Juned dan Mitha

awod
Chapter #12

#12

Mendekati hari lahir yang sudah semakin dekat, ibu kandung Mitha tiba dari Tangerang. Semenjak ibunya menemani, Mitha tidak lagi menemani Juned di toko.

Selepas berkumandangnya azan Magrib, Mitha mulai merasakan gelombang mulas yang kuat di bagian bawah perutnya. Ditemani oleh ibunya, ia berjalan kaki menuju klinik bersalin yang baru lima bulan lalu membuka praktik. Jaraknya tidak jauh dari rumah kontrakannya.

Juned yang sedang berada di toko langsung menutup rolling door-nya dengan tergesa-gesa begitu menerima pesan singkat bahwa istrinya sudah menunjukkan tanda-tanda melahirkan. Namun, begitu tiba di rumah, ia mendapati istrinya justru sedang berjalan mondar-mandir di teras. “Loh, kirain udah di klinik,” ucap Juned.

“Baru bukaan dua kata bidannya,” terang Mitha dengan peluh yang mulai bintik-bintik di dahinya. Ia terus melangkah bolak-balik sesuai instruksi bidan agar proses pembukaan berjalan cepat.

Semakin malam beringsut, rasa sakit di rahim Mitha makin sering dan mencengkeram. Ia mencoba berbaring di samping ibunya di atas ranjang di kamar. Di ruang tamu, Juned merebahkan tubuhnya di samping anaknya yang sudah terlelap.

Menjelang dini hari, sebuah guncangan lembut di betis membangunkan Juned dari tidurnya. Ibu mertuanya berdiri di sana sambil menenteng tas perlengkapan bayi. “Mas Juned, ayo bangun,” ucap mertuanya, “Bayinya sudah mau keluar. Ayo langsung ke klinik.”

Juned langsung bangun dan duduk tegak, kesadarannya seketika terkumpul penuh. Tanpa memikirkan hal lain, ia meninggalkan Arjuna yang masih tidur, lalu berjalan cepat menyusul masuk ke dalam klinik bersalin.

Menjelang kumandang azan Subuh, suara tangisan bayi melengking memenuhi ruangan kecil berdinding putih itu. Juned berdiri mematung di sisi tempat tidur bersalin. Matanya menatap lekat-lekat tubuh mungil yang masih basah itu dengan pandangan yang bahkan lupa untuk berkedip.

“Aduh, cantiknya ...,” ucap bidan itu lembut sambil tersenyum. Lalu dibantu asistennya, ia membersihkan sang bayi.

Di atas ranjang, Mitha yang wajahnya tampak kelelahan, perlahan menolehkan kepalanya ke arah suaminya yang kini tengah menggendong bayi. Rambut hitamnya berantakan menempel di dahi oleh peluh, kulit wajahnya pucat, dan sepasang matanya bengkak sembab setelah semalaman suntuk bertaruh nyawa menahan rasa sakit yang luar biasa. “Yah ...,” panggil Mitha, suaranya parau.

Juned melangkah mendekat, lalu mengambil posisi duduk di kursi besi tepat di samping bantal. “Iya, Sayang,” jawabnya lembut, mendekatkan wajah sang bayi ke arah mamahnya.

Mitha mengulurkan ujung jari telunjuknya yang gemetar, menyentuh permukaan kulit pipi bayi perempuan itu dengan lembut. “Cantik ya ...,” bisiknya dengan suara yang timbul tenggelam.

Juned tertawa kecil, meski sepasang matanya sendiri sudah berkaca-kaca. “Iya, mirip kamu.”

Mitha tersenyum lebar.


Lihat selengkapnya