Dua pekan setelah lebaran, Juned duduk mematung di meja kasir. Matanya menatap kosong ke arah deretan pajangan pakaian. Ia merindukan riuh kepuasan pembeli membawa kantong belanjaan yang dijinjing keluar tokonya. Namun, semuanya tinggal kenangan, meninggalkan kenyataan getir. Jangankan untuk menghitung laba, untuk menyentuh buku catatan penjualan pun ia sudah tidak bergairah lagi. Sementara waktu sewa toko semakin berkurang. Tujuh bulan lagi masa kontrak tokonya akan habis.
Juned menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Di keheningan toko, ia akhirnya memutuskan sesuatu yang selama berbulan-bulan ini selalu ia hindari. Dengan tangan yang sedikit bergetar Juned mengangkat ponsel, memotret pajangan, etalase, manekin, hingga meja kasir, kemudian ia mengunggahnya di media sosial. Di atas foto-foto itu, ia mengetik:
‘TOKO DILELANG CEPAT. Over Usaha. Toko pakaian beserta seluruh isi, rak, dan perlengkapannya. Sisa kontrak toko 7 bulan’.
Ibu jarinya sempat tertahan lama di atas layar. Dengan mata terpejam rapat, ia akhirnya menekan tombol itu. Klik. Unggahan itu terkirim, menyebar ke beranda Facebook, Instagram, grup-grup jual beli, hingga ke komunitas pedagang luar kota. Juned memilih untuk merahasiakan ini dari Mitha. Nyalinya belum cukup untuk jujur kepada istrinya. Baginya, toko ini bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga kebanggaan.
Azan Subuh berkumandang. Mitha bangun dari tidurnya di ruang tamu. Saat melangkah menuju dapur, ia mendapati lampu kamar masih menyala. Juned tampak tidur dengan posisi miring. Ponselnya tergeletak di samping telapak tangannya yang terbuka. Wajah suaminya itu terlihat sangat kuyu. Guratan lelah tampak di bawah pelupuk matanya yang menghitam. Mitha mendekat perlahan, mengambil ponsel tersebut agar tidak jatuh. Namun, jemarinya tak sengaja menyentuh layar sehingga ponsel itu menyala. Di layar ponsel terpampang jelas gambar toko Juned dengan caption yang langsung membuat jantung Mitha seakan berhenti berdegup.
TOKO DILELANG CEPAT ....
Mitha membeku di tempatnya berdiri. Matanya membaca baris demi baris kalimat di bawahnya perlahan, seakan memastikan bahwa dirinya tidak sedang salah membaca. Ia mengalihkan pandangannya menatap wajah suaminya. Pada detik itu, ia benar-benar menyadari betapa berat beban yang selama ini dipikul oleh suaminya seorang diri di balik senyum setiap kali pulang ke rumah.
Mitha perlahan duduk bersimpuh di lantai di samping ranjang. Bibirnya bergetar. Pelupuknya penuh oleh air mata. Ia menatap wajah Juned lama sekali. Pipi suaminya itu terlihat jauh lebih cekung. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka, Mitha melihat belahan jiwanya itu tampak seperti seorang prajurit yang kehabisan darah dan hampir menyerah kalah di medan laga. Dengan gerakan halus, Mitha mengulurkan tangannya hendak mengusap helaian rambut suaminya. Air matanya berlinang satu per satu, jatuh membasahi ujung seprai seiring bisikan lirihnya, “Kenapa nggak cerita sama aku, Sayang? Kenapa harus kamu tanggung sendirian ...?”
Juned menggeliat saat satu suara kecil membangunkannya. “Ayah...!” Putrinya dengan susah payah naik ke atas ranjang di kamar, lalu menubruk ayahnya yang baru terjaga. Mitha yang dari arah dapur hendak menuju ruang tamu, melihat putrinya di kamar bersama ayahnya langsung menghampiri lalu naik ke atas ranjang dan langsung merangkul mereka berdua. Puspa yang dipeluk dan diciumi ibunya tertawa cekikikan. Mereka bertiga pun akhirnya tertawa tergelak bersama. Tak berselang lama, Arjuna yang baru bangun, dari arah ruang tamu langsung bergabung, bergumul di atas ranjang kamar.
Lelah bercanda, Arjuna dan Puspa diantar ibunya ke kamar mandi. Selesai mengantar anak mereka ke kamar mandi, Mitha menghampiri suaminya yang masih duduk di tepi ranjang, lalu ia meraih ponsel Juned, dan bertanya, “Yah ... kenapa nggak cerita kalau tokonya dilelang?”
Juned tersentak mendongak menatap wajah Mitha yang berdiri di hadapannya. Bahunya merosot bersamaan dengan helaan napas panjang. Dengan lembut kemudian ia memeluk tubuh istrinya. “Maafin aku nggak cerita. Aku terpaksa melelang toko. Aku udah bingung.” Juned menghela napas berat. Mitha mengerti, dan ia tidak berbicara sepatah kata pun. Tangannya memeluk wajah suaminya yang terbenam di dadanya.
Unggahan lelang toko itu tidak langsung membuahkan hasil. Beberapa orang yang mengirimkan pesan lewat inbox atau direct message hanya sekadar menanyakan harga, lalu menghilang tanpa kabar. Ada pula pemborong yang menawar dengan harga murah.
Mendekati batas akhir masa kontrak toko, Juned menjadi semakin pendiam. Gairah hidupnya seperti dipreteli sedikit demi sedikit. Di rumah, ia masih mencoba memaksakan tawa dan senyuman di depan anak istrinya. Tetapi, matanya tak bisa berbohong. Bahkan anak pertama mereka bisa menangkap aura kesedihan itu lewat pertanyaan polosnya di suatu siang saat ia libur tidak membuka toko.
“Ayah lagi sakit, ya?” tanya Arjuna.
Juned tersenyum. “Nggak, kok, Kak. Ayah Cuma agak capek aja, ngantuk.” Ia lalu masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuh, dan membuka ponselnya.
Mitha menghampiri suaminya sesaat kemudian. Ia duduk di tepi ranjang sambil memegangi lengan suaminya. “Yah ....” Hanya itu kata yang keluar dari bibirnya.
Juned meletakkan ponselnya. Matanya kuyu menatap langit-langit kamar. “Aku takut, Tha. Bingung.” Juned menghela napas. “Toko sepi terus. Kalau aku lanjut sewanya, sama aja buang duit. Kalau nggak lanjut, barang-barangnya mau disimpan di mana? Di bawa ke rumah, sempit.”
Mitha dengan lembut meremas tangan suaminya, seakan ingin menyalurkan kekuatan kepada suaminya. Ia tak mengatakan sepatah kata pun. Ia khawatir justru ucapannya akan menambah beban pikiran suaminya.
Juned memiringkan tubuhnya. “Kayaknya yang mau ngeborong barang toko kita itu merasa kemahalan. Aku mau bawa pulang sebagian barang dagangan ke rumah, biar harganya bisa diturunin, nggak kemahalan,” ucap Juned menghela napas pendek.
Mitha hanya mendengarkan. Tangannya dengan lembut membelai pipi dan rambut suaminya.