Indah dan Arjuna dilarikan ke rumah sakit oleh Raharjo, dibantu para warga yang menyaksikan kejadian tersebut. Sementara itu, pengemudi mobil yang pingsan turut dibawa ke rumah sakit. Mobilnya terhenti setelah menabrak pagar rumah warga. Beruntung, pagar itu terbuat dari besi sehingga tidak sampai menghancurkan tembok rumah.
Sesampainya di rumah sakit, Indah dan Arjuna, serta pengemudi mobil dibawa ke ruang IGD.
Raharjo menatap cemas pintu ruangan IGD. Matanya berkaca-kaca. Sesekali, kakinya mondar-mandir. Di sebelahnya, para warga ikut menunggu kabar dari dokter, sambil menatap prihatin pada pria paruh baya yang tak berhenti mondar-mandir itu.
Suasana hening. Detik berganti menit. Detik di jam digital yang terlihat di kejauhan seakan membawa kecemasan tersendiri, membawa ketegangan tersendiri.
Jalanan ramai di depan rumah sakit seakan kontras dengan keheningan di depan IGD.
“Duduk dulu, Pak,” ucap seorang warga yang merasa prihatin dengan keadaan Raharjo.
Raharjo menoleh ke belakang. Posisinya berdiri dekat dengan pintu, sedangkan para warga berdiri di belakangnya—sebagian malah ada yang sudah duduk di kursi tunggu.
Meski tetangganya sudah menyarankannya untuk duduk, namun Raharjo tetap tak menurut. Tetap berdiri sambil menatap cemas pintu IGD, setidaknya ia sudah tak mondar-mandir.
Sudah satu jam berlalu sejak Indah dan Arjuna masuk ke IGD, namun dokter belum keluar juga dari sana.
Ceklek
Bunyi pintu dibuka membuat Raharjo berdiri di depan pintu, menyambut dokter. Para warga juga mendekat, terutama yang sedang duduk. Dokter menampakkkan raut kaget begitu tiba di depan pintu. Bagaimana tidak? Raharjo persis berdiri di depannya, dengan raut cemasnya.
”Bagaimana dengan keadaan istri dan anak saya, Dok?” tanya Raharjo, tak mempedulikan raut kaget sang dokter.
“Dengan suami pasien?” tanya Dokter menatap sekeliling.
“Saya, Dok,” seru Raharjo buru-buru.
Dokter menatapnya. “Istri bapak sudah siuman, sekarang ingin bertemu dengan bapak,” ucapnya.
Raharjo terlihat kaget, lalu wajahnya terlihat riang. Ia mengangguk cepat, lantas melangkah masuk setelah dokter mempersilahkan.
Kamar IGD terlihat luas. Lampu putihnya menyala terang, seolah tak pernah mengenal malam. Bau antiseptik menusuk hidung, bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan yang bekerja tanpa henti. Di balik tirai-tirai tipis berwarna pucat, suara mesin monitor berdetak ritmis—bip… bip… bip—menjadi latar yang konstan, mengingatkan bahwa setiap detik di tempat ini begitu berharga.