“Mas ...?!” Mitha memegangi perutnya yang terasa melilit. Mulutnya ingin menjerit, namun yang keluar hanya rintihan parau. Sambil menahan sakit, ia menggoyang-goyang tubuh suaminya lebih kencang.
“Mas, bangun!” teriak Mitha. Keringat dingin membasahi dahi dan bajunya.
Juned tersentak bangun. Kepalanya berdenyut pening. Matanya melebar melihat wajah istrinya yang pucat.
“Kayaknya mau lahir, Mas ...,” ucap Mitha dengan wajah meringis.
Juned masih tertegun, merasakan degup jantungnya yang kencang.
“Dari jam sebelas udah kerasa ...,” lanjut Mitha
“Kenapa nggak bilang dari tadi?” Suara Juned meninggi, panik. “Kita ke bidan sekarang.”
Mitha mengangguk, namun tubuhnya mendadak limbung. Tangannya mencengkeram lengan Juned dengan sisa tenaga yang ada. “Mas ... sakit banget ...,” rintihnya dengan napas tertahan.
Juned dengan sigap menopang tubuh istrinya. “Iya, iya. Aku di sini. Kita berangkat.”
Sambil membimbing Mitha melangkah tertatih, sekilas pandangan Juned menangkap jarum jam dinding yang menunjuk angka tiga.
“Aku mau pipis dulu, Mas.”
“Hah? Iya. Ayo.” Juned menuntun istrinya hingga masuk ke kamar mandi. Wajahnya semakin terlihat panik luar biasa. Ada kekhawatiran di benaknya kalau istrinya akan melahirkan di dalam kamar mandi. Setelah selesai, Mitha berganti pakaian yang basah oleh keringat. Juned terus menunggui istrinya dan mencoba membantu sebisanya.
“Agak berkurang sakitnya, Mas. Tapi gerakan dedek bayi kuat banget.”
Juned hanya bisa mengangguk cemas mendengar penuturan istrinya.
“Ayo, Mas. Itu tasnya.” Mitha menunjuk tas perlengkapan melahirkan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari, berisi kain, pakaian bayi, serta popok.