Juned dan Mitha

awod
Chapter #9

Chapter tanpa judul #9

Toko pakaian milik Juned kini telah menginjak tahun kedua belas semenjak pertama kali dia rintis dari nol dari semenjak ia belum menikah. Tokonya menjadi salah satu toko pakaian paling ramai di wilayah tersebut. Letaknya tidak berada di dalam pasar, tapi berdiri strategis di tepi jalan utama yang menjadi penghubung antara pasar tradisional dan kawasan kompleks perumahan. Selain karena ia rajin promosi di media sosial, keunggulan tokonya yaitu tetap buka hingga malam, menjadi satu-satunya pilihan bagi orang-orang yang ingin berbelanja sepulang kerja. Berbeda dengan toko-toko di pasar yang sudah tutup menjelang waktu Magrib.

Dari hasil perputaran modal selama berjualan itu, Juned berhasil mengumpulkan pundi-pundi tabungan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Angkanya menyentuh seratus lima puluh juta rupiah yang tersimpan rapi di deposito banknya. Impian besar untuk mewujudkan doa malam anaknya sudah di depan mata.

Kini, Arjuna, putra mereka sudah tumbuh semakin besar dan duduk di bangku kelas dua SD. Pagi itu, setelah mengantar sang anak ke sekolah, Juned dan Mitha tidak langsung pulang ke rumah. Mereka melaju ke arah klinik dokter spesialis kandungan. Mitha kini tengah mengandung anak kedua mereka.

Sepulang dari pemeriksaan dokter kandungan dengan secarik kertas hasil USG yang menyatakan janinnya sehat, Juned membawa istrinya berkeliling santai di jalanan kompleks perumahan. Baru berkeliling dua blok, laju motor mereka perlahan melambat, hingga akhirnya benar-benar berhenti tepat di depan sebuah rumah berdesain minimalis yang tampak asri. Di pagar besi rumah itu, terpasang sebuah banner dengan tulisan: RUMAH INI DIJUAL.

Juned dan Mitha menatap rumah itu dari atas motor. Rumah yang bersih, dengan garasi mobil dan halaman kecil di depan. “Bagus, ya, Yah,” bisik Mitha pelan, menyandarkan pipinya di bahu Juned.

“Iya,” sahut Juned. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel, lalu mencatat nomor telepon yang tertera di banner tersebut ke dalam daftar kontaknya. Setelah memastikan nomor yang dicatatnya benar, ia memasukkan kembali ponselnya dan memacu kembali motornya perlahan menyusuri jalanan kompleks perumahan.

Sinar matahari pagi mulai menanjak terik saat Juned membuka toko. Kedua telapak tangannya mendorong pintu besi itu ke samping, memicu bunyi yang nyaring. Cahaya matahari menerobos masuk, memantul di keramik depan. Suara kendaraan yang berlalu-lalang, dan suara mesin jahit dari tukang permak jins di sebelah tokonya berpadu menjadi sebuah irama harian yang sudah begitu akrab bagi telinganya. Ia berdiri sejenak di ambang rolling door, tidak langsung melangkah masuk, hanya mematung memandangi isi tokonya seperti seorang kapten yang sedang memastikan kapalnya dalam kondisi prima. Tempat itu tampak begitu rapi. Rak-rak kayu dan stainless berdiri kokoh dan teratur, baju-baju tergantung anggun memperlihatkan gradasi warna yang memanjakan mata, dan di sudut toko terlihat kursi plastik kecil tempat anaknya biasa duduk. Ia melangkah masuk, memulai rutinitas yang telah menyatu dengan otot-otot tubuhnya. Menyapu lantai, menyelaraskan posisi gantungan, dan merapikan kembali beberapa pajangan yang letaknya sedikit bergeser.

Tengah hari lewat, saat Juned sedang melipat kemeja di atas etalase, satu suara memanggil dari arah depan toko. “Punten, Mas Juned!”

Juned mendongak. Di ambang pintu, berdiri seorang pria muda dengan pakaian rapi. “Eh, Pak Andre. Mangga, Pak, masuk,” sambut Juned langsung tersenyum.

Namun, pria bernama Andre itu tidak segera melangkah. Ia hanya mematung di pembatas lantai toko. Juned menghampiri, dan kembali mempersilakan sembari menyodorkan kursi plastik.

Menantu Bu Haji itu berjalan masuk ke dalam. Langkah kakinya pelan. Tatapan matanya menyapu ke seluruh penjuru toko. “Gimana kabarnya?” tanya Andre datar, tanpa ekspresi.

“Alhamdulillah, Pak, sehat dan lancar,” jawab Juned.

Andre hanya mengangguk kecil sekali, namun raut wajahnya tetap kaku. “Mas Juned,” ucapnya tanpa basa-basi lagi.

“Iya, ada apa, Pak Andre?”

“Saya ke sini mau menyampaikan pesan dari Bu Haji."

“Iya, Pak. Ada apa, ya?”

“Kami memutuskan untuk memakai tempat ini sendiri, Mas.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Andre. Tidak diucapkan dengan nada tinggi, tidak pula disertai emosi, tetapi diucapkan dengan nada yang sangat datar.

Juned tidak langsung merespons. Otaknya mendadak macet, berusaha mencerna apakah ia salah dengar atau pria di depannya ini sedang melempar lelucon. “Maksudnya gimana ya, Pak?” tanya Juned, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.

“Toko ini tidak akan disewakan lagi, Mas,” lanjut Andre tanpa tedeng aling-aling.

Detik itu juga, Juned seperti mendengar guntur di terik siang. Ulu hatinya mendadak terasa ngilu luar biasa, seakan dihantam oleh martil seberat sepuluh kilogram. Tulang belulangnya seolah lumer kehilangan daya dalam sekejap. Pupil matanya berdenyut hebat. Warna kulit wajahnya memucat perlahan. Tangannya kaku memegangi lipatan kemeja yang belum selesai ia rapikan. “Kok mendadak, Pak?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Juned yang mendadak kering.

Lihat selengkapnya