Mitha sedang menimang bayinya di ruang tamu. Dari balik jendela ia melihat gang depan rumahnya ramai oleh suara anak-anak yang baru pulang mengaji di masjid sore itu. Baru saja ia hendak beranjak menuju dapur, terdengar suara ketukan di pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
"Neng Mitha?!"
Suara itu terdengar akrab di telinga Mitha. Saat pintu dibuka, ia sedikit tercengang. Senyumnya seketika mengembang saat mendapati Bu Yanti bersama cucunya di teras.
"Ibu?"
"Assalamualaikum," ucap Bu Yanti tersenyum.
"Waalaikumsalam. Mari masuk, Bu."
Sambil menuntun cucunya, Bu Yanti melangkah masuk. "Tadi Ibu ketemu Juned di toko.”
"Oh, ya?"
"Iya. Tadi Ibu main ke toko, kirain ada Neng. Terus tadi Juned juga cerita, katanya ibu kamu udah pulang pagi tadi."
"Iya, betul, Bu," sahut Mitha, "Silakan duduk, Bu"
Mereka lalu duduk lesehan di ruang tamu.
"Mata kamu sembap gitu. Habis nangis?" tanya Bu Yanti.
"Kelihatan ya, Bu?" Mitha mengusap kedua matanya.
Arjuna yang baru pulang mengaji di masjid, begitu melihat Dito, ia langsung mengajaknya bermain. "Dito, ayo main sepeda."
Dito anggukkan kepala. "Ayo." Kedua anak itu langsung berlarian ke teras.
Bu Yanti memandang bayi yang tiba-tiba merengek saat Mitha akan meletakkannya di atas kasur. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangan. "Boleh Ibu gendong?"
"Boleh, Bu,” jawab Mitha.
Begitu bayi itu berpindah ke dekapan Bu Yanti, rengekannya langsung berhenti. Ia menimangnya dengan lembut. "Bayi memang maunya digendong terus.”
"Iya, gendongan terus. Baru bisa santai pas ada ayahnya atau pas dia tidur," ujar Mitha.
"Ya ... begitulah ibu-ibu," ucap Bu Yanti sambil mengayun bayi itu perlahan. "Dulu waktu anak-anak Ibu masih bayi juga sama. Masak digendong, jemur digendong, mandi buru-buru. Nggak tenang. Baru keramas setengah, dengar suara bayi nangis, langsung panik."
Mitha tertawa terbahak sampai menutup mulutnya dengan kain gendongan. "Iya, Bu. Sama."
Bu Yanti pun jadi ikut tertawa mengingat momen dirinya dulu. "Kamu pasti belum mandi sore, ‘kan?”
Mitha menggelengkan kepala. “Belum, Bu. Sebentar lagi,” jawabnya.
"Mandi dulu sana, biar Ibu jagain bayinya."
Mutha tertegun. Ada rasa tak percaya menghinggapi pikirannya, bukan tak percaya karena wanita itu orang lain, namun tak percaya karena ada orang lain yang bukan sanak saudara tapi begitu baik hati. "Nggak apa-apa, Bu. Nanti aja. Saya nggak mau ngerepotin Ibu."
"Stt ...." Bu Yanti isyaratkan jari telunjuknya ke bibir. "Ibu nggak repot. Ibu malah senang ada kegiatan," ucapnya sambil melirik ke teras di mana cucunya sedang menaiki sepeda roda tiga ditemani Arjuna. “Sekalian nungguin Dito. Dari siang tadi ngajakin ke sini terus. Pengen main sama Arjuna.”
Mitha ikuti arah pandang ibu itu. Dilihatnya Arjuna sedang mendorong sepeda yang dinaiki Dito. Keduanya tampak tertawa ceria. Mitha terdiam menatap Bu Yanti yang sedang menepuk pelan paha sang bayi.
***
Juned pulang dari toko dengan wajah tidak seceria biasanya meski Arjuna menyambutnya dengan antusias. Tanpa mengganti baju dulu, ia langsung menuju kamar. "Beb ...."