Raharjo sangat menyayangi Indah. Raharjo sangat bahagia bisa menikah dengan Indah. Pernikahan keduanya diliputi kebahagiaan.
Sampai tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan 2 tahun. Namun, berita yang paling dinanti-nanti setiap wanita di dunia setelah menikah, termasuk Indah. Yakni kehamilan. Sudah lama tak kunjung hamil. Indah dan Raharjo sangat ingin menimang seorang anak. Apalagi Raharjo ingin sekali mempunyai anak dari rahim istrinya. Pernah mereka melakukan usaha bayi tabung, namun tak jua berhasil.
Raharjo dan Indah frustrasi. Pernikahan mereka dilanda cobaan.
Indah menyarankan suaminya untuk menikah lagi. Tapi Raharjo tak mau. Ia sudah terlalu cinta dengan wanita itu. Tak mau memadunya.
Raharjo menceritakan masalah keluarganya pada sekretarisnya sendiri. Kebetulan, wanita itu adalah temannya sendiri. Sekretaris Raharjo menyarankan untuk mengadopsinya dari panti asuhan. Tapi Raharjo juga tak mau. Dirinya ingin anak itu lahir dari rahim sang istri. Ia ingin anak dari darah dagingnya sendiri.
Sekretaris juga mencoba memberi saran pada Indah.
Mendengar saran itu, Indah girang bukan main. Wanita itu mengatakan saran sekretaris pada sang suami. Tapi, saat Raharjo menolak idenya, Indah kembali bingung.
Indah tak mau menyerah begitu saja. Baginya, seorang anak tak harus dari rahimnya sendiri. Dan ia ingin mencoba mengadopsi. Siapa tahu, dengan begitu, dirinya bisa mengandung.
Hari-hari berikutnya ketika sedang luang, ia habiskan untuk membujuk sang suami berharap luluh.
”Ayolah, Mas!” Netra Indah berkedip-kedip, menampilkan puppy eyesnya. Ia tatap sang suami yang duduk di sampingnya. Wanita itu sedang menjalankan aksi membujuknya saat Raharjo belum berangkat bekerja.
Raharjo menatap datar istrinya. Raut sang istri membuatnya gemas, tapi teringat permintaan wanita itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah piring sarapannya.
Namun, sepertinya usahanya pagi itu gagal. Indah menghela napas panjang. Tak menyerah. Ia akan bujuk lagi esok hari.
***
Sudah sekian minggu Indah berusaha membujuk sang suami. Namun, tetap saja tak berhasil.
Ia mencoba membujuknya lagi untuk terakhir, jika ditolak, ia akan pasrah menunggu dirinya hamil.
Namun, di luar dugaan. Suaminya itu malah mengangguk setuju.
Tak percaya. Indah menanyakan sekali lagi sekedar untuk memastikan. Raharjo kembali mengangguk setuju. ”Ya udah, iya mas setuju kalau kita adopsi. Tapi dengan satu syarat.” Telunjuknya terangkat.
Indah mendengarkan dengan serius.
”Mas maunya adopsi yang masih bayi.”