Tanggal satu Juli tahun dua ribu tiga, Bayung sudah menyiapkan semua perlengkapan yang ia butuhkan untuk melakukan perjalanan yang sudah ia rencanakan sebelumnya bersama YK dan Ratih. Dari mulai tenda, matras, sleeping bag atau kantung tidur, peralatan masak, jaket tebal, segala keperluan bahan makanan dan lain sebagainya untuk keperluan mereka bertiga. Setelah memberi kabar kepada YK, Bayung pergi ke Rumah Odha untuk menjemput Ratih. Ia juga memberi tahu Ratih apa saja yang harus ia bawa untuk pergi, mulai dari baju ganti sampai dengan obat-obatan. sekaligus meminta izin kepada Bik Ine. Meski dalam hati penuh kekhawatiran tentang Ratih karena perjalanan ini akan menguras fisik, Bayung tetap mengizinkan Ratih ikut sebagai pemenuhan janjinya kepada Ratih.
“Bik, saya sudah melarang Ratih untuk pergi, tapi dia tetap ingin ikut.” Kata Bayung menjelaskan kekhawatirannya bahwa itu memang keinginan Ratih.
“Bibik mengerti. Bibik titip Ratih, ya mas. Tolong jaga Ratih dengan baik. Jika terjadi sesuatu, segeralah kembali.” Pesan Bik Ine kepada Bayung untuk selalu menjaga Ratih selama perjalanan. Setelah membawa semua perlengkapan, Bayung dan Ratih pergi dari Rumah Odha.
Kali ini, Bayung membawa Ratih menuju terminal bus kota. Setelah menurunkan Ratih dan memintanya untuk menunggu, Bayung kembali pergi untuk menjemput YK. Setelah mereka bertiga berkumpul di terminal, Bayung membeli tiga tiket bus antarkota menuju Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sebelum berangkat, mereka saling mengingatkan agar barang-barang tidak tertinggal.
“Kamu sudah siap?” Tanya Bayung pada Ratih dengan lembut. Ratih menganggukkan kepala yang berarti iya, meskipun sedikit gugup karena ini adalah perjalanan jauh pertamanya selama ia hidup. Bahkan Ratih tak pernah meninggalkan kampung yang telah membuat masa depannya hancur. “Tidak ada yang tertinggal? Obat sudah kamu bawa?” Ratih menganggukan kepala sekali lagi. Sesaat setelah mereka bertiga masuk ke dalam bus, mesin bus segera dipanaskan, kondektur menutup pintu, menghitung jumlah penumpang yang sudah sesuai dengan tiket yang terjual, dan melaporkan kepada sopir. Sang sopir mulai menekan gas dan melepas kopling, menandakan bus akan segera berangkat. Setelah menunggu tiga jam, akhirnya bus antarkota jurusan Semarang-Wonosobo dengan kapasitas lima puluh orang pun berangkat. Ratih duduk di dekat jendela di samping YK, sedangkan Bayung duduk di belakang Ratih seorang diri karena penumpang tidak terlalu penuh malam itu. Bus mulai berjalan meninggalkan Kota Semarang, melewati Ambarawa, Magelang, Temanggung, dan sampai di Terminal Mendolo, Kabupaten Wonosobo setelah empat jam lebih perjalanan. Teriakan kondektur membangunkan para penumpang untuk bersiap-siap turun. Begitu juga dengan Bayung, Ratih, dan YK yang menghabiskan waktu perjalanan untuk beristirahat.
Setelah turun dari bus, Bayung mengajak mereka berdua untuk berganti bus yang akan membawa mereka menuju Dieng, sebuah daerah yang mendapatkan julukan negeri di atas awan oleh para penikmat alam. Dari jendela bus mini yang membawa mereka menuju Dieng, Ratih melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Gunung yang berdiri begitu gagah terlihat sangat dekat, dikelilingi perkebunan sayuran milik warga. Matahari baru saja bangun. Ia terbit dari balik bukit dan barisan pepohonan. Sinarnya langsung menembus jendela tepat mengenai wajah manisnya, seakan memberitahu kehadirannya pagi itu. Ratih membuka sedikit jendelanya, memejamkan mata dan merasakan angin sejuk yang bertiup dari luar menerbangkan rambutnya dan hangatnya sinar matahari pagi itu. “Ini pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah dengan perasaan begitu damai. Tanpa ada rasa cemas sedikit pun.” Katanya dalam hati. Setelah beberapa kali melewati jalan berkelok di kelilingi kabut tebal bagai sedang menembus awan, mereka pun sampai di tempat yang dimaksud oleh Bayung. Di tepi jalan mereka diturunkan, tepat di depan gang besar dengan pendopo kayu bertuliskan “Kali Lembu”.
“Kita masih harus berjalan. Ayo!” Bayung mengajak YK dan Ratih untuk mengikuti dirinya berjalan memasuki Desa Kali Lembu. Tetapi mereka berdua tak mendengarkan Bayung. Mereka belum bergerak, sedang menikmati pemandangan bukit-bukit yang mengelilingi mereka tiga ratus enam puluh derajat. “Ayo!” Kata Bayung sekali lagi menyadarkan lamunan mereka. “Ratih, kamu baik-baik saja?” Tanya Bayung khawatir setelah melalui perjalanan panjang.
“Iya, sangat baik. Lebih baik dari apa pun yang pernah kurasakan dalam hidup ini.” Jawab Ratih dengan perasaan begitu bahagia sekaligus memastikan kepada Bayung bahwa dia sangat baik saat ini. Mereka pun berjalan masuk ke sebuah desa menuju sebuah rumah yang disebut basecamp pendakian.
“Apakah di sini kita akan menginap?” Tanya YK pada Bayung di depan sebuah rumah.
“Bukan, kita akan mendaftar untuk melakukan pendakian ke sebuah gunung.” Jawab Bayung baru menjelaskan kepada mereka.
“Hah? Gunung?” YK terkejut.
“Iya, bukit paling tinggi di belakang kamu itu adalah jalan menuju Gunung Prau. Salah satu gunung yang memiliki pemandangan paling indah di Pulau Jawa. Karena itu, aku mengajak kalian ke mari. Gunung Prau juga memiliki pemandangan matahari terbit terindah, bahkan di Asia Tenggara, menurut salah satu artikel penjelajah dunia. Selain itu, ini adalah gunung yang cukup ringan untuk didaki tetapi memiliki pemandangan yang luar biasa.” Penjelasan Bayung tentang indahnya Gunung Prau membuat YK dan Ratih tak sabar untuk segera melakukan pendakian.
“Perjalanannya berapa lama?” Tanya Ratih mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia belum pernah berjalan jauh setelah didiagnosis sebagai odha.
“Normalnya, pendakian ditempuh selama kurang lebih dua sampai tiga jam. Tetapi kita santai saja, menikmati setiap langkah dari perjalanan kita. Tiga jam, empat jam, lima jam juga tidak menjadi masalah, karena yang terpenting adalah kondisi fisik kita.” Sambil mengisi buku pendaftaran, Bayung menjawab pertanyaan Ratih. Setelah selesai, Bayung mengeluarkan isi tas besarnya yang menjulang tinggi, memeriksa sekali lagi dan menata kembali di dalam tasnya sebagai persiapan pendakian.
“Kalian sudah siap?” Tanya Bayung memastikan kondisi YK dan Ratih.
“Jika ingin menyerah atau tidak siap. Lebih baik bicara dari sekarang. Kita bisa berkeliling Dieng menikmati candi atau kawah. Bahkan ada danau di daerah sini.” Bayung selalu meyakinkan karena ini akan menjadi perjalanan berat, terutama untuk Ratih.
“Aku siap.” Jawab YK membetulkan ikatan tali sepatunya. Ratih mengangguk mengisyaratkan bahwa dirinya juga siap. Sebelum mulai pendakian, tak lupa mereka berdoa menurut keyakinan masing-masing dengan saling berpegangan tangan satu sama lain.
Langkah mereka diawali dengan menyusuri perkampungan warga dengan rumah berundak-undak. Langkah demi langkah membawa mereka menjauh dari desa dan memasuki perkebunan warga yang membentang luas. Tanaman wortel, kol, dan segala macam sayuran ada di sana. Mereka juga melewati perkebunan carica untuk pertama kalinya.
YK berjalan paling depan, disusul oleh Ratih di belakangnya, dan Bayung berjalan paling belakang agar dapat melihat kondisi keduanya. “Lihat, indah sekali.” YK menghentikan jalannya karena kelelahan. Pandangannya tertuju pada sebuah desa yang sudah terlihat kecil dari tempatnya berdiri. Dengan langkah perlahan dan sering sekali istirahat karena mulai kehabisan napas, mereka melewati pos pertama, batas antara perkebunan warga dan hutan.
“Bagaimana? Masih aman?” Bayung memastikan berkali-kali karena ia menjadi satu-satunya laki-laki dalam perjalanan ini.
“Ini sangat indah. Aku semakin penasaran bagaimana keindahan puncaknya.” Kata YK meski napasnya hampir putus dari kerongkongan.
Perjalanan dilanjutkan dengan menapaki akar hutan pinus yang terjal. Bayung mengkhawatirkan kondisi Ratih, tetapi Ratih terus menjawab baik-baik saja karena tak ingin membuat khawatir Bayung. Meskipun yang sebenarnya ia rasakan saat itu hanya lelah dan lelah yang terus berulang setiap beberapa langkah, tenaganya hampir habis, sekalipun sering kali ia beristirahat, ia terus berusaha sekuat tenaga melawan segala keterbatasan fisik yang ia rasakan. Sudah empat jam perjalanan dan mereka telah melewati pos kedua. Jalur pendakian berubah sedikit datar, namun sempit dan licin mengelilingi sebuah badan bukit yang sangat besar. Bunga daisy sudah tumbuh mengiringi jalan yang mereka lalui. “Ini indah sekali.” Kata Ratih sedikit bersemangat dibandingkan sebelumnya. Napasnya mulai teratur karena jalanan sudah tidak terjal. Setelah berputar-putar melalui jalanan berkelok, sampailah mereka di pos ketiga atau pos terakhir sebelum sampai di puncak Gunung Prau. Bayung membuka tasnya, kemudian mengambil roti tawar, mentega, dan cokelat tabur. Ia meracik sandwich untuk YK dan Ratih, sementara mereka tak bergeming melepas lelah dengan napas berat dan mandi keringat.
“Masih berapa lama lagi, Yung?” Tanya YK setelah selesai mengatur irama napasnya, sudah tak sanggup lagi berjalan dan tak sabar melihat keindahan puncak gunung yang diceritakan oleh Bayung.
“Kemungkinan tiga puluh menit sampai di puncak dan sejam sampai di tempat mendirikan tenda.” Jawab Bayung sambil membagikan roti untuk YK dan Ratih.
“Ini untukmu.” Bayung memberikan roti kepada Ratih. “Kamu baik-baik saja?” Seraya bertanya lagi dan lagi tentang bagaimana kondisi fisik Ratih. Ratih mengangguk dan menerima roti dari Bayung. Setelah tiga puluh menit istirahat dan mengisi bahan bakar berupa sandwich dan susu, Bayung merapikan kembali tasnya dan melanjutkan perjalanan. Ia telah memastikan keadaan YK dan Ratih masih cukup baik untuk berjalan.
“Jika menyerah sekarang sudah terlambat. Ini sudah lebih dari setengah jalan. Jadi, bertahanlah sedikit lagi.” Bayung memberi motivasi untuk keduanya.
Kali ini mereka menyusuri punuk gunung dengan jalan kecil diapit dua jurang yang sangat terjal dan dalam seperti sedang melewati sebuah jembatan yang curam. Dengan hati-hati dan menikmati suguhan pemandangan yang tak pernah YK dan Ratih lihat seumur hidupnya, mereka pun sampai di puncak Gunung Prau di ketinggian dua ribu enam ratus sembilan puluh meter di atas permukaan laut. “Kita sampai di puncak.” Kata Bayung dengan napas berat meletakkan tas besarnya dan duduk di atas sebuah batu. Ratih menangis terharu. Rasa lelahnya hilang seketika. Ia tak pernah menyangka dirinya akan menginjakkan kaki di atas sebuah gunung. Ratih mendekati sebuah tugu yang menjadi penanda sebuah puncak gunung, kemudian memeluknya. YK terpana menatap sekeliling. Awan berarak lebih rendah dari tempatnya berdiri. Danau berwarna hijau tua dan kuning di tengah pedesaan terlihat begitu kecil. Di sebelah selatan, hamparan padang sabana dan bukit-bukit kecil berwarna hijau menguning tak kalah indah. Bunga daisy tumbuh dan mekar tersebar di mana saja, sejauh mata memandang. Sebuah gunung besar terlihat mengintip dari balik bukit.
“Bagaimana, K? Ini tempat yang ingin kau lihat?” Tanya Bayung telah memenuhi janjinya.