Juli Selepas Senja

Mochamad Rozikin
Chapter #11

Rona Senja

Pagi masih diselimuti kabut tebal yang menghalau pandangan. Udara sejuk tertiup angin dari arah timur. Sang fajar baru saja terbangun, meluruhkan embun-embun dari dahan dan daun-daun. Bayung sudah berdiri persis di depan makam Ratih. Baru saja ia meletakkan untaian bunga mawar merah di balik nisan yang tertulis dengan jelas nama Ratih Maheswari, lengkap dengan salib dan patung Tuhan Yesus yang terukir di atasnya. Bayung sedang mengucapkan salam perpisahan karena ia telah memutuskan untuk pergi merantau ke ibu kota.

“Aku tahu kau sudah bahagia di tempat yang tak bisa kulihat. Hari ini aku akan pergi, membawa semua buku-buku dan ceritamu. Aku akan mewujudkan mimpimu untuk hidup selamanya di dalam buku yang kau tulis. Aku berjanji. Selamat tinggal, Sang Senja yang telah lama terbenam.” Katanya dalam hati dengan mata berkaca-kaca.

Setelah berziarah ke makam Ratih, Bayung juga datang ke Rumah Odha untuk berpamitan dengan Bik Ine dan Galuh.

“Aku akan pergi ke Jakarta, aku akan menulis ulang buku Ratih, lalu mencari penerbit buku yang bersedia menerbitkan tulisan-tulisannya. Aku berharap kalian selalu sehat dan bahagia.” Terang Bayung menjelaskan tujuan kepergiannya. Ia juga memberikan donasi cukup banyak untuk keperluan Rumah Odha. Sebelum pergi, cukup lama Bayung memeluk erat Bik Ine dan Galuh secara bersama-sama. Mau bagaimana pun, ia telah menjadi bagian dari Rumah Odha, menjadi saudara untuk Galuh, dan anak untuk Bik Ine. Itu tak akan berubah sampai kapan pun. Menjadi sebuah keluarga adalah menautkan hati dan jiwa. Dan rumah adalah raga yang melindungi isinya.

Malam harinya, Bayung datang ke sebuah gedung pertunjukan. Terlihat sangat ramai antusiasme pengunjung yang hadir, tak kalah dengan pertunjukan drama di TV nasional. Setelah membeli tiket, ia segera masuk lalu memilih tempat duduk dan menunggu pertunjukan drama musikal dimulai. Tiba-tiba lampu dimatikan dan diganti dengan lampu sorot yang terpusat ke arah panggung. Para seniman muncul satu per satu membawakan perannya masing-masing. Seorang gadis yang berperan sebagai tokoh utama dalam pewayangan adalah YK. Ia terlihat sangat piawai dan ahli dalam berperan. Cerita demi cerita ia bawakan dengan penuh penghayatan. Tiba-tiba seseorang berdiri bersorak menghalangi pandangan Bayung. Ia adalah Putri yang begitu bangga terhadap pencapaian YK.

Setelah pertunjukan selesai, Bayung menemui YK di belakang panggung untuk mengucapkan salam perpisahan. YK masih menggunakan kostum perannya berlari menghampiri Bayung.

“Hei, bagaimana sandiwaraku?” Tanya YK sangat bahagia dengan pekerjaan barunya. Napasnya sedikit gelagap.

“Tidak pernah ada yang meragukanmu. Kamu selalu melakukan yang terbaik.” Jawab Bayung begitu bangga dengan sahabatnya.

“Kamu tidak pernah bilang akan datang ke mari?” Tanya YK lagi kepada Bayung.

“Ini mendadak. Aku akan pergi ke Jakarta besok.” Ujar Bayung langsung pada pokok yang ingin ia sampaikan.

“Apa? Kenapa tiba-tiba?” Tanya YK tidak menerima bahwa sahabatnya akan pergi begitu saja.

“Aku akan mencari penerbit buku yang bersedia menerbitkan tulisan-tulisan Ratih, bersama itu, aku akan meneruskan sekolahku di sana.” Bayung menjelaskan alasannya.

“Kamu akan kembali ke Semarang, kan?” Kata YK melanjutkan pertanyaannya.

“Tentu saja, segala yang aku miliki ada di kota ini, mana mungkin aku meninggalkannya begitu saja.” Jawab Bayung. Kemudian ia melanjutkan. “Aku akan sering mengirim email untukmu. Jika uangmu sudah terkumpul, belilah telepon genggam agar kita bisa terus berkomunikasi. Teknologi sudah semakin canggih sekarang.”

Putri menghampiri mereka, menyela pembicaraan. “Halo! Mas Bayung.” Katanya. Sebelum membalas sapaan Putri, Bayung melirik ke arah YK.

“Dia tinggal denganku sekarang. Kita sudah berjanji akan bertahan sejauh dan sekuat yang kita bisa.” YK menjelaskan sebelum Bayung bertanya dengan perasaan malu.

“Itu artinya?” Tanya Bayung sedikit terkejut ingin memastikan sekali lagi apa yang ada di pikirannya.

“Artinya, kita menjalin sebuah hubungan yang serius. Dia memutuskan untuk kembali padaku. Ayahnya sudah tidak pernah berbuat macam-macam lagi semenjak pulih dari sakit. Kau tidak keberatan memiliki teman sepertiku, bukan?” Ujar YK menjelaskan sekali lagi.

“Tentu saja, sama sekali tidak keberatan. Kita sudah berteman lama dan saling mendukung. Aku akan bahagia dengan apa pun yang membuatmu bahagia. Begitulah seharusnya sebuah keluarga, kan?” Tegas Bayung.

“Katamu, cintailah tanpa ambisi. Aku selalu mengingat kata-kata itu. Aku akan memperlakukan perasaanku dengan bijak. Tenang saja.” Sahut YK lagi. Setelah cukup lama berbincang, Bayung dan YK berpelukan sebagai salam perpisahan.

“Jaga dirimu baik-baik.” Kata YK melambaikan tangan. Air matanya membuat riasan wajahnya luntur. “Kemarilah. Peluk aku,” YK menarik tangan Bayung dan memeluknya erat. Tangisannya menjadi-jadi.

Keesokan harinya, Bayung diantarkan oleh kedua orang tuanya menuju terminal bus antar provinsi. Tepat pukul delapan pagi, bus yang ditumpanginya berangkat meninggalkan Kota Semarang menuju Kota Jakarta. Perjalanan yang akan memakan waktu selama sembilan jam menjadi perjalanan paling jauh pertama bagi Bayung. Perasaannya sungguh pilu.

“Aku sedang mengukir sejarah dalam hidupku sendiri. Ini pertama kalinya aku meninggalkan Kota Semarang untuk jangka waktu yang lama, meninggalkan semua alasan untuk semua perjuanganku. Sampai hari ini, aku masih ingin melakukan yang terbaik untuknya, meskipun dia sudah tak ada lagi di dunia ini. Aku janji, ini adalah yang terakhir sebelum aku menata masa depanku lagi.” Ia kembali menulis di halaman kosong buku milik Ratih. Selama perjalanannya, Bayung menyelesaikan membaca semua buku milik Ratih. Ia terus mempelajari apa yang ingin Ratih sampaikan dalam tulisannya sampai tak terasa sembilan jam berlalu dan Bayung sampai di Ibu Kota Jakarta.

Setelah turun dari bus, Bayung segera mencari penginapan murah di dekat terminal untuk ia beristirahat satu malam sambil mencari rumah kos untuk jangka waktu yang lama. Setelah meletakkan dua tas besarnya di dalam kamar, Bayung kembali keluar untuk mencari rumah kos. Perjalanannya di perantauan telah dimulai dengan pencarian rumah kos yang cukup sulit karena Bayung mencari tempat yang paling nyaman untuk ia tinggali dalam waktu yang lama. Sudah hampir larut malam. Bayung baru saja mendapatkan tempat yang cocok untuk dirinya. Ia segera kembali ke penginapan dan baru akan pindah ke kamar barunya esok hari.

Kamar berukuran dua kali tiga meter di lantai dua dekat dengan salah satu universitas ternama di negeri ini inilah yang dipilih Bayung, dengan fasilitas kasur, lemari, meja untuk belajar, dan kamar mandi, yang dirasa cukup melengkapi kebutuhannya.

Hari berikutnya, Bayung membeli komputer rakitan sendiri sebagai fasilitas penunjang belajar dan bekerja. Setelah itu, ia memulai menyalin sedikit demi sedikit tulisan Ratih di komputer, sambil menunggu panggilan kerja dan awal perkuliahan magister yang akan ia ambil.

Hari-hari berlalu dengan cepat karena hampir tak ada waktu untuk berantai. Setelah beberapa minggu di Jakarta, Bayung mulai terbiasa dengan rutinitasnya. Setiap pagi, ia harus bekerja sebagai seorang desainer grafis di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur otomotif. Setelah pulang kerja, Bayung pergi ke kampusnya untuk menempuh pendidikan S2-nya di jurusan Manajemen Bisnis sesuai permintaan ayahnya. Setelah pulang dari kampus, Bayung terus mempelajari dan menyalin buku milik Ratih di komputer hingga menjadi sebuah novel dan antologi puisi yang siap untuk diajukan kepada penerbit.

Setelah memakan waktu berminggu-minggu, akhirnya Bayung selesai menyalin semuanya dengan rapi dan dirasa sudah bagus menurutnya. Kemudian Bayung mencetak cukup banyak salinan kedua naskah yang ia beri judul “Senja Terbenam” untuk novelnya dan “Syair-syair Bulan” untuk antologi puisi. Kemudian ia memasukkan ke dalam amplop satu per satu dan mengirimkannya ke alamat-alamat penerbit buku yang sudah ia dapatkan dari internet dan beberapa kenalannya. Harapannya sungguh besar kali ini. “Ini adalah sebuah mimpi dan harapan seseorang. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik.” Sambil memejamkan mata, ia berdoa sebelum membawa amplop-amplop tersebut ke kantor pos.

Setiap hari, Bayung menjalankan aktivitas sehari-hari dengan penuh harapan mendapat balasan surat dari penerbit yang menyetujui tulisan milik Ratih. Di waktu luang, ia juga pergi untuk mencari penerbit buku dengan membawa naskah milik Ratih, keluar-masuk perusahaan penerbitan buku. Tak jarang ia diusir karena tidak membuat janji sebelum mengajukan naskah. Dan tak jarang pula naskahnya hanya ditumpuk bersama naskah-naskah lain yang lebih dulu ada di atas meja redaksi yang tampak lusuh tertimbun debu karena belum disentuh sama sekali.

Setelah enam bulan sejak ia mengirimkan naskah dan mendapatkan puluhan penolakan dari penerbit, akhirnya perjuangan Bayung membuahkan hasil. Beberapa penerbit memberikan kesempatan untuk menerbitkan tulisan milik Ratih dengan syarat harus memperbaiki beberapa jalan cerita dan teknik penulisannya. Tanpa berpikir panjang, Bayung menyetujui untuk mengkaji kembali dan memperbaikinya. Sampai pada akhirnya, novel berjudul “Senja Terbenam” karya Ratih Maheswari pun resmi diterbitkan di sebuah penerbit besar yang sudah sangat terkenal. Sedangkan antologi puisi yang berjudul “Syair-syair Bulan” diterbitkan oleh penerbit lain yang tak kalah terkenalnya setelah tiga bulan penerbitan novel. Bayung menandatangani surat perjanjian dengan kedua penerbit dengan penuh rasa haru. Kedua buku karya Ratih masing-masing telah dicetak lebih dari seribu eksemplar dan diperjualbelikan di toko-toko buku yang tersebar di seluruh Indonesia. “Sungguh ini adalah persembahan terakhirku untukmu, Ratih. Semoga kamu selalu berbahagia, di mana pun kamu berada.” Katanya, dalam hati memikirkan masa-masanya bersama Ratih yang penuh dengan syair-syair indah bersenandung.

Selama dua tahun, dengan segala kesulitan yang ia hadapi, Bayung bertahan di Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan magisternya. Sampai pada akhirnya ia dinyatakan lulus dengan predikat terpuji. Bayung selalu berusaha menyelesaikan apa pun yang sedang ia kerjakan dengan sebaik mungkin. Kedua orang tuanya dengan bangga datang ke Jakarta untuk menghadiri acara wisuda kelulusan Bayung yang kedua kalinya. Setelah acara perayaan selesai, Bayung dan kedua orang tuanya menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Jakarta seperti Ancol, Dunia Fantasi, dan ikon negara Indonesia, yaitu Monas. Mereka juga pergi ke Masjid Istiqlal yang berada tak jauh dari Monas. Dari jendela-jendela besar masjid, Bayung menatap sebuah gereja besar dan megah di seberang jalan. “Seperti inilah gambaran nyata hubunganku dengan Ratih. Saling menatap dan memperhatikan satu sama lain, namun berbeda tujuannya. Tapi keduanya sangat megah dan kuat. Dari sebuah perbedaan, mereka saling melengkapi dan memberikan keindahan sebuah tempat.” Hanya Ratih yang ada di benaknya. Ingatannya kembali pada perbedaan mereka yang sama-sama kuat, bahkan tidak bisa dihancurkan sekalipun oleh rasa cinta.

Hari berikutnya setelah semalaman tidur berdesakan dengan kedua orang tuanya di kamar kos Bayung, ia memutuskan akan ikut kembali ke Semarang bersama kedua orang tuanya. Selama di Jakarta, ia tak banyak memiliki teman karena kesibukannya, sehingga tak ada yang akan menahannya kapan pun ia pergi. Ia hanya berpamitan dengan beberapa teman kerjanya yang sering membantunya dalam menyelesaikan pekerjaan.

Pergi

Dari bawah jalinan jerami yang begitu teduh

Langkah pertama dari kaki kananku beranjak

Meninggalkan bumi yang menimang kasih

Melepaskan cinta yang tiada tiganya

Berpaling dari paras wanita sayup-sayup

 

Mengejar rentetan mimpi yang tersusun

Berkejaran dengan waktu dan pikiran

Terengah-engah di bawah terik dan hujan

Lihat selengkapnya