Juned dan Mitha

awod
Chapter #2

#2

Satu bulan kemudian ...

Di rumah kontrakan tempat tinggal Mitha dan Juned, jam dinding baru saja melewati pukul lima ketika suara tangis bayi terdengar. Mitha membuka matanya perlahan. Dengan gerakan pelan, ia bangkit dan meraih bayi kecil di sampingnya. Wajah mungil itu memerah dengan tangan yang mengepal. Mitha mendekapnya ke dada dengan hati-hati. “Iya, iya, cup, cup,” bisiknya lembut. Tangisan itu perlahan mereda.

Di ruang tamu, Juned masih terlelap di atas kasur busa. Satu tangannya menutupi wajah. Mitha melangkah pelan keluar kamar sambil menggendong bayi yang baru selesai disusui. Dia berhenti sejenak di ambang pintu kamar, menatap suaminya lebih lama dari biasanya. Laki-laki yang terbaring di hadapannya itu bukan lagi sekadar suami.

“Papa ...,” panggil Mitha sembari melangkah ke ruang tamu.

Juned menggeliat sebelum akhirnya menggeser tangan dari wajah, lalu membuka mata dengan kelopak yang terasa berat. “Hm ... iya?” gumamnya dengan suara serak.

“Udah pagi. Dicariin dedek bayi, nih,” jawab Mitha pelan.

Dalam sekejap, mata Juned terbuka lebar. Tubuhnya langsung menegak. “Hah? Udah bangun?”

“Iya, tadi nangis, tapi sekarang udah nggak,” jawab Mitha, menimang bayinya.

Juned berdiri menghampiri. “Sini, Ayah gendong.” Ia tersenyum kecil, lalu mengulurkan tangan dengan hati-hati. Namun, begitu bayi itu berpindah ke pelukannya, seluruh tubuh Juned langsung kaku seperti sebelumnya. Bahunya menegang dan tangannya tidak tahu harus diletakkan di mana. “Eh ..., gimana ini?” gumamnya panik. Matanya tidak lepas dari wajah kecil di lengannya.

“Gimana Papa ini. Udah mau sebulan masih kaku aja.” Mitha tidak bisa menahan tawa kecilnya. “Pegangnya santai aja, Pa. Jangan tegang gitu, nanti bayinya ikut tegang,” lanjutnya sambil membenarkan posisi lengan Juned.

“Papa?” Dahi Juned berkerut saat istrinya menyebut kata papa.

“Iya. Kamu, ‘kan, udah jadi papa,” goda Mitha, berusaha menahan tawa gelinya.

Juned mencebikkan bibir, menunjukkan ketidaksetujuannya. “Ayah aja, ah. Papah itu cocoknya buat orang kaya, nggak pantes modelan kere kayak aku dipanggil papa,” protes Juned.

Mitha langsung cekikikan menanggapi protes suaminya.

“Duh, gimana nih, takut jatuh,” seru Juned.

“Ya nggak bakal jatuh, Mas. Kamu pegangnya juga udah benar, kok,” ucap Mitha menenangkan.

Juned menatap bayi itu lama, hingga guratan tegang di wajahnya perlahan melunak. “Haduh ... duduk di kasur aja, ah. Takut,” ucapnya pelan pada diri sendiri, lalu segera duduk di atas kasur busa.

Lihat selengkapnya