karena sepertinya tinggal mereka berdua saja di sana. Mereka segera mengunci ruangan KIR dan berjalan bersama menuju parkir sepeda motor untuk pulang.
“Aku ikut pulang sama kamu ya, mau ke studio dulu ada siaran.” Kata YK pada Bayung. YK memang seorang penyiar radio yang sudah cukup terkenal, bahkan di satu karesidenan di Semarang. Ia memang harus bekerja sendiri untuk membayar kuliah karena kedua orang tuanya sudah meninggal sejak lama. Bahkan YK tak pernah bertemu dengan ayahnya sekali pun.
“¡Ya! ¡Ayo!” Jawab Bayung seperti biasanya tak bisa menolak ajakan orang lain.
“Sangat aneh. Sudah bulan Juli, tetapi jarang sekali senja terlihat. Setiap sore selalu mendung, bahkan hujan sangat lebat.” Gumam Bayung lirih sambil mengelap jok sepeda motor dengan kanebo, kemudian memakai helmnya. YK menatap wajahnya yang terlihat seperti wajah orang gila karena suka bicara sendiri.
“Jangan suka bicara sendiri. Di kampus ini banyak hantu. Katanya dulu pernah ada yang bunuh diri lompat dari lantai tiga.” Gurauan YK pada Bayung. Terlihat bahwa dua orang dengan kepribadian yang sangat bertentangan bisa menjadi teman dekat. Bahkan Bayung menganggap YK seperti kakaknya sendiri karena memang umur mereka terpaut dua tahun lebih tua YK daripada Bayung.
Hari Senin pertama awal perkuliahan. Bangunan gedung kampus terlihat semu memudar terselimuti kabut tipis pagi hari yang belum terusik oleh sinar matahari. Belum terlihat satu pun mahasiswa datang ke kampus, hanya ada beberapa tukang sampah sibuk memindahkan sampah dari ember ke gerobak dan beberapa staf kantin dengan belanjaannya yang penuh ditumpuk di atas sepeda motor. Tetapi YK sudah di sana sepagi itu dengan gaya berpakaian sangat tomboi andalannya. Ia sedang melepas satu per satu informasi di mading yang sudah melewati batas waktu terbit dan menggantinya dengan yang baru. Lagi pula, hari ini hari pertama mahasiswa baru melakukan perkuliahan. Ia ingin mengambil hati para junior untuk bergabung dengan organisasinya. “Hm hm hm hm.” Mulutnya menirukan suatu nada lagu tetapi tanpa lirik.
“K, butuh bantuan?” Bayung mengagetkan YK yang sangat menikmati rutinitas paginya.
“Astaga!” YK menoleh, hampir saja ia memukul Bayung dengan kayu pengunci kaca mading.
“Tumben, Yung, sepagi ini sudah di kampus, orientasi kan sudah selesai?” Tanya YK pada Bayung setelah kembali mengambil kertas untuk dipasang di mading. Bayung diam tak menjawab pertanyaan YK, matanya dengan jeli melihat satu per satu tulisan-tulisan baru yang dipasang YK di mading.
“
Bait-bait syair kehilangan irama adalah puisi
Atau hanya ungkapan pesan yang terangkai dan tersirat di atas secarik daun kering
Aku mulai menyukainya lebih dulu sebelum kau datang
Dan tetap menyukainya setelah kau pergi, bahkan hingga kini
Aku melayangkan puisi tanpa angin, meneteskan tanpa gerimis
Dan mengharumkan tanpa bunga.
Kekasih dari sang penyair adalah puisi,
Atau hanya ungkapan isi hati yang tersusun dari kata yang membentuk syair.
Puisi/Oleh: Senja
”
“Siapa Senja?” Tanya Bayung pada YK setelah melihat puisi baru yang dimuat paling atas di mading bagian karya tulis. Namanya terdengar asing. Tak pernah ada yang menggunakan nama Senja di kampus. YK masih sibuk menyusun informasi untuk dipajang di madingnya. “K, siapa Senja?” Bayung mengulangi pertanyaannya dengan meninggikan suaranya.
“Oh, itu kiriman dari pendengar radio yang aku katakan minggu lalu, bagus kan?” Jawabnya tanpa menjelaskan kembali kepada Bayung bahwa tulisan Bayung tidak akan dimuat untuk sementara waktu.
“Hanya satu?” Tanya Bayung lagi dengan harapan tulisannya akan mengisi halaman kosong di mading.
“Itu masih ada, belum selesai ditempel.” Jawaban YK sedikit membuat Bayung kecewa karena tulisannya tergantikan oleh orang lain.
“Oh, baiklah. Berikan padaku, aku akan membantumu.” Bayung mengambil kertas-kertas berisi karya tulis yang dikirimkan seorang pendengar radio. Tulisan tangannya sangat jelas terbaca, hampir sama dengan mesin tik, sejajar berbaris, tak ada yang lebih tinggi atau rendah di setiap hurufnya. Ada beberapa kata mutiara dan satu anekdot dari tumpukan lembaran yang diambil Bayung. “Dia seorang gadis, K?” Tak sadar, Bayung bertanya pada YK perihal nama pena yang tertulis “Senja.”
“Aku tidak tahu. Itu kan hanya kiriman pendengar radio. Aku juga belum pernah bertemu orangnya, kan? Sudah kerjakan saja. Aku harus ke ruang administrasi sebelum kuliah dimulai. Ada urusan yang harus diselesaikan.” Perintah YK hampir selesai melakukan pekerjaannya.
“Bayung.” Seorang gadis berparas menawan, rambut lurus panjang sepinggang, mengagetkan Bayung dari arah sebaliknya. Berdiri tegak dengan sepatu hak tinggi dan tas pinggang cukup besar mengilat, beberapa buku ia peluk dengan tangan kanannya karena tak bisa masuk ke dalam tas.
“Bintang?” Jawab Bayung menoleh, seketika gugup dan salah tingkah ketika tahu mantan kekasihnya menghampiri dirinya sepagi itu, di depan mading pula. Bayung lekas meletakkan lembaran yang belum selesai ia tempel dan segera menarik tangan Bintang tanpa aba-aba. Ia ingin berbicara empat mata tanpa didengar oleh YK.
“Eh, Yung!!” Teriak YK kesal karena meninggalkannya begitu saja.
“Lepas Yung.” Bintang menarik tangannya setelah diseret beberapa meter dari mading oleh Bayung.
“Kita bicara di gazebo saja. Aku tunggu di sana.” Tutur Bayung gugup. Ia segera bergegas menuju gazebo favoritnya dengan kaki gemetar, disusul Bintang sepuluh meter di belakang. Bayung sengaja berjalan lebih pelan agar tidak berdampingan dengan Bayung.
“Aku bukan kekasihnya lagi.” Dalam hati, Bintang tak ingin terlihat berdua dengan Bayung.