Setelah kematian Indah, pihak rumah sakit langsung memandikan dan memakamkannya, dibantu para warga yang ikut ke rumah sakit. Raharjo sendiri sempat pingsan setelah pemberitahuan kematian Indah. Dan sekarang ini, pria paruh baya itu sedang duduk termenung menatap makam istrinya, sambil memegang nisannya.
Raharjo baru pulang setelah ada juru kunci memanggilnya—mengingatkan jika hari sudah malam, dan dia ternyata tertidur sepanjang duduk di sana.
Sesampainya di rumah, ia hanya menatap kosong kerumunan warga di depan rumahnya, salah satunya sedang menggendong Arjuna.
Mereka sedang berdiskusi tentang persoalan Arjuna. Apa masalahnya?
Salah satu warga, yang menjadi saksi kecelakaan itu, bertanya. "Bagaimana dengan Arjuna, maksudnya siapa yang merawat kalau Harjo saja begitu?"
"Begitu gimana maksudmu?" Warga lainnya balik bertanya.
"Ya, dia sendiri aja tadi malah masih di kuburan, padahal udah malam. Ditambah lagi, dia seakan nggak inget dengan anaknya," jawabnya.
"Ya wajar aja, baru ditinggal istrinya, jadi masih begitu. Aku kalau ditinggal istriku juga paling begitu." Salah seorang pria menjawab, mengangkat bahu.
"Ya, tapi mbok ya jangan bicara begitu, ucapan adalah doa." Warga lain, ibu-ibu mengingatkan.
"Iya, iya. Wong Cuma ngomong. Amit-amit." Pria tadi menggeleng.
"Udah, balik ke topik." Pria lainnya, ketua RT menepuk tangannya, meminta pembicaraan kembali ke topik awal, sebelum melantur kemana-mana.
Para warga menatap ketua RT mereka.
"Saya setuju sama apa yang dibilangin Pak Rudi. Kita harus pikirin siapa yang merawat Arjuna selagi Raharjo masih berkabung," jelas Pak RT, menatap serius warganya.
"Tapi mending kita tanyain dulu Harjo, Pak RT. Masih mau merawat Arjuna tidak?" Pak Dirga menatap warga lainnya.
Semua orang terdiam. Saling pandang.
"Nggak yakin aku, Harjo mau merawatnya. Dia kan masih berkabung gitu," Bu Wiwin berucap skeptis.
"Saya masih mau merawatnya."
Para warga menatap pintu rumah. Raharjo berdiri di sana.
***
Sempat terjadi perdebatan antara para warga dengan Raharjo terkait mengasuh Arjuna. Raharjo keukeuh akan merawat Arjuna, karena merupakan anaknya sendiri. Di sisi lain, para warga terbagi dua. Pihak pertama setuju dengan pendapat Raharjo; pihak kedua membantah tak setuju. Mereka takut Arjuna akan terlantar karena mereka tidak yakin Raharjo mampu merawat Arjuna setelah kematian Indah.
Setelah bermenit-menit berdiskusi dengan Raharjo—lebih tepatnya berdebat, akhirnya disepakati bahwa Raharjo akan merawat Arjuna, sementara para warga akan meminta seorang tetangganya, ibu-ibu paruh baya, yang pernah menjadi asisten rumah tangga, untuk membersihkan rumah Raharjo, termasuk juga menyiapkan sarapan. Sementara suaminya—akan membersihkan halaman rumah.
***
Sudah seminggu berlalu, meski merasa sedih dengan kematian istrinya, Raharjo masih mau merawat Arjuna, sesuai dengan pesan terakhir istrinya, dan juga kesepakatannya dengan warga untuk merawat Arjuna kecil. Ia selalu menemani balita itu bermain sepulangnya dari bekerja sampai ketika hendak tidur.
Malam ini, bulan bersinar terang di luar. Bintang gemintang gemerlap berkilauan di langit malam, diiringi bunyi derik jangkrik.
”Pa-Pa.”
Raharjo tersentak dari lamunannya mendengar suara Arjuna. Ia menoleh, menatap balita yang duduk disampingnya, bermain dengan tumpukan mainannya di atas kasur.
Raharjo sedang menatap foto Indah di dinding kamar Arjuna ketika mendengar Arjuna memanggilnya.
“Apa?” tanyanya tak percaya.
“Coba bilang apa tadi?” tanyanya kembali.