Arjuna. Demikian nama bayi yang diadopsi Indah dan Raharjo. Bayi itu tumbuh dengan baik di tangan pasangan yang saling menyayangi.
Hubungan orangtuanya yang baik turut mempengaruhi tumbuh kembang Arjuna.
Tak terasa, kini usia bayi itu sudah menginjak angka 1,5 tahun. Ia sudah mulai bisa menyebutkan beberapa kata.
Siang itu, Arjuna kecil sedang duduk sambil bermain dengan mobil-mobilannya dan setumpuk mainan lainnya yang dibiarkan berserakan oleh ibunya. Indah di sebelahnya, menyangga piring tempat makan Arjuna dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang sendok biru kecil—menyesuaikan dengan mulut Arjuna kecil. Indah merasa tenang anaknya bisa anteng. Karena terkadang anak itu suka berjalan-jalan, menyusuri sesuatu yang menarik di matanya, membuat wanita itu pun harus ekstra menjaganya supaya tak lari ke jalan.
Raharjo sesekali ikut menjaga, meskipun lebih sering Indah yang menemani Arjuna. Indah pun tak tau mengapa. Sekarang pria itu sedang berada di kantornya.
Kembali ke Indah.
Wanita itu menatap mangkuk yang ia pegang. Bersih. Ia tersenyum senang, melihat anaknya makan lahap sampai tak sadar isi mangkuk sudah kosong. Meski sudah bisa berjalan, Arjuna kecil terkadang masih merangkak ke sana kemari. Sekarang, anak itu sedang duduk, sambil memegang bola kasti.
Melihat anaknya sedikit tenang dengan mainannya, Indah memutuskan bangkit dari duduknya, melangkah ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Arjuna.
Saat itu, Indah tidak tahu bahwa beberapa menit lagi, kejadian tak terduga yang menakutkan hampir saja menimpa anaknya yang masih berumur satu setengah tahun itu.
Arjuna sedang memegang sebuah bola kasti hijau, menatap sekeliling. Pintu rumah terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari masuk. Ia menoleh ke belakang, ibunya belum terlihat. Kembali menatap pintu. Bola kasti yang sedang ia pegang, ia lempar keluar. Bola memantul beberapa kali, lantas menggelinding keluar tanpa ada yang menghentikannya. Arjuna kecil tersenyum lebar. Gigi susu yang baru tumbuh terlihat ketika ia tersenyum. Balita itu berdiri dengan perlahan, mencoba berjalan, hendak menyusul bola.
Sesekali ia terjatuh, namun, ia bisa berdiri kembali. Kembali berjalan menyusul bola kasti yang menggelinding sampai luar gerbang. Arjuna kecil melemparkannya terlalu kencang. Area paving menjadi tempat berpijaknya kakinya yang telanjang.
Beberapa detik, bola berhenti di seberang jalan, membentur dinding. Melihat itu, Arjuna kecil semakin semangat melangkah. Balita itu seakan ingin sekali berlari, namun kakinya belum bisa melakukan itu, atau ia akan terjatuh.
Siang itu, matahari bersinar terik. Cahayanya menyilaukan mata. Benda yang terkena cahayanya akan terlihat mengkilat.
“JUNA! JUNAA!”
Terdengar teriakan panik dari dalam rumah. Balita yang dipanggil tak mendengarnya, sudah berada di gerbang, hendak keluar.
Indah muncul di ambang pintu. Menatap halaman rumah. Kosong. Lantas menatap gerbang yang terbuka, Arjuna sudah mau menyeberang.
Wanita itu menghela napas panjang. Sekembalinya dari dapur, jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendapati ruang tamu itu kosong. Dengan panik ia mencari ke segala sudut, hingga pandangannya terpaku pada sosok mungil yang ternyata sudah berada di luar—tepat di tepi jalan. Ia berjalan menghampiri.
Deruman motor terdengar.