Arjuna melambatkan laju motornya di sebuah rumah dua lantai. Bangunan itu berdindingkan tembok keramik berwarna emas. Cahaya matahari sore itu memantul di tembok tersebut. Lantainya juga berkeramik warna emas. Pintu rumahnya terbuat dari kayu jati yang kokoh. Atapnya tetap dari genteng. Halamannya luas, lebih luas dari halaman beberapa rumah di sekitarnya. Di bagian samping kiri, terdapat garasi yang luasnya bisa dimasuki mobil, maupun motor. Bagian samping rumah dibatasi oleh tembok. Di balik tembok, juga terdapat bangunan rumah lain. Di sela-sela tembok pembatas dan dinding luar garasi, tumbuh pohon mangga yang kini sudah berbuah lebat. Buahnya harum segar tercium oleh indra penciuman.
Di halaman depan rumah, terdapat area khusus yang tumbuh rumput untuk ditaruh beberapa jenis tanaman termasuk bunga. Di area itu juga, tumbuh pohon jambu yang sudah berbuah matang kemerahan. Sedangkan selain area itu, dipasang jalan setapak yang terbuat dari paving. Jalan itu menghubungkan dengan garasi serta pintu rumah.
Di teras rumah, diletakkan dua buah kursi besi saling berhadapan dan meja kecil yang di atasnya diletakkan pot kecil berisi bunga mawar merah.
Arjuna turun dari atas motor. Ia melepas helm, lalu melangkah masuk ke dalam rumah besar itu. Raut wajahnya tampak datar, berbeda dengan tadi saat di sekolah bersama Aletta.
Baru selangkah ia masuk rumah, suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Jangan lupa cuci piring. Tuh di dapur numpuk." Seorang wanita paruh baya duduk, mengamati kukunya yang berwarna merah karena henna.
Arjuna menoleh sesaat, memandangi wanita itu. Raut wajahnya tak berubah. Hanya berdehem singkat, "Hm." Lalu kembali berjalan ke arah kamarnya di lantai satu.
Berganti baju, bersih-bersih sebentar, lalu kembali keluar dengan setelan kaos hitam dengan celana pendek hijau. Melangkah ke dapur. Melihati area dapur--piring masih bergeletakan di meja makan bersama gelasnya, mangkok, penuh noda.
Remaja itu menghela napas panjang. "Bakalan lama ini," gumamnya.
Ia memunguti piring, mangkok, dan gelas yang ada di meja makan, membawanya ke wastafel untuk dicuci di sana. Sembari tangannya bergerak mencuci, pikirannya sibuk menerawang kejadian saat di sekolah tadi. Tentang Aletta.
"Kalau lagi cuci itu jangan sambil melamun, piring jatuh nanti," ucap wanita yang tadi duduk di sofa, menghampiri wastafel untuk cuci tangan.
"Iya," sahut Arjuna pelan, sambil kembali fokus mencuci tumpukan piring.
"Papamu nanti pulang, jangan lupa masakin makanan kesukaannya." Wanita tadi kembali berbicara dengan nada datar. Ia mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air putih, lantas menandaskannya. Setelahnya, ia meletakkan gelasnya di meja makan, lalu berbalik keluar dapur, tanpa bicara.
Arjuna menatap kepergian ibunya dengan helaan napas panjang. Hari ini ayahnya memang pulang dari kunjungan bisnisnya dari luar kota sejak seminggu lalu. Tapi menurut Arjuna, ayahnya di rumah ataupun tidak, sama saja.
Arjuna mengambil gelas bekas minum Sukma, meletakkannya di wastafel untuk sekalian dicuci.
***
“Aku pulang!” seru seorang remaja laki-laki sembari melangkah memasuki rumah.