Hari Jumat pagi tampak begitu cerah. Sinar mentari telah hadir mencairkan embun yang bersemayam di ujung ranting kering dan daun-daun baru. Satu hari sebelum Bayung dan YK pergi ke Desa Bandungan untuk menyerahkan donasi dan bertemu dengan para odha yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Sudah memasuki bulan Agustus sekarang. Hujan sudah tak tampak lagi sejak terakhir turun sangat deras hari Senin kemarin. Bayung pergi menemui YK di ruang KIR untuk menyerahkan tulisan-tulisan barunya agar dimuat di mading minggu depan. Ia merasa tulisannya sudah lebih baik dari sebelumnya karena emosinya sudah kembali stabil. YK sudah ada di sana sejak beberapa menit yang lalu, bahkan ia telah selesai menghitung uang yang berhasil ia kumpulkan untuk diberikan kepada Rumah Odha, mengikatnya dengan karet, dan memasukkannya ke dalam amplop yang sudah ia siapkan. Ia sedang duduk di kursi redaksi, membuka lembaran tumpukan kertas yang akan ia muat di mading minggu depan yang telah terkumpul dari beberapa organisasi kampus. “Ini tulisan terbaruku.” Dengan penuh percaya diri, Bayung meletakkan kertas-kertas yang ia ambil dari dalam tasnya. Berisi berbagai macam karya tulis garapannya semalam. YK mengambil dan membacanya lembar demi lembar.
“Wow! Sang pujangga sudah kembali.” Katanya terlalu singkat, melirik ke arah Bayung.
“Oh iya, ini amplop dari ibuku. Dia juga ikut berdonasi untuk Rumah Odha.” Bayung juga mengeluarkan amplop dari dalam saku celananya.
“Baiklah, sampaikan salam dan terima kasih dariku. Besok jangan lupa jam sembilan ya!” YK menerima amplopnya, kemudian menyatukannya dengan amplop yang sudah ia hitung sebelumnya. Setelah itu, ia bergegas pergi ke kelasnya.
“Oke. Aku ke rumah kamu jam delapan. Aku akan di sini sampai jam sepuluh. Kelasku kosong sampai siang.” Kata Bayung, meminta izin pada YK untuk memakai ruangannya.
“Aku harus mencari tahu tentang Senja. Aku akan menulis surat untuknya, lalu aku akan kirim ke radio. Pasti Senja akan mendengar suratku dibacakan. Tapi bagaimana jika Senja ternyata adalah laki-laki? Atau seorang wanita tua bersuami. Ah, siapa pun dia, aku tetap akan memuji dan mengidolakan karya-karyanya.” Bayung mengeluarkan bukunya. Ia berencana mengirim surat melalui radio agar didengar oleh Senja. Syukur-syukur, Senja akan membalas surat darinya.
“
Semarang, 2 Agustus 2002.
Sajak untuk Senja.
Duhai Senja dalam khayalan, nyatakah adanya dirimu dalam semesta yang kusinggahi ini? Hingga goresan sinarmu melalui syair-syair begitu benderang mengalahkan senja yang kutatap setiap sore.
Duhai Senja dalam bayangan, tampakkan dirimu dengan sinar yang menerobos awan membentuk lembayung jingga sore hari hingga meluruhkan keraguan dalam hatiku tentang dirimu yang semu.
Duhai Senja sang penyair, aku menunggumu dari sisi timur dari pandanganku untuk menyaksikan terbenammu dengan merelakan sajak-sajak perpisahan hingga berderailah air mata ini.
Duhai Senja sang pelipur, berilah aku penawar dari makna-makna yang kau lantunkan hingga menyihirku dari kenyataan bahwa engkau hanyalah semu. Maka balaslah jika sajak ini sampai terdengar oleh hatimu.
Pengagum Senja.
”
Bayung membacanya sekali lagi, lalu melipat suratnya setelah ia sobek dari halaman buku, memasukkannya ke dalam amplop berwarna putih tulang yang ia ambil dari tempat amplop bekas kiriman orang-orang yang disimpan rapi oleh YK, memasukkannya kembali ke dalam tas untuk ia kirimkan setelah pulang kuliah nanti sore. Bayung sengaja tak menitipkannya pada YK karena ia tak ingin diketahui siapa pun tentang begitu mendambakannya ia pada sosok Senja. “Semoga Senja membalasnya.” Bayung masih di dalam ruangan KIR, membantu menyusun lembaran untuk mading sebelum ia beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kelas.
Masih sangat pagi di hari berikutnya, Bayung sudah duduk bersama ibu dan ayahnya untuk sarapan. Itu yang ia lakukan setiap akhir pekan sebelum pergi untuk mengerjakan tugas, mengurus organisasi kampus, atau bermain. Bayung membicarakan hal-hal yang perlu ia bahas dengan kedua orang tuanya di akhir pekan. Kedua orang tuanya sangat terbuka dan kritis, sehingga Bayung sama sekali tak ada perasaan segan dan tidak enak hati pada mereka, yang menjadikan tak pernah ada rahasia di antara mereka. Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dengan telur ceplok, menenggak habis teh manis yang diseduhkan oleh ibunya, ia segera berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi menjemput YK. “Ayung pergi dulu ya, Pak, Bu, hari ini ada janji dengan YK untuk pergi ke Rumah Odha.” Pamitnya seraya mencium tangan ayah dan ibunya. Pakaiannya rapi, setelan kemeja biru tua yang dimasukkan ke dalam celana jin, dengan rambut belah tengah yang ia olesi minyak rambut tersisir sejajar ke arah kanan dan kiri dengan sangat simetris. Ia juga melipat ujung lengan beberapa lipatan agar terlihat lebih santai. Sepatu ket putih bergaris hitam yang biasa ia pakai melengkapi gayanya hari itu. Tak lama setelah memanaskan sepeda motor dua tak seratus tiga puluh lima cc yang sangat populer pada zamannya, ia pergi menuju rumah YK.
YK sedang bersama Putri di dalam kedai menyiapkan dagangan mereka hari itu, ke sana-kemari keluar-masuk dari kontrakan ke kedai, membawa ember besar berisi minuman cokelat, kembali lagi mengambil es batu, kemudian roti dan bahan lainnya, sementara Putri juga sedang sibuk mengelap meja dan membuka kedai yang ditutup rapat dengan kayu-kayu tersusun rapi lalu mengambilnya satu per satu. Bayung memanggilnya setelah mematikan mesin sepeda motornya: “Ayo, K” – “Iya, Yung sebentar.” Jawab YK terlihat sudah siap untuk pergi. Gaya berpakaiannya tak pernah berubah, masih dengan setelan celana dan kemeja kotak-kotak kancing terbuka dengan kaos di dalamnya. Setelah YK selesai melakukan pekerjaannya, mereka segera pergi menuju Rumah Odha di Desa Bandungan yang jaraknya hampir satu jam perjalanan dari kota jika ditempuh dengan sepeda motor.
Sudah empat puluh lima menit berkendara melewati jalan perbukitan, YK menyuruh Bayung mengurangi kecepatannya setelah melewati jalan berkelok menyusuri tebing dan kebun bunga mawar yang terbentang luas. Sampailah mereka di Pasar Kembang yang padat setiap pagi, dipenuhi berbagai jenis macam bunga bak di taman bunga. Satu kilometer dari sana terdapat gang buntu yang cukup sempit dan tak bisa dilewati mobil menuju ke arah danau. Hanya ada empat rumah dan satu musala terbengkalai. Rumah Odha tepat di sebelah musala, paling ujung menghadap ke danau kecil yang terlihat seperti kubangan biasa, namun ketika musim hujan, dipenuhi air, ganggang, dan tanaman air lain hingga menutupi permukaannya. Satu rumah lainnya yang berjarak sepuluh meter dari musala ialah rumah milik Bik Ine, orang yang mendirikan sekaligus mengurus Rumah Odha. Kemudian, dua rumah lainnya kosong sejak lama tak pernah ditinggali. Bayung memarkir sepeda motornya tepat di depan rumah dengan model bangunan kuno, tetapi masih terawat dengan baik meskipun gentingnya sudah hitam dan beberapa sudah bergeser turun. Halamannya cukup luas dengan beberapa pohon jambu sedang berbunga, tanaman hias tersusun rapi di dalam pot-pot tanah liat, juga pohon bunga mawar rambat yang menjalar ditanam di tanah bersama rumput yang sepertinya rajin dirapikan.
“Assalamu’alaikum.” YK memberi salam, masih berdiri di tepi halaman. Bayung berdiri di samping namun agak ke belakang. Pandangannya berputar dari ujung kanan ke kiri melihat-lihat keadaan sekitar rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Bik Ine setelah dua kali YK mengulang salam. “Ya ampun, Mbak Yuli. Ayo ayo silakan masuk,” kata Bik Ine begitu sumringah setelah berlari pelan keluar melihat YK dan Bayung, lalu segera menyuruh mereka masuk.
“Iya, Bik.” Jawab YK menarik lengan baju Bayung. Bayung sedikit gugup karena beberapa alasan. Yang jelas, sebenarnya Bayung takut dan tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap penghuni Rumah Odha yang sebagian besar adalah pengidap HIV. Artikel yang ia baca sebelumnya sudah tak ada gunanya. Pikirannya penuh dengan prasangka yang tidak-tidak.