Juned dan Mitha

awod
Chapter #16

#16

Suara pembawa berita malam dari televisi tabung berukuran empat belas inci menggema pelan dari sudut atas etalase dekat meja kasir toko Juned.

“... virus baru yang awalnya ditemukan di Kota Wuhan, kini dilaporkan mulai menyebar ke berbagai negara. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap menjaga pola hidup bersih ....”

Juned tidak terlalu menyimak berita itu. Baginya, berita virus seperti itu selalu ada setiap tahun. Saat ia bersiap menutup tokonya, seorang pemuda melangkah masuk, pandangannya bergantian tertuju pada layar ponsel di genggamannya dan pajangan celana jins.

“Bang, yang ini harganya berapa?” tanya pemuda itu sambil menunjuk celana tersebut.

“Dua ratus lima puluh ribu,” jawab Juned ramah. “Bahannya denim melar, lagi musim.”

Pemuda itu mengangguk-angguk kecil. Ia menatap ponselnya lagi. Juned melirik, sekilas ia melihat dengan jelas angka berwarna merah yang tertera di layar ponsel si pemuda.

Rp190.000

“Boleh kurang nggak, Bang? Seratus sembilan puluh ribu,” tawar si pemuda.

Juned tersenyum, menggeleng pelan. “Waduh, belum dapat, Dek. Itu udah murah. Udah harga pas.”

“Oh ... ya udah, Bang. Makasih, ya.” Seperti siklus pengunjung toko yang sudah-sudah, anak muda itu melempar senyum canggung, membalikkan badan, lalu melangkah keluar toko.

Juned menyeret langkahnya perlahan menuju meja kasir. Ditariknya laci, lalu ia mengambil buku catatan penjualan, membuka lembar demi lembar, kemudian membandingkannya. Hasilnya lebih kecil dari tahun lalu. Ia teringat ucapan istrinya saat menemaninya makan malam di rumah. “Yah, mungkin kita emang harus serius jualan di internet. Udah banyak banget toko-toko baju di online.” Kala itu Juned hanya menjawab: “Udah. Aku udah bikin tiga akun,” jawab Juned sembari menyebutkan tiga toko Marketplace.

Namun, Juned tidak benar-benar serius menekuni lantaran memang butuh ketelatenan, serta banyak tips dan trik berjualan online. Selain itu, ia juga masih yakin pembeli akan datang untuk melihat langsung ke toko agar tidak kecewa.

Kini, di tahun keempat belas Juned berjualan, kelesuan ekonomi mulai terasa. Beberapa toko mulai gulung tikar. Saat dirinya mulai serius menekuni toko online, ia sudah kalah start, kalah pengalaman digital, dan kalah oleh pemodal besar.

Lihat selengkapnya