Juned dan Mitha

awod
Chapter #3

#3

Setahun kemudian ...

Matahari menggantung tepat di atas rumah kontrakan Juned dan Mitha. Cuaca memanggang dengan panas yang merayap turun, menembus genteng dan langit-langit, merambat ke dinding, lalu menyebar memenuhi setiap sudut, hingga udara di dalam rumah itu terasa pekat oleh gerah. Kipas angin di sudut ruangan berputar dengan cepat, tetapi embusan yang dihasilkannya sama sekali tidak membawa kesejukan. Hanya udara hangat yang berputar kembali, dan justru membuat kepala menjadi pening.

Mitha mematikan kipas angin itu, lalu membuka pintu dan jendela lebar-lebar, berharap ada angin luar yang masuk. Kemudian, ia duduk di lantai bersandar ke dinding. Bajunya basah di bagian punggung dan leher. Beberapa helai rambut menempel di pelipisnya yang berkeringat. Di pangkuannya, anaknya tidak bisa diam. Tubuh mungil itu bergerak gelisah, sesekali merengek, lalu tiba-tiba menangis kencang. Anak yang belum genap berusia setahun itu seakan mencoba menyampaikan rasa tidak nyaman yang belum bisa ia ucapkan dengan kata-kata.

Mitha mencoba menenangkan. “Iya, Sayang ..., panas ya ...,” bisiknya lembut. Dia mengibaskan kipas plastik tipis di tangan kanannya, berharap embusan angin bisa menenteramkan anaknya. Namun, tangisan itu tidak mereda. Suara jeritan kecil itu justru semakin keras, memantul dari dinding ke dinding. Mitha menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan rasa lelah yang mulai merambat ke kepalanya. Sembari menimang, dia mengayunkan tubuhnya perlahan ke kiri dan ke kanan. “Iya, Sayang ..., sabar ya ...,” gumamnya.

“Yah ...?!” Dari ruang tamu, Mitha memanggil Juned. Ia berharap suaminya mendengar dari dalam kamar, tetapi tidak ada jawaban. Mitha menoleh, menatap pintu kamar yang setengah terbuka. Dengan langkah pelan sembari mengipasi anaknya, ia berjalan ke dalam kamar.

Juned, yang sudah tiga hari ini tidak membuka toko karena demam, terbaring lemas. Kaus yang dikenakannya basah oleh keringat hingga menempel ketat di tubuh dan merembes ke seprai yang kusut. Wajahnya pucat, dan bibirnya pecah-pecah.

“Yah ...?!” panggil Mitha lagi. Kali ini suaranya berubah panik. Ia mendekat, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Juned. Hawa panas yang menyengat dari kulit suaminya seketika membuat jantung Mitha berdegup lebih cepat. Demam suaminya meninggi lagi. Ia menyentuh lembut pipi suaminya.

Juned mengerang kecil. Ia membuka mata perlahan dengan tatapan sayu yang butuh waktu beberapa detik untuk bisa fokus. “Gerah banget,” suaranya terdengar serak.

“Iya, gerah banget ...,” jawab Mitha pelan.

Di saat yang sama, anak di pelukannya kembali menjerit. Kali ini lebih keras, seakan sengaja memecah ruang sempit itu menjadi terasa semakin mengimpit.

Melihat hal itu, Juned mencoba bangun dari posisi tidurnya. “Dedek kenapa?” tanyanya lemah.

“Rewel dari tadi, nih. Ngantuk tapi kegerahan,” jawab Mitha. Ia mencoba tetap terdengar tegar, meski suaranya mulai bergetar.

Juned mengusap wajahnya yang kuyu, lalu berkata pelan, “Kipasnya nyalain.”

Mitha menggeleng kecil. “Udah tadi, Yah. Malah bikin puyeng kalau kipas-anginan terus.”

Beberapa detik berlalu dalam keadaan yang terasa begitu sesak. Tangisan bayi belum juga reda, sementara napas Juned kian berat dan tersengal.

Lihat selengkapnya