Juli Selepas Senja

Mochamad Rozikin
Chapter #5

Rahasia Senja

Hari masih belum terlalu siang. Belum banyak mahasiswa yang datang ke kampus. Bahkan di depan gerbang, belum terlalu ramai lalu-lalang mahasiswa. Bayung sampai di kampusnya hanya dalam waktu empat puluh menit dari Pasar Kembang. Jauh lebih cepat daripada waktu tempuh pada umumnya. Pakaiannya sudah kusut diterpa angin saat ia berkendara, begitu juga dengan tatanan rambutnya yang rusak karena helm yang ia pakai. Bayung tak peduli lagi. Ia berlari begitu kencang menuju ruangan KIR setelah memarkir sepeda motornya, bahkan melupakan bunga yang ia beli dari Ratih. Ia tak bisa merasakan kebahagiaannya seorang diri. Bayung harus memberi tahu YK sekarang juga. Jam masuk masih tiga puluh menit lagi. Itu lebih dari cukup untuk sekadar bertemu dan memberi tahu YK kejadian yang baru saja ia alami di Pasar Kembang, begitu yang ada di pikirannya. Ruangan KIR terlihat masih terkunci. YK tak ada di sana atau sudah pergi dari sana menuju tempat lain. Bayung memastikan dengan melihat pembaruan mading, edisinya masih minggu lalu, tanggalnya juga belum diganti. Untuk memastikan YK benar-benar belum datang, Bayung segera berlari lagi menuju ruang kelas YK. Napasnya masih belum stabil memang, tapi perasaan gembiranya mulai berubah menjadi khawatir. “Sepertinya hampir tidak pernah YK bolos.” Katanya, dalam hati sedang mengingat kembali kapan terakhir YK tidak datang kuliah. Sampai di depan kelas YK, pandangannya mengitari ruang kelas mencari-cari seorang gadis dengan tampilan paling tomboi. “Sepertinya tidak ada.” Bayung memastikan sekali lagi, bertanya kepada teman sekelas YK, namun tak ada satu pun yang tahu di mana YK berada. Bayung berjalan kembali menuju kelasnya dengan perasaan cemas. “Apa mungkin YK sakit?” Gerutunya sendiri tak sabar bertemu dengan sahabatnya.

“Bayung....” Teriakan seorang gadis mengagetkannya. “Bayung, sedang apa kamu di sini?” Tanya Bintang setelah mengejar menghampiri Bayung.

“Bintang? Aku dari kelas YK, tapi sepertinya dia bolos hari ini.” Bayung merasa tak terduga dengan kehadiran Bintang. Pikirannya bercabang ke mana-mana.

“Oh, begitu. Ngomong-ngomong, kamu sudah memikirkan suatu tempat. Di mana akan melakukan KKN?” Tanya Bintang lagi, masih ingin melanjutkan obrolan dengan Bayung yang cukup lama tak ia jumpai.

“Oh, Belum.” Jawaban Bayung singkat tak ingin menimbulkan pertanyaan susulan dari Bintang.

“Aku akan membuat pengajuan KKN di daerah Bandungan. Di sana masih banyak anak-anak yang putus sekolah dan pekerja di bawah umur. Kita bisa sekalian membantu banyak warga di sana. Barangkali berminat, kamu dan YK bisa ikut gabung denganku. Kebetulan baru ada dua orang yang mau bareng denganku.” Bintang membahas Kuliah Kerja Nyata atau yang lebih populer dengan sebutan KKN yang harus mereka tempuh sebelum menghadapi ujian akhir tahun depan.

“Baiklah, nanti aku pikirkan lagi. Terima kasih atas tawarannya.” Bayung belum terlalu jauh berpikir mengenai KKN. Pikirannya masih seputar Ratih, Senja, dan YK yang belum ia temukan keberadaannya. Walau sudah tak menjadi sepasang kekasih, Bintang selalu mencoba untuk berteman baik. Meskipun Bayung sedikit menjaga jarak, Bintang selalu ingin menciptakan suasana yang biasa layaknya seorang teman baik.

Masih di hari yang sama, sepanjang perkuliahan, perasaan Bayung bercampur aduk, antara bahagia bertemu dengan Senja atau Ratih dan cemas memikirkan YK yang belum ada kabar. Sepulang kuliah, Bayung bergegas untuk pergi mencari YK. Sepeda motornya melaju sangat kencang menuju rumah kontrakan YK. Sampai di depan, ternyata kedainya tutup. Kontrakannya juga terlihat sepi, tak ada siapa pun. Ia semakin panik. Bayung mencoba mengetuk rumah kontrakan tetangga YK untuk menanyakan keberadaan YK. Pintu pertama persis di sebelah YK, tinggal tak ada yang menjawab ketukan Bayung. Ia berganti ke pintu kedua. Masih tak ada yang menjawab. Akhirnya, seseorang yang tinggal di pintu ketiga dari rumah kontrakan YK memberi tahu bahwa YK berada di rumah sakit karena Putri mengalami kecelakaan pagi tadi ketika hendak berangkat ke sekolah. Setelah mendapatkan informasi, Bayung segera pergi menuju rumah sakit. Sesampainya ia di rumah sakit, setelah bertanya di pusat informasi dan menemukan di ruangan mana Putri dirawat, Bayung segera berlari menghampiri YK.

“K, bagaimana keadaan Putri?” Tanya Bayung pada YK yang sedang duduk di depan ruangan tempat Putri dirawat. Matanya merah sembab, bahkan air mata masih menetes ke pipinya. Rambutnya tak tersisir dengan baik. Ia terlihat berantakan.

“Putri ditabrak mobil tadi pagi ketika dia hendak menyeberang di depan sekolahnya. Kepalanya bocor. Sekarang sudah dijahit dan sudah membaik.” Jawabnya mengusap wajah dengan kedua tangan.

“Syukurlah.” Jawab Bayung merasa sedikit lega duduk di sebelah YK

“Aku takut, Yung. Aku tidak ingin kehilangan Putri. Aku tidak punya siapa pun lagi di dunia ini kecuali dia.” Lanjut YK mencurahkan kesedihannya, sekali lagi ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan sampai ke rambut. Bayung yang berada di sandingnya, merangkul dan mengusap-usap pundak YK.

“Sabar, K, semua akan baik-baik saja.” Katanya tak bisa berbuat banyak, bahkan ia mengurungkan niat untuk menceritakan kejadian tadi pagi karena melihat keadaan YK yang tak memungkinkan. Walau sedang tertimpa musibah, sore itu YK meminta Bayung untuk mengantarkannya ke studio radio. Ia akan tetap siaran.

“Aku harus tetap bekerja, Yung. Aku boleh tidak kuliah, tapi tidak boleh kalau tidak bekerja. Aku butuh uang untuk membayar rumah sakit.” Alasan YK pada Bayung. Sementara Putri ditemani ibunya di rumah sakit.

Aku tenggelam dalam palung nestapa

Aku telah kehilangan diriku sendiri

Ragaku telah lama mati, dan terkubur di atas lembaran masa lalu yang kelam

 

Kau bagai jelmaan seorang utusan

Kau adalah merpati yang kembali

Jiwamu telah lama kunanti, dan kuimpikan di setiap malam panjangku

 

Kita adalah takdir yang telah tersurat

Kita adalah masa depan yang indah

Menyatukan jiwa dan raga dalam janji dan ikatan suci sebuah cinta

 

Aku adalah susunan kayu-kayu yang kokoh

Kau adalah lembaran layar yang dibentang

Kita menjadi sepasang kekasih dalam bahtera yang berlayar menuju keabadian

 

Menemukan/Oleh: Yulia Kurniasih

Lihat selengkapnya