Juli Selepas Senja

Mochamad Rozikin
Chapter #8

Sebelum Bulan Juli

Hari pertama awal masuk kuliah kembali setelah mahasiswa semester keenam melakukan KKN selama tiga bulan. Bayung tak tahan dengan kegaduhan di kelasnya sehingga ia memutuskan untuk keluar dari kelas. Teman-temannya bersahut saling bercerita tentang pengalaman masing-masing di tempat KKN mereka. Semua saling beradu unggul bak lomba debat nasional. Bayung lebih memilih untuk menemui temannya yang lain, tentu saja gazebo favoritnya dan pohon flamboyan yang masih setia berdiri kokoh tepat di samping gazebo. Ia mempercepat langkahnya, sudah tak sabar, segera meletakkan tasnya di meja, mengeluarkan buku, dan duduk di atas akar pohon. Daripada harus bergaduh, Bayung memilih untuk bersajak dengan pohon flamboyan, melepas rindu dan bercerita tentang pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan selama KKN di Bandungan.

“Duhai flamboyan yang menari mengikuti ke mana arah angin bertiup, tidakkah kau merindukanku? Satu-satunya teman setiamu yang gemar tersenyum padamu. Duhai flamboyan yang menanggalkan ranting dan menggugurkan daun serta bunganya di musim kemarau. Tidakkah sekarang kau terlihat sedikit segar karena langit terus menghujanimu dengan segala keberkahan? Duhai flamboyan yang bunganya merah membara di atas hijaunya daun-daun. Terima kasih telah menghalauku dari terik matahari dan memberi tempat ternyaman untukku bersandar. Sajak ini sengaja kutulis untukmu yang kurindukan. Jadi, berbahagialah selalu untukku.”

Setelah hari itu, tak akan ada lagi waktu senggang untuk bersantai. Tugas-tugas kuliah dan laporan sudah menanti di depan mata. Bayung masih ingin berlama-lama berdiam menikmati sepoi angin dari pohon flamboyan. Penanya masih terus menggores memenuhi halaman demi halaman.

Kepada Ratih sang pemilik senja.

Uraian luka yang kupintal kembali menjadi rangkaian sajak merdu dan kulagukan untukmu adalah rayuan hati yang tersayat. Jikalau kau tak suka dengan senandungnya, tutuplah telingamu dan kembalikan syair sumbangku, kan kuputar bersama hujan dan tarian menangis seorang diri.

Doa-doa yang kususun rapi dan kulafalkan pada-Nya di langit dengan penuh harapan adalah bentuk syukurku bertemu denganmu. Jikalau kau enggan berjalan bersanding denganku, mintalah juga kepada-Nya dan ungkapkan dengan siapa kau ingin meraih segala mimpimu yang selama ini kau ceritakan padaku.

Tidaklah mengapa. Kau bukan orang pertama yang menyusun kembali hatiku untuk kau pecahkan lagi pada akhirnya. Tetapi kau orang terakhir yang kuharapkan tinggal bersama di dalam bahteraku yang hampir saja tenggelam.

Dari: Lembayung

Rangkaian sajak rayuan memenuhi satu halaman bukunya yang ia tujukan untuk Ratih. Gadis yang mulai membuat hatinya gelisah karena bersarangnya benih-benih rindu dalam benak. Penanya masih terus menari memenuhi lembaran buku. Bayung masih terus bersajak, mengumpulkan bahan-bahan untuk dimuat di mading sampai beberapa bulan ke depan karena ia tahu akan sibuk bergelut dengan tugas-tugasnya. Tak lupa, ia juga menulis puisi untuk diputar di radio agar curahan hati yang ia rahasiakan dapat didengar oleh Ratih. Ibarat ingin dimengerti tetapi tanpa menjelaskan secara langsung.

Hujan menangisi kemaraunya bumi

Namun pelangi tersenyum sore hari

Lenyaplah jingga sebab senja terbenam

Mereduplah terang menjadi temaram

 

Terbitnya sang fajar adalah sebuah Janji

Hamparan birunya langit memberi isyarat

Hembusan angin yang bertiup adalah wujud

Kebenaran petunjuk yang telah lama tersirat

 

Matahari menatap bulan malam hari

Melukiskan purnama di antara langit gelap

Awan berarak riang menari mengelilingi

Bergugusan indahnya kemerlip bintang

 

Megahnya firman-firman turun dari langit

Menembus rapuhnya sukma manusia

Untuk meyakini adanya sang pencipta

Yang menuntun menuju keabadian hidup

 

Langit berdialog tentang penciptaannya

Bintang meratapi peran keberadaannya

Bulan tenggelam memenuhi takdirnya

Bumi bersujud memohon ampunan-Nya

 

Semesta tertunduk gusar atas penciptanya

Mengapa manusia luput dari kebesaran-Nya

Padahal begitu nyata sajak-sajak dalam kitab

Tetap saja ia ingkar sebab makhluk serupa

 

Dialog Langit malam/Oleh: Lembayung

Begitu yang dirasakan Bayung selama ini: rasa cintanya terhadap manusia berbeda keyakinan, takut mengalahkan keyakinannya sendiri kepada Tuhan. Sudah cukup lama ia berdiam di bawah pohon flamboyan. Matahari semakin bergeser ke arah barat. Bayung segera mengakhiri menulis dan bergegas untuk menemui YK. Sudah cukup lama semenjak KKN mereka tidak berbincang dari hati ke hati. Bayung mengajak YK menikmati jajanan pinggir jalan kota sebelum YK pergi ke tempat ia siaran. Mereka saling mencurahkan apa yang ingin mereka curahkan. Mengingatkan perihal laporan dan tugas kuliah juga pentingnya menjaga kesehatan. Sampai saling memberi semangat satu sama lain.

Hari itu, hari terakhir mereka bertemu untuk beberapa bulan ke depan. Semua mahasiswa semester keenam benar-benar sibuk, tak terkecuali Bayung. Setiap hari, ia pergi ke kampus untuk belajar, pulang mengerjakan tugas dan laporan sampai larut malam. Sesekali ia harus menginap di rumah temannya untuk menyelesaikan tugas kelompok. Di rumah, Bayung hanya bertemu dan berbincang dengan kedua orang tuanya pada saat duduk bersama di meja makan saja. Bahkan akhir pekannya ia gunakan untuk belajar dengan sisa-sisa waktu luang untuk beristirahat.

Di sela-sela kesibukan, rasa gelisah tetap membuat pikirannya tak tenang. Bayung tetap menunggu surat balasan dari Ratih yang tak kunjung ia terima. Meskipun tidak membalas surat langsung dari Bayung, Ratih tetap mengirimkan balasan puisi melalui radio yang dibacakan oleh YK sore itu, menandakan ia memang sengaja tak ingin membalas surat yang dikirimkan oleh Bayung.

Di antara jarak dua keyakinan

Tuhan bentangkan aliran sungai nil

Sebagai penawar tandusnya gurun pasir

Lalu kau bersujud penuh rasa syukur

Lihat selengkapnya