Gemercik suara rintik gerimis menari di atas genting tanah liat yang menaungi musala tempat Bayung dan kawan-kawannya istirahat. Hembusan udara dingin yang menerobos masuk melalui sela-sela ventilasi di atas pintu dan jendela yang berbaris mengelilingi musala tidak membuat Iwan dan Roni terganggu. Mereka berdua justru membungkus tubuh mereka dengan selimut masing-masing yang mereka bawa dari rumah dan tetap terlelap. Tetapi tidak dengan Bayung; ia sudah terjaga di balik jendela besar yang menghadap ke arah jalan. Duduk termenung menikmati gerimis yang sepertinya sudah turun sejak dini hari tadi. Sudah masuk waktu subuh, terdengar gema azan samar-samar bersahutan dari yang paling dekat hingga semakin jauh.
Hari masih cukup gelap dan dingin untuk seseorang melakukan kegiatan. Ia masih mengumpulkan nyawa untuk beranjak dari singgasananya dan membangunkan kedua temannya untuk salat subuh. Sementara Galuh dan Ratih sudah keluar dari rumah untuk pergi bekerja. Mereka berdua berjalan melewati musala tempat Bayung dan teman-temannya menginap. Galuh berjalan lebih dulu di depan Ratih tanpa menggunakan payung. Ia hanya menutup kepalanya dengan tudung jaket parasut yang ia kenakan, sementara Ratih berjalan di belakangnya menggunakan payung berukuran kecil dengan motif bunga yang hanya bisa meneduhkan satu orang saja. Bayung menatap mereka dari dalam musala, tetapi wajah manis Ratih tertutup daun payung yang ia pakai untuk menghalau hujan. Tangan kirinya menjinjing rok agar tidak terkena gerimis yang menari di tanah. “Sementara gadis-gadis seusianya masih merasakan hangat di dalam selimut, dia harus menerjang gerimis sepagi ini. Sungguh gadis yang malang.” Gumam Bayung dalam hati merasa iba pada Ratih, tapi ia enggan keluar untuk menyapa mereka berdua. Sambil berbincang, Galuh dan Ratih berjalan menuju pasar. Galuh bekerja sebagai sopir yang mengantarkan bunga dari kebun ke pasar untuk dijual. Sedangkan Ratih harus menunggu di pasar lebih pagi karena ia tak ingin kehabisan bunga segar untuk dijual karena harus berebut dengan para penjual yang juga sudah menunggu di sana.
Hari semakin siang menyisakan genangan air gerimis subuh tadi. Bintang, YK, dan Fetri datang ke musala untuk bergabung dengan Bayung dan yang lainnya. Para gadis membawa sarapan yang mereka masak di dapur rumah Bik Ine. Ada nasi, urap daun pepaya, dan ikan asin goreng yang mereka bawa menggunakan daun pisang. Di rumah Bik Ine, hanya ada suaminya yang jarang sekali masuk ke dapur, sehingga mereka cukup leluasa menggunakan dapur untuk memasak. Setelah sarapan bersama, mereka segera bersiap untuk melakukan kegiatan KKN mereka di hari pertama. Semua telah lengkap mengenakan jas almamater biru tua kebanggaan, menyiapkan buku-buku untuk belajar anak-anak seperti dongeng bergambar, buku mewarnai, buku berhitung, buku belajar membaca, dan lain-lain.
Sudah menunggu cukup lama di area musala sampai beberapa kali saling bertukar posisi duduk, berdiri, bahkan tergeletak. Hampir pukul sepuluh pagi, tak ada satu pun anak yang datang memenuhi undangan. Beberapa di antara mereka melepas kembali jas almamater karena jenuh menunggu.
“Bin, kamu yakin semua undangan sudah sampai di tangan mereka?” Tanya Bayung memastikan kepada Bintang.
“Iya, tanya saja YK. Seharusnya ada delapan belas anak yang datang.” Tegas Bintang begitu yakin.
“Mungkin karena tadi pagi hujan, mereka semua lupa? Atau malas untuk jalan ke sini.” Roni masih berpikir positif mengapa mereka tak ada yang terlihat batang hidungnya satu pun.
“Iya, kita tunggu saja.” Sahut Iwan ikut menambahkan meskipun mulai gelisah.
Matahari tak sepenuhnya terlihat; sebagian tertutup oleh awan mendung yang sudah berada tepat di atas kepala. Masih tak ada satu pun anak yang datang ke musala untuk mengikuti kegiatan belajar yang mereka adakan. Suasana hati mereka berubah, semangat juga kian luntur. Raut wajah lesu dan kecewa tak bisa mereka sembunyikan.
“Sepertinya hari ini tidak akan ada yang datang.” Bayung menjadi pesimis karena hari sudah semakin sore.
“Iya, mungkin karena hujan. Hari ini, kita membuat materi belajar saja dulu. Besok kita mulai kegiatan belajarnya.” Ujar Bintang membuat improvisasi kegiatan dan satu-satunya yang tak patah semangat dibanding yang lain. Akhirnya mereka pun menghabiskan hari pertama tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Hanya bermain, menyanyi bersama, menyiapkan bahan belajar untuk anak-anak, dan saling bergurau satu sama lain.
Hari berikutnya, cuaca masih mendung, namun hujan tak kunjung turun. Mereka berenam sudah bersiap menunggu kedatangan anak-anak di depan musala seperti sebelumnya. Tak ada alasan untuk tidak datang kali ini, tetapi berjam-jam menunggu, juga tak ada satu pun anak yang datang.
“Sepertinya tidak akan ada yang datang juga hari ini. Kita yang harus mendatangi mereka untuk memastikan apa alasan mereka tak bisa hadir.” Bintang mengajak anggotanya untuk berkeliling mendatangi rumah anak-anak satu per satu. Tanpa berpikir panjang, semuanya setuju dan mulai bergerak menuju rumah anak-anak yang mereka undang sebelumnya. Mereka berpencar mendatangi satu per satu dari rumah ke rumah, kemudian berkumpul kembali di musala setelah satu jam, kemudian mendapatkan jawaban. Semua orang tua memberikan alasan yang hampir sama, melarang anak mereka datang karena lokasi belajar berdampingan dengan Rumah Odha. Mereka tak ingin anak-anak mereka tertular penyakit karena mendekati rumah yang dihuni oleh para odha. Begitu yang ada di pikiran warga karena kurangnya pengetahuan. Bahkan ketua RT setempat juga tak pernah melakukan sensus sampai ke Rumah Odha, hanya keluarga Bik Ine saja yang masih mereka anggap sebagai warga di sana. Sungguh alasan tersebut membuat Bayung merasa geram dan begitu melukai hatinya untuk yang kesekian kali.
Di tengah-tengah diskusi, Bik Ine datang ke musala dengan membawa satu teko besar berisi teh manis. “Kalian yang sabar ya. Jangan berhenti berusaha. Istirahat dulu. Ini diminum tehnya.” Katanya seolah mengerti apa yang terjadi tanpa dijelaskan karena Bik Ine juga pernah mendapatkan penolakan warga ketika meminta dukungan untuk mendirikan yayasan tersebut.
Bintang, sebagai ketua, tak ingin menyerah begitu saja. Ia melanjutkan diskusi untuk menyusun rencana baru. Setelah menerima beberapa masukan dari anggotanya, akhirnya mereka memutuskan. Bintang sebagai calon sarjana psikologi dan Roni sebagai calon tenaga medis akan memberikan motivasi, dorongan moral dan sosialisasi kesehatan terhadap sembilan odha yang ada di Rumah Odha dengan harapan mereka akan memiliki fisik dan mental yang kuat dalam menghadapi lingkungan yang keras. YK, Fetri, dan Iwan akan mengajar anak-anak di kampung secara bergantian. Mereka berencana akan menggunakan lapangan sepak bola, masjid, kebun, dan sungai sebagai tempat untuk melakukan kegiatan belajar agar tidak membuat jenuh anak-anak, dengan harapan dapat mengembalikan minat para anak-anak yang putus sekolah agar bersedia kembali menempuh pendidikan di sekolah formal, dan juga memupuk kesadaran pentingnya pendidikan untuk bekal masa depan. Sedangkan Bayung dengan misinya sendiri akan membuat sosialisasi besar-besaran mengenai tidak bahayanya para odha terhadap lingkungan, dengan harapan Rumah Odha akan diterima oleh masyarakat sekitar dan dapat hidup berdampingan secara harmonis dan saling mendukung. Bayung akan meminta Galuh untuk membantunya menjalankan misi tersebut. “Semoga dalam tiga bulan ke depan, kita bisa meninggalkan pengaruh positif untuk lingkungan sekitar.” Bintang menutup diskusinya setelah membuat konsep yang matang.
Hari berikutnya, YK, Fetri, dan Iwan mulai mengundang anak-anak lagi untuk berkumpul di lapangan sepak bola. Di hari pertama, tidak ada perubahan yang berarti dari rencana mereka; hanya ada empat anak yang datang dari delapan belas anak yang diundang. Tetapi mereka bertiga tetap menjalankan kegiatan sesuai dengan rencana, melakukan pendekatan dari hati ke hati untuk mendapatkan jawaban mengapa mereka tidak mau pergi ke sekolah. Mereka membuat suasana belajar yang begitu menyenangkan, sampai beberapa hari kemudian mereka berhasil memengaruhi anak-anak yang lain. Anak-anak yang ikut belajar pun mengajak teman-temannya untuk bergabung. Beberapa hari berikutnya, jumlah orang yang hadir bertambah menjadi enam orang. YK, Fetri, dan Iwan terus memutar otak mereka agar anak-anak semakin banyak yang datang. Kadang mereka mengajak anak-anak bernyanyi, bermain tebak-tebakan, belajar menari karena YK juga seorang penari, melakukan permainan tradisional seperti petak umpet, bahkan mengadakan lomba dengan memberi hadiah kepada pemenangnya berupa permen, biskuit, atau makanan kesukaan anak-anak lainnya. Hal itu semakin berdampak baik karena setiap hari semakin bertambah anak-anak yang datang untuk mengikuti kegiatan belajar. Sampai pada akhirnya kedelapan belas anak hadir setiap hari di ruang belajar yang mereka adakan.
Bintang dengan penuh kelembutan memberikan motivasi dan dorongan kepada para odha di yayasan. Bude Lastri dan Ratih juga sering hadir di kelas yang diadakan oleh Bintang. Ia mengumpulkan anak-anak di halaman rumah, bahkan di tepi danau, untuk menciptakan suasana yang berbeda. Dalam kelasnya, Bintang terus memberikan dorongan moral kepada anak-anak untuk bersemangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari, memberi pengertian untuk dapat menerima masyarakat yang sering memandang mereka dengan sebelah mata. Bintang juga berbicara perihal kasih sayang. Menanamkan pola pikir bahwa mereka semua yang tinggal di sana adalah keluarga yang harus mereka sayangi. Dengan saling menyayangi satu sama lain dan saling menguatkan akan membuat mereka lebih mudah dalam menghadapi cobaan hidup. Sementara Roni bergantian dengan Bintang memberikan sosialisasi mengenai hidup bersih dan sehat. Seperti selalu mencuci tangan setiap mau makan, sikat gigi sebelum tidur, bahkan hal-hal mendetail seperti cara penanganan ketika mereka terjatuh dan memiliki luka agar tidak perlu meminta bantuan dari orang lain. Roni menegaskan bahwa jika mereka menerapkan hidup sehat, mereka dapat memiliki teman yang lebih banyak di sekolah, bahkan di kampung mereka. Roni juga mengatakan bahwa jika mereka menerapkan pola hidup sehat, mereka akan cepat tumbuh menjadi orang dewasa dan dapat bekerja menghasilkan uang sendiri. Roni dan Bintang juga beberapa kali mengajak para odha bergantian untuk mengecek kondisi kesehatan mereka di rumah sakit tempat mereka menerima obat rutin. Para odha tampak begitu bahagia dan sering tersenyum, karena biasanya mereka hanya pergi keluar dengan Galuh atau Bik Ine saja.
Bayung meminta bantuan kepada Galuh. Ia membeli beberapa lembar kertas gambar dengan ukuran cukup besar. Bayung berencana untuk membuat slogan-slogan yang menekankan bahwa mereka tidak membahayakan. “Kami tidak berbahaya”, “Kami adalah korban”, “Kami butuh bantuan”, “Jauhi penyakitnya, bukan orangnya” dan beberapa tulisan lain sedang dibuat oleh Bayung dan Galuh di teras musala, di atas kertas berukuran enam puluh sentimeter dengan spidol tebal. Memang tugas Bayung bisa dibilang paling berat karena yang harus ia beri pengertian adalah orang-orang dewasa. Ia banyak membaca lagi dan lagi materi mengenai penyakit HIV dan Aids dan penularannya. Ia tak boleh salah bicara sedikit pun, yang akan berdampak fatal pada Rumah Odha.
Setelah menyiapkan segala perlengkapannya, Bayung mengundang warga untuk berkumpul di aula desa. Kali ini, sebagian besar dari mereka memenuhi undangan Bayung, tetapi mereka datang dengan menggunakan pakaian tertutup. Sebagian orang menggunakan kain untuk menutup mulut sampai ke hidung. Sebagian juga membungkus kaki dan tangan mereka dengan plastik karena tak ingin bersentuhan langsung dengan orang-orang dari Rumah Odha. Tentu saja, dengan alasan takut tertular dan terus begitu. Meskipun perasaan Bayung begitu sedih dan terluka melihat perlakuan warga terhadap Rumah Odha, ia berusaha untuk memakluminya. “Paling tidak, mereka bersedia untuk datang ke mari.” Katanya melapangkan diri sendiri. Semua orang sudah masuk ke dalam ruangan. Bayung hanya menggunakan setelan kemeja biasa tanpa menggunakan jas almamater kampusnya. Ia tak ingin merusak rencana mereka yang sudah dijalankan oleh YK, Fetri, dan Iwan yang hampir berhasil dengan tidak menimbulkan anggapan negatif lagi dari para warga.
Bayung memulai pembukaan sosialisasinya dengan mengucapkan salam dan ucapan terima kasih atas kehadiran warga sekalian. Kemudian ia memanggil Bik Ine, Galuh, Ratih, dan Bude Lastri untuk bergabung bersamanya di depan. Mereka masuk berdampingan saling bergandengan tangan dengan perasaan cemas dan takut. Bahkan Ratih terus menundukkan pandangannya, tak berani sedikit pun menatap warga. Bayung bermaksud membuktikan kepada warga bahwa tidak ada yang perlu ditakuti sama sekali dengan memberikan contoh secara langsung. Belum mulai berbicara, tiba-tiba salah seorang warga menjadi provokator. Dari kursi barisan kedua, seseorang melempar telur busuk dan tepat mengenai kepala Ratih sambil berkata: "Pembawa sial. Tangannya berkali-kali menunjuk ke arah Bik Ine dan yang lain dengan tatapan sangat sinis. Beberapa warga terprovokasi dan ikut berteriak: Pembawa penyakit. Pembawa sial. Malapetaka. Terus bersahut-satuan menjadikan ruang aula sangat gemuruh. Beberapa orang lagi melemparkan telur bergantian, bahkan mengenai Bayung beberapa kali. Bik Ine segera membawa Ratih pergi dari ruangan. Bayung dan Galuh berusaha mengendalikan warga agar tenang. Hari ini rencananya gagal total. Bahkan ia belum berbicara satu patah kata pun. Namun justru sebuah penghinaan yang mereka terima.
Setelah berhasil menenangkan dan membubarkan warga, Bayung segera berlari menuju Rumah Odha. Perasaannya sungguh tidak enak, khawatir dengan Ratih, terluka, pilu, kecewa pada dirinya sendiri, dan segala bentuk perasaan sedih lain berkecambuk dalam hatinya. Semua sedang ia rasakan saat itu. “Ratih, Ratih.” Ia berteriak di depan pintu, memanggil Ratih dengan napas berat terengah-engah.
Galuh segera menghalanginya untuk masuk. Tetapi Bayung berusaha menyingkirkan Galuh dari hadapannya. “Cukup, Yung, cukup. Hentikan rencana kamu ini.” Kata Galuh mendorong badan Bayung.
“Maafkan saya mas, saya ingin meminta maaf kepada Ratih.” Teriaknya masih berusaha untuk masuk dengan suara merintih dan terisak-isak. Galuh semakin kuat mendorong Bayung hingga ia tersungkur ke tanah. Bayung menyerah. Ia tergeletak menunduk. Tangisannya yang dari tadi ia tahan pun akhirnya pecah. Sungguh ia benar-benar merasa bersalah. Bau amis dan busuk dari telur masih melekat di bajunya.
Bik Ine berlari dari dalam rumah. “Galuh. Kenapa kamu ini? Kenapa kamu mendorongnya?” Ia berteriak pada anaknya, tak ingin memperkeruh suasana.
“Bu, tolong bilang padanya untuk menghentikan semua rencananya ini. Karena ini tidak akan berjalan dengan baik, warga akan semakin membenci kita. Dan kita semua bisa diusir dari kampung ini.” Emosi Galuh masih memuncak; suaranya meninggi. Ia juga merasa hancur. Baru kali ini ia dan keluarganya menerima penghinaan seburuk itu. Sebelumnya, warga hanya menjauhi mereka tanpa ada perlawanan fisik. Bayung masih tergeletak di tanah. Ia benar-benar menyesali kejadian yang baru saja mereka alami. Ia mulai berdiri lagi dan berusaha memohon.
“Bik, saya mohon Bik, beri saya kesempatan sekali lagi untuk meyakinkan mereka.” Katanya dengan suara merengek merasa gagal, menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya seraya memohon untuk mencoba sekali lagi. Galuh terdiam, berhenti menanggapi. Emosinya mulai mereda karena melihat Bayung bersimpuh dengan pakaian kotor.
“Sepertinya akan sulit, Mas Bayung.” Kata Bik Ine, setelah beberapa saat terdiam untuk berpikir, ia sama sekali tak yakin dengan cara seperti ini.
“Saya akan mencoba, Bik. Biarkan saya melakukan yang terbaik. Saya akan menebus kesalahan saya.” Bayung masih bertekuk lutut memohon kepada Bik Ine. Tiba-tiba Ratih keluar dari dalam rumah. Rambutnya basah karena bilasan air setelah terkena lemparan telur.
“Saya tidak apa-apa, Bik. Biarkan dia mencobanya sekali lagi.” Sebuah kalimat terlontar dari bibir lembut seorang Ratih yang pendiam. Ia berada di pihak Bayung dan bersikap sangat tegar. Semua orang tertegun di tempat masing-masing. Perasaan Bayung seketika berubah. Ia mendapat dukungan dari sang kekasih hati, orang yang memang ingin ia lindungi di sana.
“Berikan saya kesempatan sampai dengan program KKN ini berakhir, jika tidak berhasil, saya akan menyerah dan berjanji tidak akan datang ke mari lagi untuk menemui kalian. Saya mohon.” Bayung membuat perjanjian secara spontan kepada Bik Ine, Galuh, dan juga Ratih. Ia tak sadar dengan apa yang ia katakan dan memang selalu begitu, sifat keras kepalanya. Jika ia gagal meyakinkan warga itu, berarti ia tak akan pernah bertemu dengan Ratih lagi. Walau begitu, Bayung akan berusaha sekuat tenaga, seperti yang selalu ia lakukan.
Masih membekas jelas di ingatan Ratih mengenai pelemparan telur busuk yang dilakukan warga terhadap dirinya. Suatu pagi buta, seorang warga menjadi mengenali Ratih sebagai salah satu penghuni Rumah Odha dan mengetahui Ratih menjual bunga di pasar, mengajak beberapa orang. Mereka datang ke tempat Ratih berjualan lalu membuat onar. “Woi! Pembawa sial, pergi kamu dari desa ini.” Teriak salah seorang yang berdiri di depan toko bunga Ratih menampakan wajah bengis seakan ingin memakan orang. Beberapa orang lainnya mulai mengambil tumpukan bunga milik Ratih dan menghamburkannya ke sana-kemari sambil terus berkata. “Pergi kamu! Jangan jualan di sini lagi.” Diikuti oleh yang lainnya menginjak-injak bunga yang berserakan. Ratih berusaha menyelamatkan bunga-bunganya yang belum terjual.
“Jangan. Jangan. Saya mohon hentikan.” Sambil menangis terisak-isak, Ratih berusaha melindungi bunga-bunganya yang masih bagus. Tanpa melakukan perlawanan sedikit pun, ia mengambil bunga-bunga yang dibuang bahkan diinjak-injak orang mereka. Tangannya meraih ke sana-kemari. “Aaah.” Ia berteriak kesakitan. Tangannya yang sedang mengambil bunga di tanah terinjak oleh salah satu orang yang terus menginjak-injak bunga secara brutal. Mendengar teriakan Ratih, mereka segera meninggalkan toko Ratih dan berkata, “Jangan sampai besok masih terlihat berjualan di sini lagi.” Ancaman untuk Ratih sebelum mereka pergi dari sana. Sementara Ratih masih duduk terdiam di tanah, di antara bunga-bunga yang sudah hancur terinjak, berhamburan, hampir tak ada yang bisa ia selamatkan, jari manis tangan kirinya berdarah, tangan kanannya menekan agar darah berhenti mengalir, mulutnya nyengir kesakitan, air matanya berderai tak berhenti, suaranya terisak-isak. Hatinya telah hancur untuk ke sekian kalinya. Ia sudah biasa dengan perlakuan buruk orang kepadanya. Ratih justru memikirkan bunga-bunganya yang tak tersisa. Ia harus mengganti semua kerusakan bunganya yang belum terjual sama sekali pagi itu. Segera ia menghentikan tangisannya, memungut beberapa helai bunga yang masih bagus untuk ia selamatkan. Kemudian, beranjak dari tempatnya dan pulang ke rumah, Ratih harus segera membungkus lukanya agar tidak terjadi infeksi.
Mendengar kejadian yang menimpa Ratih, Bayung segera berlari membabi buta menuju Rumah Odha untuk menemui Ratih. Setelah menghadapi Galuh yang menghalang-halanginya dan memohon berkali-kali, akhirnya Ratih keluar dari rumah untuk menemui Bayung. Ia tampak begitu tegar meskipun sebenarnya hatinya sudah hancur lebur tak berbentuk. Jari tangan kirinya sudah terbungkus perban. Mereka berdua pergi ke tepi danau untuk bicara empat mata. Setelah beberapa saat hening, tak ada dialog. Bayung memulai perbincangan.
“Aku minta maaf padamu.”
“Ini bukan salahmu. Kau tahu itu.”
“Apa tanganmu baik-baik saja?”
“Tentu saja, aku sudah mengobatinya sendiri. Tak ada yang boleh menyentuh lukaku, jadi aku harus bisa mengobati diriku sendiri saat terluka.”
“Aku sungguh merasa bersalah padamu.”
“Perihal apa? Sebelum kau datang, hidupku sudah seperti ini. Jadi, ada atau tidak ada kau di sini, aku tetap akan seperti ini. Menerima penghinaan dari masyarakat.”
“Berikan aku kesempatan untuk membantumu.”
“Membantu dalam hal apa? Berusaha meyakinkan mereka akan percuma.”
“Membantumu mendapatkan kebahagiaan. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Aku mohon”