Hari-hari setelah tak memiliki toko berubah menjadi waktu yang sangat asing dan hambar bagi Juned. Selama belasan tahun lamanya ia selalu memiliki kebiasaan setiap pagi. Membuka pintu toko, menyapa pembeli, menghitung perputaran stok pakaian, lalu menutup pintu toko saat malam. Rutinitas itu dulu kadang dikeluhkannya karena membosankan. Namun kini, setelah semuanya hilang, rutinitas itulah yang paling ia rindukan. Di sudut ruang tamu, dua karung berisi pakaian yang tidak ikut diborong teronggok begitu saja. Kadang, Juned duduk selama seperempat jam hanya untuk memandangi tumpukan karung itu. Pakaian-pakaian itu dulu adalah aset bernilai, namun kini justru berubah menjadi bukti yang terus mengingatkannya pada kegagalan. Ia coba menawarkan sisa barang itu ke beberapa teman sesama pedagang. Tetapi, kondisi semua orang di lingkarannya setali tiga uang. Susah, sepi, dan seret. Salah seorang temannya yang masih memiliki kios di pasar akhirnya memberi saran untuk menitipkan barang itu di tokonya, dan Juned pun mengikuti saran itu.
Dua pekan berlalu, perasaan suntuk mulai mengusik Juned. Ia pun mulai membiasakan diri untuk keluar rumah sejak pagi, mendatangi teman atau kenalannya untuk bertanya peluang usaha. Namun, hasilnya nihil.
“Yah, tadi siang pas kamu tidur, Pak RT kesini. Dia ngasih tau jangan lupa pasang bendera Agustusan,” ujar Mitha di suatu sore.
“O iya, ya, aku baru ingat,” sahut Juned yang sedang menemani Arjuna membuat tugas sekolah di ruang tamu. “Ayo kita beli bendera.”
Arjuna yang sedang menggunting kertas karton langsung memekik. “Hore! Kita beli bendera.” Adiknya yang ikut nimbrung bermain lem kertas langsung berjingkrak. Mitha dan Juned hanya tersenyum melihat anak-anak mereka. Sore itu mereka berempat berkeliling mengendarai motor, mencari dan membeli bendera merah putih plastik di trotoar dekat lampu merah.
Di teras rumah, mereka berempat sibuk merangkai pernak-pernik bernuansa merah-putih dan memasang tali pada bendera plastik, kemudian memasangnya di langit-langit teras. Suasana Agustusan kini mulai terlihat di rumahnya. Beberapa tetangga juga terlihat mulai memasang bendera dan umbul-umbul. Saat Juned sedang menatap bendera yang baru selesai dipasangnya, satu motor berhenti di depan teras rumahnya. “Permisi, Pak,” ucap penunggangnya, seorang pria dengan jaket hitam-hijau. “Rumah Ibu Yuli sebelah mana, ya?”
Juned dengan ramah menunjuk ke arah dalam gang. “Bu Yuli. Itu, Pak, yang ada orang lagi pasang umbul-umbul.”
Pengemudi motor yang tak lain adalah Ojek Online, mengangguk berterima kasih dan pergi berlalu. Juned memperhatikan pengemudi itu hingga sampai di depan rumah Bu Yuli, lalu menyerahkan bungkusan kemudian menerima uang. Juned terus memperhatikan sampai Ojol itu pergi.
Juned menghampiri Mitha yang sedang membereskan tali sisa merangkai bendera. “Beb, kayaknya aku mau nyoba jadi ojol. Daripada nganggur terus.”
Mitha merenung sebentar sebelum menjawab. “Iya coba aja, Yah. Sambil nyari peluang lain.”
Juned pun mencoba peruntungan baru menjadi pengemudi ojek online. Hari pertama mengaspal, Juned pulang menjelang magrib dengan sekujur tubuh yang pegal-pegal dan wajah yang kusam. Setelah dihitung, penghasilannya hari itu bahkan nyaris habis untuk membeli bensin. Namun, ia terus mencoba lagi dan lagi tidak menyerah.
Setelah mandi pagi, Juned masuk ke kamar. Di sana Mitha baru saja selesai membedaki wajah putrinya. Juned berdecak saat menatap wajahnya sendiri di cermin. “Dua bulan ngojol, muka jadi gosong gini.” Mitha tersenyum melihat wajah suaminya di balik cermin.
“Yah,” panggil Mitha, ia melirik ke arah putrinya saat Juned berpaling.
Juned membelalakkan matanya ketika melihat anak bungsunya. “Waw, cantik sekali,” pujinya, mengangkat kedua jempol tangannya ke arah putrinya. Puspa langsung memasang wajah kemayu, kemudian berjalan genit keluar kamar, meninggalkan ayah dan ibunya yang tersenyum lebar.
“Beb, semalam aku narik penumpang ngelewatin Pasar Malam. Aku ketemu si Heru lagi jualan di sana,” ucap Juned sambil mengenakan pakaian. “Aku ngobrol sama dia sambil lihat-lihat situasi, terus dia ngajak aku jualan juga.”
“Jualan pakaian? Pake tenda gitu, Yah?” tanya Mitha.
“Iya. Barang yang aku titipin di pasar mau aku ambil, aku mau coba jual di pasar malam. Tendanya pinjam punya Heru. Katanya dia punya dua,” jawab Juned.
Mitha langsung memeluk suaminya yang baru selesai menyisir rambut di depan cermin, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Rutinitas harian Juned kini mulai tertata. Setelah mengantar Arjuna ke sekolah, ia langsung mengaktifkan akun ojolnya, dan menonaktifkannya saat menjemput pulang anaknya dari sekolah. Lalu, setiap jam empat sore, ia akan sibuk mengikat karung berisi pakaian di atas jok belakang motornya, kemudian berkendara menuju titik pasar malam keliling yang lokasinya selalu berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Kadang bertempat di sebuah lapangan bola, kadang di pinggiran balai desa, atau di dekat alun-alun kecamatan.
Namun, setelah tiga bulan menjalani rutinitas baru itu, kondisi ekonominya tidak menampakkan perbaikan. Ternyata penghasilan ojol tak semanis cerita, dan pasar malam pun setali tiga uang, apalagi memasuki musim penghujan. Lantaran itu, Juned pun selalu singgah mengambil uang tabungannya di ATM sebelum pulang. Di sana ia mendapati sisa saldo tabungannya banyak berkurang.
Lelah benar-benar mendera Juned; lelah tubuh dan lelah pikiran. Tekanan batin yang mengimpit dadanya bertambah pekat dari hari ke hari. Tetapi, ia memilih untuk mengubur kepedihan itu dalam diam.