Juned dan Mitha

awod
Chapter #19

#19

“Yah, aku berangkat dulu, ya. Jangan lupa matikan kompor.” Tangan Mitha menggamit dan mencium punggung tangan Juned.

Di depan rumah, kedua anak mereka sudah lebih dahulu berlarian menghambur menuju mobil putih yang terparkir di ujung gang. Di sana, Budi, kakak ipar Juned, sedang merapikan beberapa tas pakaian ke dalam bagasi mobil yang tampak penuh sesak. Mereka diajak menginap di rumah sepupunya untuk mengisi liburan sekolah selama dua pekan. Ini adalah liburan pertama mereka kembali di Tangerang setelah empat tahun semenjak diberlakukannya protokol kesehatan Pandemi Covid-19.

“Hati-hati di jalan. Nanti kalau urusan udah selesai, aku langsung nyusul,” ujar Juned pelan. Ia menarik sudut bibirnya, memaksakan segaris senyuman. Di dalam hatinya yang paling dalam, Juned merasakan denyut perih yang luar biasa. Ia tidak memiliki cukup keberanian untuk berterus terang kepada istrinya, bahwa kata ‘urusan’ yang baru saja ia ucapkan sebenarnya adalah ketiadaan urusan.

Anak-anaknya bersorak girang di dalam mobil. Bocah-bocah polos itu tidak menyadari ada mendung yang menggelayut di mata ayahnya. Begitu roda mobil itu berputar menjauh dan menghilang di tikungan jalan, keheningan langsung menyergap masuk ke dalam rumah saat Juned menutup pintu. Tidak ada lagi suara celoteh riang anak-anaknya, tidak ada lagi derap langkah kaki kecil yang gaduh, dan tidak ada lagi aroma minyak telon dari tubuh putrinya. Juned bersandar ke dinding di sebelah pintu, membiarkan punggungnya merosot hingga ia terduduk di lantai. Kedua lututnya menyangga kedua tangan yang memijit pelipisnya.

Keheningan itu menarik paksa pikirannya menerawang jauh ke belakang. Empat tahun hidupnya terombang-ambing oleh pandemi COVID-19. Wabah global itu bukan hanya mengunci pintu-pintu perbatasan kota, melainkan juga meruntuhkan dan melumat habis usaha toko pakaian yang telah ia rintis dengan tetesan keringat dan air mata. Seluruh uang tabungannya nyaris habis.

Setiap kali terbersit keinginan untuk menyerah dan pulang ke kampung halaman, rasa malu selalu menahan langkahnya. Ia merasa telah gagal menjadi pria seutuhnya, merasa tidak layak untuk kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang pecundang. Impiannya membeli rumah untuk anak-istrinya, kini hanyalah sebatas ilusi fana. Kenyataannya, hari ini dia menjalani kehidupan dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur berkeping-keping.

Juned mulai terisak. Awalnya hanya getaran halus di bahunya, namun bayangan-bayangan masa kecil yang membahagiakan mulai berputar di kepalanya. Saat ia berlari di pematang sawah tanpa alas kaki bersama kawan-kawannya, saat ia tertidur di pangkuan ibunya, dan saat dunia terasa begitu nyaman karena ia belum tahu betapa kejamnya hidup.

“Ibu ...,” gumamnya parau. Isak tangis yang tertahan selama empat tahun itu meledak. Tubuhnya bergetar hebat, bahunya berguncang-guncang, dan dadanya terasa sesak. Juned menelungkupkan wajahnya di antara kedua lutut. Air matanya menderas, membasahi celananya yang kusam. Asanya mulai hilang. Ia rebahkan tubuhnya ke samping, ke atas kasur busa yang semakin menipis dimakan usia. Napasnya semakin berat. Dalam pelukan bantal guling, tangisnya semakin menjadi saat memori obrolan kedua anaknya tentang warna cat kamar rumah impian mereka berkelebat di pikirannya.

“Nanti kalau Ayah beli rumah, Mpa mau cat kamarnya warna apa?” tanya Arjuna pada adiknya, Puspa.

“Pink,” jawab Puspa singkat. “Kakak warna apa?” Puspa balik bertanya.

“Biru,” sahut Arjuna.

Kakak adik itu menoleh kompak ke arah Juned dan Mitha. “Ayah sama Mamah apa?” Arjuna yang bertanya.

Lihat selengkapnya