Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini Bayung menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ia baru saja mendapatkan energi yang luar biasa dari Rumah Odha yang dihuni orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. Bayung akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kehidupan di Rumah Odha. Pagi itu, Bayung membawa beberapa kotak terbuat dari lembaran kayu serut. Terdapat tutup dengan gembok kecil di atasnya, juga lubang untuk memasukkan uang menyerupai kotak amal di masjid. Tak lupa ia menuliskan “Sumbangan untuk Yayasan Rumah Senyum” di depan kotak dengan sepidol berwarna hitam. Setelah mendapatkan izin dari pihak kampus, Bayung meletakkan kotak tersebut di depan ruangan organisasi Pecinta Alam, ruang Kelompok Ilmiah Remaja di dekat mading yang diketuai oleh YK, masjid kampus, depan perpustakaan, dan kantin. Bayung juga meminta bantuan kepada kedua orang tuanya untuk mengumpulkan donasi di tempat kerja mereka, juga meletakkan satu kotak di depan kedai milik YK. Ia berencana akan datang mengunjungi Rumah Odha setiap dua minggu sekali dengan membawa uang yang sudah ia kumpulkan dari kotak-kotak tersebut. Bayung berharap dapat membantu meringankan beban Bik Ine. Ia juga berharap para odha yang tinggal di yayasan bisa mendapatkan kehidupan yang layak, juga pengobatan yang seharusnya mereka terima. Ini bukan karena siapa atau apa pun. Ini murni karena hati nuraninya sudah tergerak dan Bayung bahagia bisa melakukan semua ini.
Suatu sore ketika Bayung sedang duduk sambil menulis di gazebo favoritnya, YK menghampirinya. “Ini. Barangkali bisa menjawab rasa penasaran kamu tentang siapa Senja.” YK memberikan amplop bekas kiriman tulisan milik Senja yang telah tersobek di bagian ujungnya dan terlipat menjadi empat bagian.
“Apa ini?” Tanya Bayung tidak mengerti maksud YK.
“Itu amplop yang digunakan Senja untuk mengirim tulisannya. Isinya sudah aku ambil. Suratmu juga sudah aku bacakan. Aku tahu kau sibuk sehingga tidak mendengarkan radio akhir-akhir ini.” YK memberi tahu Bayung. Bayung meletakkan penanya, sungguh terkejut sekaligus malu.
“Bagaimana kamu bisa tahu surat itu dariku?” Tanya Bayung yang sudah merahasiakannya dari YK.
“Jelas itu tulisan kamu, kata-katanya sangat identik dengan Lembayung. Oh iya, aku akan membacakan balasan suratnya nanti sore. Kau bisa mendengarkan jika ingin tahu apa yang Senja tulis.” Lanjut YK berujar. Bayung mengambil lipatan amplop yang diberikan YK lalu menyelipkannya di tengah-tengah halaman bukunya tanpa membukanya terlebih dulu.
“Terima kasih.” Katanya singkat sambil melempar senyum pada YK. Bayung bergegas pulang dan bersiap-siap menunggu di sebelah radionya. Acaranya belum dimulai, tapi ia tak ingin ketinggalan sedikit pun. Kakinya sedikit gemetar. Ia gugup dan tidak menyangka Senja membalas surat yang ia kirimkan melalui radio, dan yang paling penting, ia begitu penasaran apa isi balasan suratnya. Setelah beberapa kali iklan diputar, akhirnya terdengar suara YK memandu acara. Bayung sudah siap dengan alat tulisnya untuk mencatat. Seperti biasanya, acara diawali dengan memutar lagu-lagu Melayu klasik dan pop yang sedang naik daun, kemudian disusul dengan membacakan karya tulis dari pendengar.
“Baiklah, coretan kali ini kita awali dengan karya tulis dari Senja yang sepertinya ini adalah balasan surat beberapa hari yang lalu sudah kita bacakan. Baik langsung saja…” YK membuka acara. Musik latar diputar untuk mengiringi sebuah tulisan yang dibacakan.
“
Untuk pengagum senja.
Aku bukan khayalan. Aku hanyalah sebuah mimpi indah yang hanya dapat kau lihat ketika kau tidur dan menghilang ketika kau terbangun, benar-benar lenyap. Begitu juga dengan syair-syair yang tersirat. Ia hanyalah semu yang tak akan pernah kau temukan ketika kau hidup dalam kenyataan.
Aku bukanlah sekadar bayangan. Bukankah senja memiliki cahaya indah yang menciptakan sebuah bayangan dari balik seseorang yang menatapnya? Mengapa kau meragukan itu?
Aku juga bukanlah penyair. Sajak-sajak yang tercipta adalah suara hati yang ingin didengar oleh angin, tangisan yang ingin dihapus, atau hanya sebatas isi kepala yang terlalu penuh hingga tumpah ruah menjadi goresan diksi yang memilukan.
Aku bukanlah pelipur, penawar pun tak kumiliki. Aku hanya membawa segenggam racun yang akan membunuh keji siapa saja yang mencoba mendekati.
Duhai pengagum senja, berhentilah mengagumi sesuatu yang tak pernah kau lihat dan tak bisa kau rasakan kehadirannya. Itu hanya akan menyakiti dan membunuh dirimu sendiri perlahan.
Kuhargai sepenuh hati sepucuk surat darimu yang penuh dengan kata sanjung. Namun, biarkan aku tetap sembunyi di balik kegelapan setelah senja terbenam.
Dari: Senja.
”
“Wow.... Senja selalu membiusku dengan kata-katanya, bukankah begitu pendengar? Semoga pesan tersebut didengar langsung oleh seorang pengagum senja yang mengirimkan surat sebelumnya, karena aku yakin dia pasti sedang mendengarkan siaran ini. Untuk mengiringi sepucuk surat dari Senja, mari kita dengarkan satu tembang yang berjudul ‘Cinta Sejati’…” Sindiran YK untuk Bayung sambil melanjutkan acara siarannya.
Bayung masih berada di tempatnya, sebelah radio di balik pintu kamar, dengan saksama ia mendengarkan dan mencatat balasan surat yang dikirim oleh Senja di buku yang ia sangga dengan kedua lututnya. Ia semakin penasaran dengan sosok Senja di balik sajak-sajaknya. Balasan suratnya tak mengisyaratkan apa pun kecuali penolakan. Meski begitu, Bayung berencana untuk membalasnya lagi melalui surat langsung menuju alamat rumah Senja yang ia dapatkan dari YK. Bayung mengambil amplop yang diberikan oleh YK dari bukunya, kemudian membuka lipatan-lipatannya. Ternyata bagian alamatnya tidak utuh, sudah tersobek sebagian. “Ah!” Desahnya kecewa. Dengan terpaksa, Bayung akan tetap membalas lagi suratnya meskipun harus melalui radio lagi dan harus didengar banyak orang.
“
Teruntuk Senja
Bagaimana jika aku telah jatuh cinta padamu? Bukan hanya sekadar sajakmu, tapi padamu yang tak pernah kulihat, karena sejatinya cinta tak pernah melihat rupa.
Bagaimana jika aku telah jatuh cinta padamu? Bukan hanya sekadar syairmu, tapi padamu yang tak pernah kudengar suaranya, karena sejatinya cinta tak perlu mendengar.
Aku tak akan menyerah sampai di sini. Restu dari langit yang akan membawamu datang padaku. Bumi ini yang akan menuntun kakiku melangkah menjemputmu. Percayalah.
Pengagum Senja.
”
Seperti biasanya, Bayung membacanya sekali lagi setelah selesai menulis, kemudian melipat dan memasukkannya ke dalam amplop untuk dikirimkan melalui kantor pos ke alamat radio. Kali ini harapannya lebih besar pada Senja untuk membalas lagi suratnya dengan kata-kata indah untuk Bayung. Sajak-sajak Senja telah membuat candu untuk Bayung.
Hari demi hari berlalu begitu cepat, tak terasa akhir pekan yang ditunggu-tunggu oleh Bayung pun tiba. Bayung mengumpulkan semua uang yang ia dapatkan dari kotak-kotak yang sudah ia letakkan di berbagai tempat. Membukanya satu per satu. “Wah, hasilnya lumayan banyak.” Ia bersyukur karena uang yang ia kumpulkan jauh dari harapannya. Tak sabar memberi tahu kabar gembira kepada Bik Ine. Bayung segera pergi ke Rumah Odha hari itu juga. Belum terlalu sore, matahari masih terik, bergeser sedikit ke arah barat. Ia bergegas pergi tanpa YK yang harus siaran radio setiap sore. Setelah satu jam perjalanan lebih karena padatnya jalanan siang itu, Bayung bertemu kembali dengan Bik Ine dan Galuh yang sedang menemani anak-anak bermain di halaman. Kali ini, ia menyapa dengan hangat semua orang di sana tanpa ada kekhawatiran.