Juned dan Mitha

awod
Chapter #7

Chapter tanpa judul #7

“Ayah! Cepetan. Nanti kita telat!” seru Mitha, suaranya sedikit meninggi.

“Masih jam segini juga, Beb. Tenang aja,” jawab Juned santai.

“Iya, tapi ini hari pertama, Yah!” balas Mitha.

Juned melirik anak laki-lakinya, Arjuna. Baru kemarin rasanya anak itu belajar berjalan sambil berpegangan pada meja televisi. Kini, ia sudah semakin besar dan siap masuk sekolah.

Juned berjalan mendekati anaknya yang sudah mengenakan seragam putih-merah yang masih tampak sedikit kebesaran di tubuhnya. Tas punggung bergambar kartun Adit Sopo Jarwo bertengger hampir menutupi seluruh punggung kecilnya. Juned berjongkok di depan putranya. “Coba sini jagoan ...,” katanya lembut. Jemari Juned dengan hati-hati membenarkan letak dasi pada kerah baju putih itu, lalu merapikan tatanan rambut anaknya yang masih agak basah. Ia menatap lekat-lekat wajah kecil itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah senyum bangga merekah lebar di wajahnya. “Wah ..., ganteng banget anak Ayah,” ucap Juned. Arjuna langsung tertawa lebar, memamerkan barisan giginya yang ompong sebagian di bagian depan.

Di saat yang sama, Mitha keluar dari kamar sambil membawa botol minum kecil bertali. Langkah kakinya mendadak melambat begitu menangkap pemandangan di ruang tamu. Ia menahan napas sejenak, berdiri diam memperhatikan dua laki-laki paling berharga dalam hidupnya.

“Beb?” panggil Juned, “Gimana? Udah siap semua?”

“Udah, Yah,” jawab Mitha sambil menyeka air matanya yang nyaris menetes dengan ujung kerudung.

Jarak dari rumah kontrakan mereka ke sekolah sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu dua menit jika menunggangi motor, dan hanya terpaut dua ratus meter berjalan kaki dari toko pakaian Juned.

Motor mereka berhenti di depan gerbang sekolah. Beberapa murid kelas satu yang hendak masuk tampak memegangi balon gas; murid laki-laki membawa balon biru, dan murid perempuan membawa balon merah. Halaman sekolah itu riuh oleh rupa-rupa emosi manusia. Ada suara tangisan anak-anak yang belum siap berpisah dari orang tuanya, suara lembut para ibu yang mencoba menenangkan, ada anak yang memeluk erat kaki ibunya, ada yang menangis histeris, namun ada juga yang justru langsung berlari masuk ke dalam kelas tanpa menoleh lagi ke belakang.

Jemari kecil Arjuna menggenggam erat telapak tangan ayahnya. “Yah ...?”

“Iya, Sayang?” jawab Juned, lalu berjongkok rendah agar tatapan mereka sejajar.

“Rame banget,” ucap Arjuna, matanya bergerak liar menyapu sekeliling dengan campuran rasa penasaran dan keraguan.

Juned tersenyum, mengusap bahu anaknya. “Iya, rame. Di dalam pasti seru banget, banyak teman. Lihat, tuh, teman-teman Kakak juga bawa balon juga. Ayah sama Mamah nunggu di gerbang, ya.”

Bocah itu beralih memeluk dan mengambil balon yang dipegang ibunya. Saat seorang guru meminta murid baru berkumpul, Arjuna akhirnya melangkah memasuki kelas. Ia sesekali menolehkan kepalanya ke belakang, sekadar untuk memastikan bahwa ayah dan ibunya masih berdiri di sana.


Tepat setelah azan Zuhur selesai berkumandang, suara melengking kecil yang sejak tadi ditunggu-tunggu akhirnya terdengar dari arah depan toko.

“Ayah ...!”

Lihat selengkapnya