Juli Selepas Senja

Mochamad Rozikin
Chapter #2

Juli, 2002: Mencari Senja

Masih di dalam bulan Juli yang tak menentu, kadang hujan begitu deras sedari pagi sampai sore tanpa jeda walau sebentar, hingga membuat banjir di mana-mana. Kadang terik matahari tak memberi ampun pada siapa pun karena panasnya juga dapat menyebabkan banjir, banjir keringat tentu saja. Sesekali terdapat hari yang sendu tanpa matahari dan hujan, tidak panas dan juga tidak dingin, tidak ada senja juga tidak gerimis, awan mendung menghalang-halangi langit sepanjang hari, namun enggan runtuh. Seperti pagi ini, Senin, 29 Juli 2002. Begitu Bayung baru saja mengganti tanggal di ujung kanan atas papan tulis kapur di kelasnya. Sebagai ketua kelas, ia mengambil tanggung jawab penuh demi kenyamanan belajarnya di kelas. “Sudah akhir bulan Juli.” Katanya pada diri sendiri sebelum kembali ke tempat duduknya paling depan di ujung sebelah dengan jendela yang menghadap ke luar. “Masih tak ada matahari sampai hari ini.” Pandangannya tertuju ke luar jendela, menatap langit mendung. Angin bertiup ringan melalui jendela yang terbuka membelai rambut Bayung. Seketika gaduh, mahasiswa mengagetkan Bayung, teman-temannya yang semuanya adalah laki-laki, masuk ke dalam kelas digiring oleh dosen pengajar mata kuliah pertama pagi itu. Kemudian, jam berganti jam disusul dosen kedua, ketiga, dan seterusnya. “Hmmmh...” Ia menutup buku terakhirnya hari itu, meletakkan kepalanya di atas tangan yang telah diluruskan di atas meja. “Ayo Yung!” Beberapa temannya menyapa untuk mengajak pulang. Bayung cukup membalas dengan senyuman tipisnya, ia terlihat lelah. “Aku belum ingin pulang.” Dalam hatinya. Setelah memasukkan buku-buku ke dalam tas, Bayung orang terakhir di dalam kelas, segera bergegas keluar. Ia berlari kecil menuju gazebo favorit di ujung lapangan sepak bola yang berada di belakang gedung fakultasnya untuk sekadar menenangkan diri dari padatnya pelajaran, mencari inspirasi menulis, atau bergurau dengan pohon flamboyan yang masih tetap berdiri kokoh di sebelah gazebo.

Bayung tidak sedang duduk di kursi yang ada di dalam gazebo. Cuacanya masih sejuk. Angin bertiup ringan ke sana ke mari dari ranting daun pohon flamboyan besar di samping gazebo. Bunganya berguguran rintik-rintik dari atas pohon bak film drama romantis. Kedua tangannya ia letakkan di belakang kepala sebagai bantal, kaki kiri menekuk untuk menopang kaki kanan. Bayung sedang tergeletak di atas jalinan akar pohon menatap dahan-dahan yang terus bergoyang, menari sembari meniupkan angin semilir. Buku, pena, tas, dan jaketnya tersusun rapi di sebelahnya. “Biasanya ada Bintang di sini, di sampingku.” Katanya kembali mengingat mantan kekasihnya sambil memejamkan mata. Terdengar suara langkah kaki, sepatu yang bergesekan dengan rumput: Srek, srek, srek. Mendekat ke pohon tempatnya tidur. Matanya segera terbuka. Sontak ia duduk dan melihat ke arah lapangan. Tak biasanya ada yang menghampirinya di sana selain Bintang. “Ternyata YK.” Kata Bayung dalam hati tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

“Yung, rencananya minggu depan aku akan pergi ke Bandungan, menyerahkan donasi untuk yayasan. Kamu mau ikut?” Tanya YK pada Bayung setelah sampai tepat di sebelah pohon dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar itu.

“Boleh. Aku juga berencana untuk menanyakan tentang itu padamu.” Jawab Bayung setelah beberapa hari memikirkan untuk mencoba menjadi relawan.

“Bagus. Kita akan ke Yayasan Rumah Senyum. Mereka sangat butuh bantuan biaya untuk sekolah dan membeli obat-obatan. Aku sudah mengumpulkan uang donasi dari anak-anak komunitas, dan hasilnya lumayan banyak kali ini. Kita bisa menjadi relawan untuk yayasan itu. Itu yayasan baru masih belum dikenal oleh para relawan dan donatur.” YK begitu bersemangat menjelaskan layaknya seorang senior yang sudah malang melintang menjadi seorang relawan kepada seorang anggota baru.

“Aku juga akan ikut berdonasi. Apakah itu panti asuhan? Ada berapa anak-anak di sana?” Bayung juga tak kalah bersemangat. Ia meninggikan suaranya, tak kalah dengan YK.

“Bukan panti asuhan kali ini. Yayasan Rumah Senyum itu adalah rumah yang dihuni oleh anak-anak yang terjangkit penyakit HIV akibat penularan dari orang tua, jarum suntik, atau bahkan pasangan. Mereka biasa disebut ODHA, singkatan dari orang dengan HIV dan AIDS. Nanti saja, agar lebih jelasnya, kamu datang dan lihat sendiri.” Penjelasan singkat dari YK mengenai Yayasan Rumah Senyum atau yang biasa disebut Rumah Odha.

“HIV?” Bayung terkejut, dahinya mengerit menatap YK. “Serius, K?” Ia masih bingung, bahkan belum mengerti jika ada yayasan yang menampung orang-orang yang terjangkit penyakit HIV di Semarang. Semangatnya tiba-tiba hilang membayangkan ia akan bertemu dengan anak-anak terdampak penyakit yang belum ada obatnya sampai sekarang.

“Tidak perlu khawatir, mereka tidak berbahaya, kok.” YK berusaha menenangkan Bayung yang tidak banyak tahu tentang penyakit tersebut.

“Yang aku tahu, itu penyakit menular dan belum ada obatnya sampai hari ini.” Katanya dalam hati tak lagi menyahuti YK.

“Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Ayo pulang! Aku ada siaran.” YK mengganti topik pembicaraan. Lagi pula hari sudah sore. Ia harus segera pulang untuk siaran radio. Mereka berdua berjalan menuju parkiran sepeda motor, mendengar kata siaran radio dari mulut YK, Bayung teringat kembali dengan tulisan-tulisan milik Senja yang sering dibacakan.

“Aku hampir saja melupakannya, melupakan keindahan syair Senja. Beberapa hari memang mendung, hilang sinarnya yang menyilaukan pandanganku. Padahal sebelumnya, aku sudah hampir jatuh cinta kepadanya.”

Sampailah ia di rumah. Setelah mengantarkan YK pulang, lalu pergi lagi menuju studio. Begitu rutinitas mereka sehari-hari. Sesekali YK pergi dan pulang sendiri dengan sepeda atau angkutan umum, ikut temannya yang lain, bahkan jalan kaki ketika Bayung ada keperluan lain. Bayung menarik pagar rumahnya dengan kasar, memarkir sepeda motor di depan garasi, dan segera berlari ke dalam rumah. “Assalamu’alaikum, Bu. Ayung pinjam radio ya, Ayung bawa ke kamar!” Ia berteriak pada ibunya yang berada di dapur. Kedua tangannya menggulung kabel setelah ia mencabutnya dari sumber listrik.

“Makan dulu yung!” Teriak ibunya dari dapur.

“Iya, nanti saja.” Bayung lekas menenteng radio dan menaiki anak tangga menuju kamarnya, meletakkan di atas meja, mencari colokan listrik yang ternyata terlalu jauh. “Ah! Kabelnya kurang panjang!” Segera ia berlari keluar lagi mencari sambungan kabel. Tidak ada di mana-mana. Ibunya sedang sibuk di dapur dan tak bisa menunjukkan di mana letak sambungan kabel disimpan. Ia bergegas kembali ke kamarnya, mendekatkan radio pada colokan listrik yang berada di balik pintu dan cukup tinggi dari lantai. “Aduh! Tetap kurang panjang kabelnya.” Diam sejenak mencari akal. Segera ia meletakkan radio di atas kursi, ditumpuk dengan beberapa kardus sepatu dan beberapa buku agar sampai di colokan listrik. Setelah memastikan letak radio tidak bergoyang, segera ia menyalakan radio tersebut, memutar ke kanan dan ke kiri beberapa kali, mencari saluran yang tepat di mana YK sedang bersiaran. “Nah, ini!” Bayung mengeraskan suaranya, kemudian duduk bersandar pada daun pintu.

“… Pada akhirnya sepasang kekasih tersebut memutuskan untuk lari dari kehidupan mereka dan menikah. Mereka pun bahagia dengan kehidupan baru mereka di tengah-tengah orang asing dan melahirkan tiga orang anak yang lucu. Sekian cerita cinta yang dikirimkan oleh teman kita dari Ungaran yang bernama Sugi. Terima kasih, Kak Sugi. Baik, teman-teman pendengar setia Garuda FM, selanjutnya kita akan membacakan tulisan-tulisan yang dikirim oleh teman-teman semua. Tapi setelah iklan ya! Jadi, jangan ke mana-mana, tetaplah di acara Coretan, tentu saja di saluran yang sama, Garuda FM.” Suara YK terdengar sangat piawai membawakan acara Coretan. Iklan sedang diputar. Bayung berlari mengambil buku dan penanya, segera kembali di posisi duduk sebelumnya menunggu iklan selesai diputar. Dia tak ingin melewatkan puisi yang dibacakan YK walaupun hanya sebait saja.

“Selamat sore, pendengar setia Garuda FM di mana pun kalian berada. Kita kembali lagi di acara Coretan bersama saya AS dan rekan saya YK. Mari kita dengarkan lagi kiriman dari teman kita yang bernama Senja, sebuah puisi tentang kehidupan.” Teman siaran YK membuka acara setelah beberapa iklan selesai diputar. Instrumen dari saksofon dan piano klasik diputar sebagai musik pengiring.

Tentang kehidupanmu yang makmur

Berbagi ceritalah padaku yang melarat

 

Ceritakan bagaimana kau terbaring di atas dipan yang dijejali bunga randu

Ceritakan bagaimana kau menenggak minumanmu dengan piala kaca berkilau

Ceritakan bagaimana dunia begitu baik memberi segala apa yang kau inginkan

Ceritakan bagaimana rasanya tinggal di dalam kastil bak cerita dalam dongeng

Ceritakan bagaimana kau akan bertanggung jawab pada Tuhan tentang segala kemegahan yang kau dapatkan

 

Tentang kehidupanku sebagai sang babu

Kuceritakan hidupku padamu sang tuan

 

Aku terbaring di dalam pelukan bumi yang menggigil tertiup lirih angin malam

Aku menenggak minuman dari tetesan air mata kesakitan karena luka yang tak terobati

Lihat selengkapnya