Juned dan Mitha

awod
Chapter #5

#5

Malam berlalu dengan sangat lelap. Keesokan paginya, Mitha bangun lebih dulu dari suaminya, seperti biasa. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit dan sudut ruangan. Bentuk rumah kontrakan itu tidak berubah, tetapi kini terasa lebih nyaman. Anaknya masih tertidur pulas di sampingnya. Pipinya yang bulat tampak tenang. Sesekali, bibir kecil itu bergerak-gerak seperti sedang mengecap sesuatu di dalam mimpi yang indah.

Warna jingga keemasan di cakrawala perlahan memudar, berubah menjadi terang memutih. Suara mangkuk yang berdenting dipukul sendok penjual bubur ayam keliling terdengar di ujung gang.

Mitha membawa dua mangkuk bubur ayam ke ruang tamu, di mana Juned sedang menemani anaknya bermain. Ia melepas kerudung, lalu sedikit menggelung rambutnya yang masih basah ke atas. Ketiganya sarapan bersama.

“Mesin cucinya mau disimpan sebelah mana, Yah?” tanya Mitha sambil menyuapi anaknya.

“Di sebelah wastafel aja,” jawab Juned. “Biar selang pembuangannya dekat ke kamar mandi.”

Setelah sarapan, di dapur dekat kamar mandi, suara putaran air terdengar. Mesin cuci baru mereka sedang membilas pakaian dengan lembut.


Siang hari di toko pakaian miliknya, Juned terlihat lebih sibuk setelah libur beberapa hari karena sakit. Toko itu memang kecil, tetapi isinya lumayan padat. Usaha yang ia rintis sejak sebelum menikah kini semakin ramai. Gantungan baju yang dulu sering melonggar, kini terisi penuh. Perpaduan warna-warni kain yang beragam membuat tempat itu tampak menarik perhatian. Bahkan, rak di sudut toko sudah tak bisa menampung semua stok barang.

Juned mengambil tongkat kecil aluminium sepanjang satu meter yang biasa digunakan untuk mengambil baju yang digantung di atas. Namun, pegangannya tak sempurna sehingga tongkat itu terlepas dan menimpa kepalanya. Juned meringis, mengusap-usap kepalanya. Ia termenung sebentar, lalu tertawa sendiri. Kejadian itu mengingatkan dirinya pada peristiwa empat tahun yang lalu, pada suatu sore di akhir pekan.

Dua orang wanita muda masuk ke dalam toko. Dari pakaian yang mereka kenakan, Juned langsung tahu kalau mereka adalah karyawati dari salah satu pabrik tekstil di Cikampek yang berlokasi tak jauh dari tokonya. Kedua wanita itu berjalan keliling, memilah-milah gantungan baju sambil sesekali berbisik dan tertawa kecil. Salah satu dari mereka, wanita dengan rambut diikat, menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada sebuah kaus motif bunga yang dipajang tinggi di dekat langit-langit toko. “Mas ...,” panggil wanita itu, suaranya terdengar nyaring di antara bisingnya lagu yang diputar di toko.

Juned yang sedang merapikan lipatan celana segera menghampiri dan memasang senyum ramah seperti biasanya. “Iya, Mbak?”

“Ini, Mas. Boleh ambilkan kaus yang ini? Yang warna merah muda,” pintanya sambil menunjuk kaus yang berada tepat di atasnya.

“Oh, boleh, Mbak. Sebentar, ya.” Juned bergegas berjalan ke sudut toko, mengambil tongkat aluminium panjang yang biasa digunakan untuk menjangkau pajangan di atas. Ia kembali mendekati wanita itu, menengadah, lalu mengarahkan ujung pengait tongkat ke lubang hanger baju tersebut. Namun, entah karena apa, Juned sedikit grogi. Saat pengait sudah mencantol hanger, dia kurang kuat menggenggam tongkat itu. Beban kaus yang lumayan berat, ditambah posisi yang canggung, membuat tongkat itu mendadak slip dan kehilangan keseimbangan.

Klotak!

Tongkat aluminium itu meluncur turun dan mendarat tepat di atas kepala wanita tersebut. Benturannya sebenarnya tidak keras karena Juned segera menahannya, dan hanya mengenai bagian atas rambut wanita itu sekilas dan pelan. Namun, efek kejutnya cukup membuat suasana mendadak heboh.

“Aww!” pekik wanita itu pelan, refleks mengangkat tangan kanan mengusap kepalanya. Teman wanita itu terkejut, dan Juned jauh lebih kaget lagi. Jantungnya serasa mau copot. Wajahnya seketika berubah merah padam, menahan rasa malu yang luar biasa.

“Ya Allah! Maaf, Mbak! Saya nggak sengaja,” ucap Juned panik, suaranya bergetar sembari buru-buru menjauhkan tongkat jahanam itu.

Melihat kepanikan Juned, wanita yang terkena tongkat itu sempat melongo sebentar. Sejurus kemudian, ia menyemburkan tawa, diikuti oleh temannya yang tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut.

“Aduh, Mas, nggak apa-apa, nggak usah panik gitu,” ujar wanita itu di sela-sela tawanya. “Cuma kena dikit, kok, nggak sampai benjol kepalaku.”

Lihat selengkapnya