Akhir tahun dua ribu dua ditutup dengan ujian akhir semester sebelum libur. Bayung menjalaninya tanpa kendala sekali pun perasaannya sedang gundah. Ia tak berharap banyak dengan nilai-nilainya semester ini yang sepertinya akan terjun bebas jika di banding semester-semester sebelumnya. Ia justru berharap datang keajaiban tentang jawaban atas perasaannya kepada Ratih yang tak ada harapan lagi karena keyakinan mereka yang berbeda.
Liburan akhir semester tiba setelah perjalanan panjang enam bulan terakhir. Bayung menghabiskan liburannya tak hanya di rumah menemani ibunya, ia juga pergi bersama ayahnya bekerja untuk mempelajari pekerjaan-pekerjaan ayahnya. Bayung juga sering berkunjung ke kedai milik YK untuk membantu. Sesekali ia datang ke kampus untuk melihat kegiatan para organisator atau sekedar menyapa sahabatnya sang pohon flamboyan yang menemani gazebo di tepi lapangan sepak bola. Tetapi sudah beberapa bulan sejak terakhir ia ke Rumah Odha, Bayung tak pernah ke sana lagi. Ia enggan bertemu dengan Ratih dengan harapan bisa segera melupakan perasaannya yang tak akan mungkin menyatukan mereka. Selama berbulan-bulan ia menjalani kehidupannya dengan hati tersayat.
“Aku sedang mengagumi seorang diri, mencintai seorang diri, dan patah seorang diri. Bahkan gadis itu tak mengetahui apa pun tentang diriku dan apa yang aku rasakan padanya. Semoga perasaan seperti ini lekas enyah dari hatiku.”
Hari pertama di awal semester baru telah tiba. Fajar tak bangun pagi ini, subuh telah disambut dengan gerimis karena memang sudah mulai memasuki musim hujan. Pagi sebelum mengikuti upacara pelepasan mahasiswa KKN, Bayung menemani kedua orang tuanya minum teh di halaman belakang rumahnya, ditemani tetesan air sisa gerimis dari dari ujung atap rumah ke kolam ikan dekat dengan mereka duduk.
“Bu, Pak, Ayung berterima kasih kepada kalian yang telah memberi Ayung kehidupan yang layak, mengajarkan kepada Ayung tentang kebaikan, tentang ketaatan dalam beragama, semoga Ayung bisa menjalankan semua sesuai harapan Bapak dan Ibu sampai kapan pun.” Kata Bayung duduk di kursi paling dekat dengan kolam dengan rasa bersalah.
“Yung, kamu ini hanya akan pergi KKN kan? Sudah seperti akan berangkat perang saja.” Ayahnya menanggapi dengan santai sembari menyeruput tehnya.
“Bukan begitu Pak, Ayung takut mengecewakan bapak sama ibu nantinya, karena semakin dewasa, semakin banyak Ayung bertemu dengan berbagai macam sifat dan jenis manusia.” Bayung membalas lagi perkataan ayahnya, namun ia tak berani mengatakan kepada orang tuanya bahwa hatinya sedang terluka karena mencintai seorang gadis yang berbeda keyakinan dengannya. Mungkin saja, ini kali pertama Bayung menyembunyikan sesuatu dari kedua orang tuanya.
“Pokoknya kamu sehat dan bahagia selalu, Yung, Ibu selalu mendukung apa pun yang ingin kamu raih untuk masa depan kamu. Kamu ini anak kami satu-satunya. Pada siapa lagi kami menaruh harapan? Ya kan, pak?” Sekarang giliran ibunya. Hati Bayung semakin patah mendengar kata-kata ibunya yang menaruh harapan padanya. Ia takut tak bisa memenuhi harapan-harapan kedua orang tuanya. “Cinta orang tua adalah cinta yang tulus, mencintai apa adanya tanpa melihat bentuk, rupa, dan bagaimana anaknya. Mencintai tanpa peduli apa pun yang terjadi kepada anaknya.” Ibunya melanjutkan. Kali ini, ia benar-benar meresapi perkataan ibunya tentang cinta yang tulus.
“Bayung pamit dulu, kalau ada waktu luang, Bayung akan pulang menemui Bapak dan Ibu.” Bayung mencium kedua tangan orang tuanya untuk pergi KKN selama tiga bulan, tinggal di Bandungan.
Upacara pelepasan berlangsung cukup lama karena sambutan dari panitia pengadaan KKN tahun 2003 dan beberapa petinggi kampus. Setelah selesai, Bayung dan kelompoknya segera berkumpul di gazebo, mengecek sekali lagi perlengkapan mereka dan bergegas berangkat menuju Bandungan menggunakan sepeda motor. Roni dan Fetri berkendara paling depan, Iwan dan Bintang menyusul di belakangnya, sedangkan Bayung dan YK berada paling belakang. Kibaran rambut Bintang karena angin mengalihkan fokus berkendara Bayung. “Bintang, seandainya kau tidak mencampakkanku, mungkin saja aku tak pernah jatuh cinta pada siapa pun selain dirimu.” Katanya dalam hati, mengingat kembali saat-saat bersama Bintang dan begitu ingin segera melupakan Ratih. Atau setidaknya merubah perasaanya dari cinta menjadi sayang seperti seorang kakak kepada adiknya.
Bik Ine dan Galuh sudah menunggu mereka cukup lama, berdiri di halaman rumah, berkali-kali melihat arah jalan raya. Rombongan Bayung pun tiba. Mereka meletakkan tas-tas dan perlengkapan yang mereka bawa di musala, lalu berkumpul di halaman Rumah Odha untuk meminta izin kepada Bik Ine dan mendengarkan beberapa pengarahan.
“Teman-teman semua, ini Bik Ine, ketua Yayasan Rumah Senyum sekaligus orang yang memberi tumpangan pada kita selama tiga bulan ke depan. Ini Mas Galuh, anaknya Bik Ine yang juga turut mengelola yayasan ini. Bik Ine, perkenalkan ini teman-teman saya: ada Bintang sebagai ketua, kemudian Roni, Fetri, Iwan, dan ini Yulia yang sudah terbiasa datang ke mari bersama saya, dan anggota terakhir adalah saya sendiri.” Bayung mengawali pengarahan dengan saling memperkenalkan kedua belah pihak, namun matanya sibuk, tak berhenti melirik ke berbagai arah, tentu saja sedang mencari Ratih. Tak bisa dipungkiri, ia masih menyimpan rasa yang mendalam pada Ratih. Tak berkurang sedikit pun meski telah lama tak bersua.
Benar saja, gadis Katolik yang rajin mengunjungi gereja setiap minggu pagi itu datang dari arah jalan raya membawa sisa bunga yang ia jual. “Ratih, sini sebentar, nak.” Bik Ine memanggil Ratih untuk bergabung bersama mereka. Ratih mendekat dan berdiri di samping Bik Ine dengan wajah tertunduk, tak ingin menatap siapa pun.
“Baik, teman-teman, sebelum kita memulai kegiatan kita selama tiga bulan di sini, mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing. Doa dipersilakan.” Bayung memandu untuk berdoa bersama. Semua orang menundukkan kepala untuk berdoa. Bayung kembali melirik ke arah Ratih, memastikan sekali lagi bagaimana cara Ratih berdoa. Benar saja, Ratih mengepalkan kedua telapak tangannya di dadanya setelah meletakkan bunga yang ia bawa di tanah. Dan matanya terpejam. “Memang benar, keyakinan kita berbeda.” Bayung sudah tahu, tapi terus meyakinkan dirinya berkali-kali bahwa Ratih benar-benar seorang Katolik. Walau begitu, perasaannya sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Ia masih mencari jalan keluar tentang bagaimana ia harus menjalin hubungan dengan Ratih tanpa ada yang terhianati, atau ia harus benar-benar melupakan Ratih.
Setelah itu, Bayung dan teman-temannya pergi menuju musala untuk memulai kegiatan mereka. Bintang dan Fetri juga melihat-lihat kondisi musala yang cukup luas dan bangunannya masih bagus. Yang lain merapikan tas dan perlengkapan.
“Teman-teman, kita akan menggunakan tempat ini sebagian untuk mengajar. Tempatnya sangat luas. Nanti bisa dibuatkan pembatas untuk ruang istirahat kita. Sekarang aku dan YK akan pergi menemui Bik Ine dan kepala desa untuk meminta data, sisanya merapikan ruangan ini dan belanja ke pasar. Bagaimana?” Bintang segera membagi tugas. Gerakannya sangat cepat, cara berpikirnya begitu matang, parasnya juga cantik. Siapa yang tak ingin menjadi kekasihnya? Semua tim setuju dan segera melaksanakan tugas masing-masing. Bintang dan YK pergi menemui Bik Ine.
“Saya mempercayakan data rahasia ini kepada Mbak Bintang. Mohon dijaga kerahasiaannya, ya.” Bik Ine memberikan map berisi data pribadi penghuni Rumah Odha setelah Bintang beberapa kali memohon, dan menjelaskan bahwa sebagai calon psikolog, ia akan membantu memberi konseling dan dukungan moral kepada anak-anak untuk kuat menjalani hari-hari mereka dan tetap berjuang meraih masa depan yang indah. Bik Ine pun yakin dan mempercayakan hal itu kepada Bintang. “Terima kasih, Bik. Saya akan bertanggung jawab dan berjuang keras untuk para odha di sini.” Jawab Bintang menerima map berwarna merah yang sudah sedikit lusuh tersebut. Bintang dan YK juga pergi menemui kepala desa untuk meminta data anak-anak yang putus sekolah. Selama di sana, mereka akan membuka rumah belajar gratis untuk meningkatkan minat anak-anak agar kembali ke sekolah formal.
Hari sudah sore. YK berpamitan untuk pergi ke kota. Ia tetap akan siaran radio dan mengontrol kedai selama menjalankan program KKN-nya. Bayung bersedia meminjamkan sepeda motornya untuk YK pulang-pergi ke Bandungan. Roni dan Fetri belum kembali dari pasar, sedangkan Iwan istirahat di dalam musala sambil mendengarkan radio yang sengaja ia bawa dari rumah. Tersisa Bayung dan Bintang duduk di teras musala. Mereka tak ada perasaan apa pun lagi, bahkan sedang memperbaiki hubungan sebagai sahabat. Suasana sore yang mendung, lampu penerang mulai dinyalakan meskipun tak benar-benar menerangi karena redup, bersama suara kidung dari radio yang diputar dari dalam musala membuat suasana begitu sendu tapi kaku.
“Yung, kamu sering datang ke mari? Kenapa tidak pernah mengajakku sekali pun?” Tanya Bintang memulai obrolan. Ia melepaskan alas kaki lalu menekuk kakinya di atas teras musala, duduk di samping Bayung, namun tidak terlalu dekat.
“Kamu jarang terlihat, kan? Aku menemukan kebahagiaan lain di tempat ini, bersama anak-anak yang tidak seberuntung diriku.” Jawab Bayung mengutarakan perasaannya tentang Rumah Odha.
“Kamu benar, mereka tidak seberuntung kita. Hanya ada sembilan orang yang kita tahu di sini, tapi entah ada berapa ratus bahkan ribuan orang di luar sana yang membutuhkan pertolongan untuk bertahan hidup. Maka dari itu, Yung, aku juga memasukkan program untuk Rumah Odha. Kita akan memberi pengertian kepada masyarakat tentang odha. Kita juga akan memberi semangat dan motivasi untuk para odha agar terus berjuang untuk hidup mereka.” Semangat Bintang sama sekali belum surut meski seharian telah melakukan aktivitas yang melelahkan.
“Sembilan? Kau sudah menghitung dengan benar? Setahuku, hanya ada tujuh odha yang tinggal di sini.” Bayung memastikan lagi pada Bintang, sebenarnya Bayung tak pernah bertanya dengan pasti pada Bik Ine siapa saja odha di rumah itu.
“Sembilan, Yung. Aku melihat data yang diberikan oleh Bik Ine.” Jawab Bintang dengan yakin.
Bayung segera berpikir siapa dua orang lagi? “Apa aku boleh melihat datanya?” Bayung ingin memastikan.
“Kamu sering datang ke mari tapi tak pernah tahu siapa saja yang odha?” Bintang merasa heran. Ia memberikan map merah itu kepada Bayung setelah mengeluarkannya dari dalam tas. Ia berpikir Bayung sudah menjadi bagian dari keluarga Rumah Odha, jadi tak mungkin ia menyebarkan data pribadi tersebut. Ia juga mengenal Bayung sebagai seorang yang penuh tanggung jawab. Dengan perasaan ragu, Bayung membuka map itu perlahan. Mulai dibacalah data pribadi para odha di sana. Tangannya bergetar. Kepalanya tiba-tiba berputar seakan baru saja terbentur benda dengan keras. Ia memejamkan mata setelah melihat nama Ratih ada di dalam daftar nama-nama odha. Hanya nama Bik Ine dan Galuh yang tidak tercantum di sana. Bahkan ia masih terluka karena mengetahui Ratih seorang Katolik. Hari ini, ia dibuat hancur sekali lagi oleh rahasia Ratih yang lain, yaitu seorang odha.
“Yung. Kamu kenapa?” Bintang menyadarkannya. Bayung tak bergeming. Suara radio yang terdengar samar dari dalam musala mulai memutar lagu-lagu klasik. Acara Coretan segera dimulai. YK sudah siap di balik studio untuk membawakan acara dan membacakan karya tulis dari pendengar.
“
Terjaga ku dalam lamunan, hingga bulan terbenam
Hilanglah bersamanya cahaya malam, yang damai nan temaram
Menangisku dalam sesal, hingga kering air mataku
Hilanglah bersamanya kebahagiaan, yang memberiku senyuman
Menyesalku dalam dekapmu, hingga datang penebusan-Mu
Hilanglah semua dosa-dosaku dalam pelukan suci Tuhanku.
Bulan Terbenam/Oleh: Senja
”
Setelah sekian lama, terdengar lagi puisi milik Senja dibacakan. Perasaan Bayung masih teriris, namun telinganya menyimak dengan baik syair yang baru saja diputar.
“Wah. Bagus ya!” Bintang yang baru pertama kali mendengar juga memujinya. Sebenarnya, suaranya mengganggu konsentrasi Bayung.
“