Juned dan Mitha

awod
Chapter #15

#15

Waktu bergulir tanpa mengetuk pintu. Bayi perempuan mereka kini telah menginjak usia belasan bulan. Mitha kembali lebih sering berkunjung ke toko menemani Juned. Di sana ia menghabiskan waktu sorenya bersama Bu Yanti, sementara anak-anaknya dan cucu Bu Yanti riang bermain.

Juned seperti biasa fokus ke tokonya. Menata ulang atau merapikan pajangan. Namun, tiga bulan terakhir omzet tokonya sedikit mengalami penurunan. Ia mulai menyadarinya perlahan. Beberapa pembeli kini hanya mampir sebentar di toko, membolak-balik gantungan kaus, lalu pergi setelah melontarkan kalimat: “Nanti ya, Pak, lihat-lihat dulu," atau “Beli di online sebetulnya banyak, Mas, tapi lamanya itu kalau nunggu paket datang,” atau “Saya kapok beli baju di online. Kadang pas datang ukurannya kekecilan, kadang bahannya jelek tidak sesuai deskripsi.”

Awalnya Juned tidak terlalu menggubris komentar para pembeli. Namun, makin lama hal itu makin sering dan cukup mengusiknya. Mau tak mau, akhirnya ia mencari tahu dan mempelajari seluk beluk jual beli online di Google dan Youtube.

Hujan yang tak berhenti sejak siang memaksa Juned pulang selepas Magrib. Sudah satu jam lebih ia duduk bersila di lantai ruang tamu, matanya terpaku lekat pada layar ponsel. Ia menggulir jempol tangannya ke atas, membaca, lalu kembali menggulir. Begitu terus berulang-ulang dengan dahi yang mengernyit.

“Yah ...,” panggil Mitha lembut.

“Ya,” jawab Juned singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

“Makan dulu.”

“Ntar,” sahut Juned dingin sembari mengubah posisi duduknya.

Mitha menghela napas pendek. Ia menggeser duduknya mendekati kasur, menepuk-nepuk pelan paha anak bungsunya yang sempat menggeliat, lalu berbaring di sampingnya dan tertidur. Beberapa saat kemudian, Mitha terbangun oleh suara Arjuna. “Yah, lihat ini coba! Kakak gambar rumah, loh!”

Juned mengalihkan pandangannya sekilas dari ponsel, menatap buku yang bergambar rumah dua lantai lengkap dengan mobil. “Bagus,” ucap Juned datar. Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya, sebelum matanya kembali menatap layar ponsel di genggamannya.

Mitha yang menyaksikan itu, mendadak merasakan dadanya berdenyut perih. Ia tidak tahan melihat antusiasme anaknya dipatahkan oleh kepenatan batin suaminya. “Yah!” panggil Mitha dengan nada yang ditekan dalam. Sepasang matanya mendelik besar, lalu dengan mengerucutkan bibirnya ia melirik ke arah buku gambar di tangan anaknya.

Juned menghela napas berat, meletakkan ponselnya di atas lantai, lalu menarik buku gambar itu mendekat. “Wah, bagus banget gambar rumahnya, Kak. Ada mobilnya juga?” Juned coba memperbaiki keadaan, mengubah suaranya menjadi lebih ramah. “Bagusnya dikasih warna apa, nih, rumahnya?”

Arjuna merenung sejenak, menimbang-nimbang pilihan. “Biru!” jawabnya singkat, menatap mata ayahnya seolah sedang menunggu persetujuan.

“Okey, biru langit, ya,” sahut Juned dengan gaya kekanak-kanakan yang dipaksakan. “Mana pensil warnanya? Kita warnai bareng.”

Dengan semangat, Arjuna membongkar tas sekolahnya, mengeluarkan sekotak pensil warna dan menyerahkannya pada ayahnya. “Mobilnya warna apa, Yah?”

“Bebas, terserah Kakak aja.”

“Kuning aja deh.”

“Kalau warna merah gimana? Biar seru,” goda Juned coba mencairkan suasana.

“Iya! Ayah yang warnai rumahnya,” jawab Arjuna girang, menyodorkan sebatang pensil warna biru ke telapak tangan ayahnya. Selama mewarnai, Arjuna terus mengoceh tentang hal-hal yang dialaminya seharian. Tentang gurunya di sekolah, tentang mainan temannya, hingga tentang kelucuan adiknya. Namun, Mitha melihat dengan jelas dari raut mukanya, pikiran Juned tidak benar-benar berada di ruangan itu.

Jarum jam telah melewati angka sepuluh, Arjuna dan adiknya sudah tertidur pulas. Juned duduk bersandar ke dinding, matanya menatap layar ponsel di genggamannya. Mitha melangkah perlahan dari arah dapur, lalu duduk di samping suaminya.

“Yah ...,” katanya lembut.

“Iya.”

“Kita ngobrol sebentar, yuk? Tolong simpan dulu hapenya,” pinta Mitha.

Juned menghela napas panjang dan berat. “Hm ..., mau ngobrol apa?”

Respons yang terdengar seperti terpaksa itu membuat Mitha terdiam beberapa saat. Tak ada sapaan Sayang atau Beb seperti biasanya.

Lihat selengkapnya