Minggu ketiga bulan Juli tahun dua ribu tiga adalah minggu terakhir liburan semester genap. Sebelum memulai kesibukan di tahun terakhir kuliahnya, Bayung kembali menjemput Ratih di Rumah Odha lalu membawanya untuk berkeliling Kota Semarang. Sejak pagi buta, Bayung sudah membawa Ratih menuju ikon Kota Semarang peninggalan zaman Belanda yang sangat terkenal, yaitu Lawang Sewu. Menyusuri keindahan bangunan kuno dengan ratusan pintu yang terpasang saling berhadapan di setiap ruangan, mereka saling beradu syair bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
“Duhai Ratih sang rembulan, bagaimana Tuhan menciptakan paras seorang gadis begitu terang mengalahkan terangnya sang rembulan itu sendiri?” Bayung bersyair dari balik satu pintu ke pintu yang lain.
“Tuhan menciptakanku ketika bulan purnama sedang bulat sempurna, di bawah sinarnya yang begitu terang, seorang peri lahir dari rahim ibunya dan menyerap segala kebaikan dari sang purnama, tapi kusisakan sedikit agar ia tak terlalu redup.” Balas Ratih keluar dari persembunyiannya di balik pintu yang ada di seberang Bayung. Senyumannya merekah lebih manis dari sari-sari bunga yang dihisap lebah.
“Lalu, bagaimana bisa seorang rembulan begitu piawai dalam bersyair?” Sahut Bayung melewati pintu selanjutnya.
“Aku berdialog dengan alam yang mengajariku bersyair dengan merdu. Dari perpaduan harmoni gemercik hujan dan celoteh burung kenari waktu subuh. Sebab itu sajakku bagai mantra yang menyihir siapa saja yang menafsirkannya.” Ratih kembali membalas dari balik pintu yang lain.
“Lalu bagaimana denganku? Aku telah mencintai sang Dewi Rembulan yang bahkan untuk meraihnya, aku terlalu kerdil berpangku di atas bumi.” Bayung meneruskan lagi.
“Maka dari itu, simpanlah cintamu untuk yang lain. Berikan saja aku sepotong rindumu yang akan melengkapi ujung sebuah kisah dari pengembaraanku di dunia.” Dengan piawai, Ratih masih terus membalas.
“Lalu apa yang akan kau tinggalkan untukku sebagai penawar rindu jika kelak ingatanku tentangmu kembali hadir?” Bayung juga belum selesai dan tak ingin kalah.
“Sejarah kisah hidupmu sedang kau ukir. Ukir juga hatiku bersamanya sebagai artefak masa depan ketika kau ingin mengenangnya.” Ucap Ratih sebelum Bayung mengakhirinya.
“Hei, mengapa syair-syair kita berujung pada sebuah perpisahan?” Protes Bayung tak bisa membayangkan bagaimana perpisahan mereka kelak akan terjadi.
“Bagaimana ada perpisahan jika tak pernah ada yang bersatu? Kau dan aku selalu menyadari, bukan? Kita tak pernah bersatu sedikit pun. Sedekat apa pun jarak kita, ada sebuah pembatas yang tak akan pernah bisa kita lewati.” Jawab Ratih yang selalu menyadari betapa rumitnya hubungan mereka.
“Setidaknya, aku mencintaimu. Perasaan itu yang satu-satunya bisa menyatukan kita.” Bayung masih membalas syair Ratih.
“Aku memahami cinta seperti apa yang kau rasakan padaku. Dan aku memahami betul apa yang aku rasakan padamu. Berjanjilah padaku, tidak akan ada kisah Laila Majnun di antara kita. Jangan pernah mengorbankan apa pun yang kau miliki sebelumnya hanya untuk seorang gadis.” Ujar gadis yang didewasakan oleh keadaan hidup tersebut begitu bijaksana hingga membungkam mulut Bayung untuk melanjutkan berkata-kata. Ia hanya menatap paras Ratih dari tempatnya berdiri, tidak bergerak ataupun mendekat. Rembulan tak pernah bisa digapai sekalipun terasa sangat dekat.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di Lawang Sewu, mereka bergeser ke Kelenteng Sam Poo Kong. Sebuah tempat peninggalan jejak perjalanan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah dunia yang terkenal asal China. Bangunan yang didominasi oleh warna merah dan oranye dengan patung raksasa Ceng Ho membuat suasana Semarang tersihir, seakan sedang berada di daratan Tiongkok yang membentang hampir separuh dari Bumi ini. Bayung mengambil banyak gambar Ratih dengan kameranya sebagai kenangan perjalanan cinta mereka yang tak akan pernah bersatu.
“Kau tak ingin aku mencetak foto-foto ini sebagai kenangan?” Tanya Bayung kepada Ratih yang sama sekali tidak penasaran dengan hasil fotonya.
“Tidak. Aku tidak hobi menyimpan kenangan dalam bentuk benda. Aku akan hidup selamanya bersama kenangan lewat tulisan-tulisanku yang akan terus dibaca oleh orang yang mengagumi karyaku.” Ungkapan Ratih berkali-kali membungkam mulut Bayung.
Telah dirasa lelah oleh Ratih sehingga ia meminta Bayung untuk beristirahat. Bayung membawanya duduk di bawah pohon yang dikelilingi oleh tukang es kelapa dan mi ayam. Bayung memesan dua gelas es kelapa tanpa gula dan dua mangkuk mi ayam sebagai penawar dahaga dan lapar. Kemudian mereka menikmati duduk di atas tikar tepat di bawah pohon flamboyan. Hingga mangkuk dan gelas sudah kosong, tak ada isinya lagi. Hari juga sudah semakin sore. Bayung kembali mengajak Ratih menuju tempat selanjutnya yang ingin ia tunjukan pada Ratih. Dengan sepeda motornya, Bayung membawa Ratih menyusuri Kota Semarang, kemudian menghentikan sepeda motornya di depan gedung berlantai empat yang menjadi salah satu tempat favorit Bayung untuk menyendiri.
“Apakah kita akan belanja?” Tanya Ratih belum mengerti akan dibawa ke mana dirinya oleh Bayung.
“Ini bukan sekadar pasar; ada sesuatu yang sangat indah di balik kumuhnya tempat ini. Ayo ikut aku.” Jawab Bayung masih belum memberi tahu. Ia menggandeng tangan Ratih dan berjalan masuk ke dalam, menaiki anak tangga menuju atap gedung. Sampai di atap, Ratih masih tak mengerti apa yang ingin Bayung tunjukan padanya.
“Tempat apa ini?” Tanyanya bingung.
“Ayo, ke mari.” Jawab Bayung berjalan menuju tepi barat gedung. Tempat melihat matahari tenggelam paling sempurna menurutnya. Ratih mengikuti Bayung sampai ke tepi gedung, tetapi ia tak ikut naik ke atas pagar karena takut.
“Sebelumnya, telah kutunjukkan padamu tempat untuk melihat matahari terbit paling indah. Hari ini, biar kutunjukkan padamu tempat untuk melihat matahari terbenam paling indah.” Bayung baru menjelaskan setelah mereka sampai di tepi atap gedung yang cukup curam jika melihat ke bawah: “Kita tunggu empat puluh lima menit lagi; dia akan semakin bergeser ke arah barat.” Lanjutnya sambil menunjuk ke arah matahari yang masih cukup terang tetapi sudah cukup rendah di sebelah barat. Sementara Ratih sedang sibuk membetulkan rambutnya yang terus tertiup angin.
“Oh iya. Boleh aku tahu mengapa kau menggunakan kata ‘Senja’ sebagai nama penamu? Kenapa tidak nama-nama bunga yang kau suka, atau menggunakan kata ‘Bulan’ sesuai arti namamu, atau yang lain?” Tanya Bayung selagi menunggu matahari terbenam.
“Karena aku tak ingin pergi secara tiba-tiba seperti kedua orang tuaku. Aku ingin pergi seperti senja yang meredup perlahan, seakan mengisyaratkan kita untuk bersiap menyambut malam yang gelap. Aku ingin pergi seperti senja yang menenangkan hati siapa saja yang menatapnya. Aku ingin pergi dengan dicintai, lalu dirindukan lagi dan lagi.” Jawabnya dengan rasa pilu menatap matahari yang mulai meredup.
“Kau selalu saja bertanya kepadaku; giliran aku bertanya padamu sekarang. Bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini? Apa kau bahagia?” Ujar Ratih balik bertanya kepada Bayung.
“Aku? Sama sepertimu dan semua orang. Aku menjalani hidupku dengan sebaik mungkin setiap harinya. Tuhan telah memberiku tempat yang sangat baik untuk tumbuh dan hidup. Takdir bagaikan sebuah persimpangan jalan. Ke mana pun kau memilih untuk meneruskan jalanmu, keduanya adalah sama-sama takdir yang kau pilih. Bagiku, memilih jalan yang terbaik adalah sebuah pilihan. Aku ingin membantu dan membahagiakan banyak orang, terutama orang-orang yang menyayangiku. Aku sangat ingin membuat mereka bahagia. Dengan begitu, aku juga merasa bahagia.” Begitu pandangan Bayung tentang sebuah kehidupan yang selama ini ia jalani.
Hari semakin sore. Kilauan cahaya emas mulai terpancar dari sisi matahari yang semakin terlihat bulat sempurna di ujung barat. Bias-biasnya menyebar ke seluruh bagian langit dan awan yang tampak di depan mata. “Lihatlah! Indah bukan.” Kata Bayung kepada Ratih menunjuk ke arah langit yang berubah warna menjadi jingga. Ratih sedang memejamkan matanya, merasakan sejuknya udara sore hari yang damai, melepaskan segala pelik yang bersemayam dalam hatinya selama ini, semakin dalam ia merasakan. Tiba-tiba: Gubrak.... Ratih tergeletak pingsan, hidungnya mengeluarkan darah. Bayung menoleh kaget karena mendengar bunyi yang cukup keras, ia segera turun dari pagar, meletakkan kepala Ratih di pangkuannya dengan sangat panik dan mencoba untuk membangunkan dengan menggoyang-goyangkan tubuh Ratih. Ratih masih tak bergeming, darahnya masih keluar dari hidung. Bayung meletakkan tubuh Ratih dan berlari membabi buta meminta pertolongan, ia berteriak sejadi-jadinya: Tolong... Tolong... Tolong... Menuruni anak tangga sampai keluar mencari mobil bantuan yang bisa membawa Ratih ke Rumah sakit. Sementara Ratih masih tergeletak tak sadarkan diri di bawah langit jingga menawan dan angin bertiup membelai rambutnya seakan sedang berusaha menyadarkannya. Indahnya senja terbenam meninggalkan Ratih yang masih tergeletak tak sadarkan diri di sana.
Ambulans datang beberapa menit setelah Bayung meneleponnya menggunakan telepon umum di depan pasar. Ratih segera dibawa menuju Rumah sakit Umum Daerah untuk mendapatkan perawatan. Bayung turut duduk di sanding Ratih yang masih tak sadarkan diri di dalam ambulans yang membawanya dengan sirine yang terus mengaum, ia menangis ketakutan sambil memegang erat tangan Ratih.
Sampai di rumah sakit, dokter segera memeriksa keadaan Ratih di dalam uang IGD. Sedangkan Bayung mondar-mandir di depan pintu sangat cemas menunggu. Setelah selesai dilakukan pemeriksaan fisik, cek darah dan air liur selama beberapa jam. Kemudian dokter memberi tahu Bayung, bahwa akibat kelelahan, sistem kekebalan tubuh Ratih menjadi lemah sehingga Ratih terserang pneumonia, infeksi yang menyebabkan kantung-kantung udara di dalam paru meradang dan membengkak. Kondisi ini sering disebut dengan paru-paru basah, sebab paru-paru bisa dipenuhi oleh cairan atau nanah. Penyebab pneumonia adalah infeksi bakteri, virus, atau jamur. Mendengar penjelasan dokter, kepala Bayung seakan berputar, tubuhnya lemas, ia segera bersandar pada dinding dan menjatuhkan diri ke lantai, duduk sambil memegang kepalanya dan menangis di lantai, Bayung masih berusaha mencerna apa yang sedang menimpa Ratih sekali lagi, ia berpikir kondisi Ratih disebabkan oleh pendakian Gunung Prau beberapa waktu yang lalu.
Sampai perasaannya tenang kembali, Bayung menelepon orang tuanya untuk menemani Ratih di rumah sakit, sementara ia harus mengabarkan kejadian ini kepada Bik Ine dan Galuh. Ayah dan Ibunya sampai di rumah sakit setelah beberapa menit karena cukup dekat dengan rumah mereka. Di depan ruang isolasi tempat Ratih dirawat, Bayung menjelaskan secara terperinci apa yang terjadi sebenarnya dengan Ratih dan hubungan yang sedang mereka jalani termasuk peristiwa ketika tangan Ratih terpotong pisau di dapur. “...Pak, Bu. Maafkan Ayung telah merahasiakan banyak hal tentang Ratih, maafkan Ayung telah berbohong pada kalian soal hubungan kita, sungguh Ayung hanya ingin membuat dia bahagia. Pada akhirnya, kepada kalian Ayung harus meminta bantuan.” Penjelasan Bayung ditutup dengan meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Ibunya segera memeluk Bayung dan memaafkannya tanpa berpikir panjang.
“Sudah, Yung. Kamu yang sabar. Kita tahu kamu sedang melakukan yang terbaik untuk Ratih, dan untuk keluarga.” Dalam pelukan, ibunya menenangkan Bayung. Perasaannya sedikit kecewa, tapi ia harus menahan demi putra semata wayangnya. Setelah selesai menjelaskan dan perasaannya kembali tenang, Bayung segera pergi mengambil sepeda motor yang ia tinggalkan di pasar, kemudian menuju Rumah Odha untuk memberi kabar kepada Bik Ine dan Galuh.
Sepeda motornya melesat sangat kencang jauh melebihi kecepatan biasanya Bayung berkendara. “Bik Ine pasti cemas menunggu Ratih belum pulang.” Itu yang ia pikirkan. Lagi pula jalanan sudah sepi, tak banyak kendaraan lalu lalang. Hanya dalam waktu tiga puluh menit, Bayung sudah sampai di depan Rumah Odha, Bik Ine dan Galuh duduk di teras rumah masih menunggu Ratih pulang dengan gelisah.
“Assalamu’alaikum.” Ucap salam dari Bayung setelah mendekati Bik Ine dan Galuh.
“Wa’alaikumsalam. Ratihnya di mana Mas Bayung?” Jawab Bik Ine terkejut Bayung datang seorang diri.
“Ratih pingsan, Bik. Sekarang ada di rumah sakit.” Ujar Bayung masih dipenuhi rasa bersalah. Bik Ine dan Galuh begitu kaget mendengar apa yang dikatakan Bayung.
“Kenapa bisa? Apa yang kau lakukan terhadap Ratih?” Galuh meninggikan bicaranya menyalahkan Bayung.
“Kata dokter, Ratih kelelahan sehingga sistem kekebalan tubuhnya menurun dan terkena pneumonia.” Bayung langsung berkata jujur tak ingin ada yang ia tutupi. Lagi pula, Bik Ine dan Galuh memang harus tahu apa yang terjadi pada Ratih.
“Kan! Apa saya bilang, bu. Harusnya jangan pernah izinkan Ratih pergi-pergi, bu.” Giliran Galuh menyalahkan Bik Ine yang memberi izin Ratih pergi bersama Bayung.
“Sudah, Galuh. Jangan menyalahkan siapa pun. Semua itu keinginan Ratih sendiri, ibu mengizinkan dia pergi juga karena dia yang ingin pergi. Ibu membiarkan dia melihat dunia luar, ibu tidak ingin dia terperangkap di dalam rumah ini sepanjang hidupnya. Ibu tidak ingin merasa berdosa padanya.” Bik Ine menyanggah apa yang dikatakan Galuh dengan alasan-alasannya sehingga ia berhenti bicara. “Sekarang, kita harus segera ke rumah sakit.” Bik Ine melanjutkan.
“Tidak bu, biar Galuh saja yang pergi, ibu di rumah menjaga anak-anak. Kalau semua pergi, kasihan Bude Lastri, kita harus bergantian.” Galuh memberi saran kepada ibunya. Bik Ine pun mengiyakan. Tanpa berpikir lama, akhirnya Galuh pergi bersama Bayung ke rumah sakit. Sementara dengan perasaan khawatir, Bik Ine harus tetap di rumah untuk menjaga anak-anak yang lain.
Seminggu berlalu semenjak Ratih tak sadarkan diri, Bayung sudah kembali melakukan aktivitas kuliahnya. Setiap dua hari sekali ia bergantian jaga di rumah sakit dengan Galuh dan Bik Ine karena Ratih masih dirawat dan belum sadarkan diri. Sore itu, dengan membawa tugas-tugas kuliahnya, Bayung datang ke rumah sakit untuk menggantikan Galuh yang sudah seharian jaga. Ia datang menghampiri Galuh di depan ruang isolasi tempat Ratih di rawat. Dari kejauhan, Galuh terlihat cemas menatap ke dalam ruangan yang dibatasi dengan kaca besar. Dokter dan beberapa perawat sedang memeriksa keadaan Ratih dengan memakai pakaian khusus berwarna hijau. Bayung segera berlari untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Mas Galuh. Apa yang terjadi?” Tanya Bayung kepada Galuh dengan cemas.
“Baru saja, Ratih sadarkan diri, dokter sedang memeriksa keadaannya.” Jawab Galuh. Mendengar kabar tersebut, Bayung merasa sedikit lega karena masih ada harapan untuk Ratih. Setelah tak lama menunggu, dokter selesai memeriksa dan keluar dari ruangan.
“Bagaimana dok?” Tanya Galuh tak sabar mendengar perkembangan Ratih.
“Keadaannya semakin baik, tetapi ia harus terus menerima perawatan di rumah sakit karena pneumonianya tetap harus diobati, karena jika tidak, itu akan sangat berbahaya bagi keselamatannya.” Penjelasan dari dokter sedikit melegakan perasaan Bayung, tetapi tidak untuk Galuh yang memikirkan biaya rumah sakit selama Ratih dirawat.
“Saya akan membicarakannya dengan ibu saya dok. Karena ini berkaitan dengan biaya perawatan.” Jawab Galuh harus berdiskusi terlebih dahulu dengan Bik Ine.
“Baiklah, setelah mengambil keputusan, harap segera hubungi saya.” Kata dokter meninggalkan Bayung dan Galuh.
Setelah dokter pergi, Bayung dan Galuh berdiri dari luar jendela menatap Ratih yang sudah sadar. Dari dalam ruang perawatan, Ratih menjawab tatapan keduanya dengan senyuman meskipun oksigen masih terpasang di mulutnya. Galuh memakai pakaian khusus untuk masuk ke dalam ruang isolasi, ia ingin berbicara dengan Ratih sebelum pulang.
“Ratih, kamu merasa lebih baik? kamu harus kuat. Semua akan segera membaik.” Kata Galuh duduk di kursi tak jauh dari ranjang tempat Ratih berbaring. Ratih mengangguk memberi isyarat. Jarinya menunjuk mengelilingi lehernya memberikan isyarat kepada Galuh untuk membawakan kalung miliknya ketika ia kembali ke rumah sakit lagi nanti. Sungguh iba perasaan Galuh kepada seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya terkapar tak berdaya.
Hari berikutnya, Bik Ine dan Galuh datang bersamaan menggantikan Bayung untuk pergi kuliah.
“Mas Bayung, kita sudah memutuskan akan membawa pulang Ratih. Bibik sudah tak punya tabungan lagi untuk biaya rumah sakit.” Kata Bik Ine setelah diskusi semalaman dengan Galuh.
“Bik, tapi Ratih harus terus mendapatkan perawatan.” Bayung tak setuju dengan keputusan mereka. “Lagi pula, di rumah banyak anak kecil. Itu akan sangat beresiko untuk Ratih dan kesehatan mereka.” Bayung menambahkan.