Juned dan Mitha

awod
Chapter #6

#6

Beberapa pekan menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suara batuk dan hentakan kasar dari knalpot motor bebek milik Juned kian menjadi-jadi. Saat ia hendak berangkat ke toko, motor itu mendadak mati total. Mogok untuk yang ketiga kalinya dalam seminggu ini. Sambil menyeka keringat di dahinya, ia menatap nanar kendaraan yang sudah menemaninya sejak masa lajang itu. “Kenapa lagi kamu ini ...,” keluh Juned sambil berkacak pinggang di tepi jalan.

Beruntung, tak jauh dari tokonya, bengkel langganannya sudah buka. Dengan sisa tenaga, Juned menuntun motornya ke depan bengkel, dan langsung disambut oleh sang montir.

“Kenapa motornya, Bos? Mogok lagi?” tanya montir itu ramah.

Juned tidak langsung menjawab. Ia mengatur napasnya yang memburu, lalu duduk di kursi plastik dekat etalase oli. “Minta jajan terus, nih, motor, Mang,” sahut Juned masygul.

Montir itu menunggangi motor itu, lalu mengengkol beberapa kali. Tidak ada respons sama sekali. Kemudian ia mengecek di beberapa bagian. “Wah, harus dibongkar ini, Bos. Servis sama ganti oli sekalian?”

“Iya, Mang. Yang penting bisa hidup lagi,” jawab Juned pasrah.

Setelah kurang dari satu jam, sang montir membawa motor bebek itu keluar untuk menjajalnya di jalan raya. Begitu kembali, ia menghampiri Juned yang menunggu sambil bermain ponsel.

“Bos,” ucap montir, “ini shock depan udah bocor, shock belakangnya keras banget. Komstirnya juga udah oleng, ditambah kampas remnya udah tipis. Banyak banget ini jajannya kalau mau diturutin biar enak lagi,” terang sang montir blak-blakan.

Juned tertegun mendengar rincian penyakit motornya. “Buset, banyak banget ya, Mang?”

“Ya ... risiko motor tua, Bos,” jelas montir itu sambil terkekeh, “Tapi kalau mesinnya, sih, sebenarnya masih bandel. Masih oke.”

Juned mengangguk-angguk kecil, merenungi nasib motornya.

“Mending beli baru aja, Bos. Sekarang kan lagi musimnya motor matic, lebih santai bawanya,” usul montir itu.

Lihat selengkapnya