Juned dan Mitha

awod
Chapter #13

#13

“Eyang! Eyang datang!” pekik Arjuna yang sedang bermain di teras rumah saat melihat neneknya berjalan di ujung gang. Anak laki-laki itu langsung berlari masuk ke dalam rumah. “Mah, Eyang datang, Mah!” serunya sambil berjingkrak-jingkrak di hadapan ibunya yang baru saja menyelesaikan bilasan piring terakhirnya di wastafel.

Belum sempat Mitha mengeringkan tangannya, Arjuna sudah melesat kembali ke teras rumah. Sepasang matanya berbinar-binar saat melompat memeluk neneknya. Mitha bergegas melangkah dari arah dapur, tawa kecilnya lepas begitu saja. Saat sampai di ambang pintu depan, tawanya langsung melebar, langkahnya bahkan tanpa sadar bertambah cepat. Di teras, ibunya berdiri sambil menjinjing tas. Di belakang sang ibu, kakak laki-laki Mitha berjalan beriringan bersama istrinya, diikuti oleh dua anak mereka yang langsung heboh begitu melihat Arjuna.

“Assalamualaikum,” ucap sang ibu, melangkah melewati batas pintu.

“Waalaikumsalam,” jawab Mitha, suaranya agak serak. Tanpa menunggu lama ia langsung menghambur, mendekap erat tubuh ibunya.

Juned yang sedang berdiri di sudut ruang tamu sambil menggendong bayi perempuannya yang berusia dua bulan, memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Ia menangkap detail kecil yang sarat emosi. Dilihatnya bahu Mitha yang biasanya tegap menahan lelah, mendadak melorot turun saat berada di dalam pelukan ibunya.

Piye, Nduk, kabarmu? Sehat?” tanya ibunya lembut, jemarinya mengusap-usap bahu Mitha.

“Alhamdulillah,” jawab Mitha dengan senyum merekah. Ia kemudian beralih menyalami kakak kandungnya, kakak ipar, lalu menciumi pipi kedua keponakannya bergantian.

Belum genap satu menit menginjak lantai rumah itu, ibunda Mitha langsung mengambil alih bayi dalam gendongan Juned. Ruang tamu itu langsung penuh sesak. Di sudut, beberapa tas jinjing dan kardus oleh-oleh menumpuk. Aroma masakan khas ibunya yang sengaja dibawa di dalam rantang, tercium menggoda. Obrolan dan tawa saling tumpang-tindih, mengubah suasana rumah itu menjadi riuh.

Kakak laki-laki Mitha memilih duduk lesehan di atas lantai keramik, sesekali mengibas-ngibaskan kerah kaus oblongnya yang mulai basah oleh keringat. “Panas banget, ya,” keluhnya.

“Iya, Mas. Udah seminggu ini Cikampek lagi dapat bonus panas yang mantap,” sahut Juned.

“Iya, Tangerang juga sama. Memang lagi panas-panasnya,” ujar kakak Mitha lagi sembari menyelonjorkan kakinya yang pegal setelah menembus kemacetan jalan tol dari Tangerang.

Tidak menunggu lama, Juned langsung mengambil remote AC dan menyalakannya. Setelah berbincang sebentar, ia pun berpamitan berangkat untuk membuka tokonya.

Selepas Ashar, kakak laki-laki Mitha bersama istri dan kedua anaknya berpamitan pulang. Sementara, Eyang tetap tinggal dan menginap di rumah kontrakan Mitha, memanfaatkan momen libur sekolah pekan ini.

Selepas Isya, Juned sengaja menutup tokonya lebih cepat dari biasanya. Saat ia tiba di rumah, suasana riuh terasa di ruang tamu. Anak pertamanya sedang asyik mendongeng kepada neneknya, sementara Mitha duduk di kasur sambil menyusui bayinya, sesekali tertawa mendengar obrolan polos antara nenek dan cucu itu. Di depan mereka, televisi di atas meja menayangkan sinetron dengan volume kecil.

"Yah, tombol pedangnya copot," ucap Arjuna langsung menghampiri ayahnya yang baru saja hendak ikut duduk di ruang tamu.

"Copot?" tanya Juned.

"Iya," sahut anaknya, "masuk ke kolong lemari. Susah ngambilnya." Arjuna langsung menarik tangan ayahnya menuju kamar.

Lihat selengkapnya