Proses perpindahan dan adaptasi di toko baru ternyata jauh dari kata mudah, bahkan sangat menyita emosi dan pikiran. Toko baru itu masih memerlukan banyak penyesuaian. Beberapa sudut dinding yang berdebu harus dibersihkan total, tata letak lampu harus diubah, dan Juned harus memutar otak dua kali lebih keras untuk memikirkan bagaimana cara menata pakaian-pakaiannya agar tetap terlihat menarik dan elegan di dalam ruangan yang strukturnya berbeda jauh dengan toko lamanya.
Di tengah proses melelahkan itu, ujian mental mulai berdatangan. Di pekan awal setelah pindah, toko barunya terlihat sepi. Juned berdiri di ambang pintu toko. Matanya menatap nanar ke arah lalu lintas jalanan yang polanya tidak sama dengan suasana di depan toko lamanya dulu. Ia menghela napas panjang, lalu bergumam dengan lirih, “Ya Allah ... semoga langkah ini tidak salah.”
Juned segera menggelengkan kepalanya, mengusir keraguan dari kepalanya, menolak untuk pasrah pada keadaan yang sepi. Ia melangkah kembali ke dalam toko, mengambil ponsel dari saku celananya, lalu memotret beberapa bagian tokonya yang kini tampak megah dan luas. Jempolnya dengan cepat mengetik kalimat di aplikasi media sosialnya, menyebarkannya ke seluruh grup dengan caption:
“Toko Pakaian Juned pindah 400 meter ke arah selatan, tepat di depan Percetakan Planet Grafika.’
Juned menekan tombol posting. Sambil menghela napas lega, ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, siap menyambut siapa pun yang akan melangkah masuk melewati pintu toko.
Setelah seminggu pertama dihabiskan dengan kesibukan membongkar dan menyusun, toko baru itu perlahan mulai menampakkan bentuknya sebagai toko pakaian yang megah.
“Yang ini taruh di rak bawah aja, ya, Yah,” kata Mitha sambil menahan pinggangnya.
Juned mengangguk. “Iya. Pelan-pelan aja, Beb. Jangan dipaksa.”
Meski usia kandungannya sudah menginjak sembilan bulan, Mitha tetap memaksakan diri datang ke toko setiap sore bersama Arjuna untuk menemani suaminya.
Di tengah kesibukan mereka, seorang wanita paruh baya berdiri di dekat rolling door memperhatikan bagian dalam toko sambil menggandeng cucunya yang berusia tiga tahun.
“Ibu?!” Mata Juned membulat saat melihat wanita paruh baya itu. Ia mengenali wajah itu karena pernah beberapa kali belanja ke tokonya yang dulu. “Silakan masuk, Bu,” katanya lagi sambil menata manekin di dekat rolling door.
“Baru pindahan, ya, Mas?” tanya wanita paruh baya itu tersenyum ramah.
“Iya, Bu. Baru pindahan,” jawabnya, “Soalnya toko yang dulu mau direnovasi kata pemiliknya.”
Mitha yang sedang duduk merapikan di rak bawah, perlahan berdiri begitu mendengar perbincangan. Dengan senyum ramah, ia menghampiri, lalu menyalami. Ibu itu sedikit tercengang saat melihat perut buncit Mitha. “Eh ..., udah berapa bulan ini?”
“Sembilan bulan, Bu. Sebentar lagi,” jawab Mitha.