Menjelang kumandang azan Ashar, Juned terbangun dari tidurnya. Setelah mengambil air wudu, ia berjalan santai menuju masjid yang terletak di dekat alun-alun desa. Langkah kakinya berayun pelan, matanya memandang sekeliling. Banyak hal yang telah berubah, namun banyak pula kenangan yang tetap bergeming tak tersentuh perubahan. Masjid itu masih berdiri dengan pohon mangga yang rindang di pelataran depannya, hanya saja warna cat dindingnya kini tampak lebih cerah dan bersih. Alun-alun kecil tempat dirinya dulu sering menghabiskan waktu sore untuk bermain bola atau menerbangkan layang-layang pun masih ada di sana, meski sekarang areanya sudah dipadati oleh lapak para pedagang kaki lima yang menjajakan camilan sore.
Setelah salat Ashar, beberapa teman karib masa kecilnya bergegas menghampiri Juned di teras masjid. Wajah-wajah sahabatnya itu kini sudah banyak berubah dimakan usia. Ada yang perutnya sudah mulai membuncit, ada pula yang rambutnya mulai memutih. Namun, tawa dan gurauan masih sama seperti belasan tahun yang lalu. Mereka mengobrol di selasar masjid, berbicara tentang kabar teman-teman lama yang terpisah jarak dan tentang kehidupan di kampung. Setelah puas berbincang, mereka kemudian melangkahkan kaki mengelilingi desa bersama, melewati sungai kecil tempat dulu mereka sering berenang, melintasi pagar lapangan sekolah dasar yang kini dindingnya sudah mulai retak, hingga mampir ke warung gorengan langganan masa kecilnya. Di sudut alun-alun mereka pun berpisah, meninggalkan Juned sendiri menikmati langit senja.
Dari arah kejauhan, samar-samar telinga Juned menangkap bunyi yang tidak pernah ia dengar saat di kota.
Ting ... Ting ...
Ia memutar tubuhnya, mengarahkan pandangan matanya ke arah jalan di dekat rindangnya pohon beringin. Tampak seorang pria tua sedang berjalan lambat sambil mendorong gerobak kayu setinggi satu meter; gerobak es cendol dengan cat putih. Di sisi kanan tepat di bagian bawah pegangan gerobak, tergantung sebuah lonceng kuningan kecil yang terus berdenting mengikuti ritme langkah kaki. Wajah lelaki tua itu dipenuhi gurat keriput. Tubuhnya tinggi kecil namun kekar. Di kepalanya bertengger penutup kepala yang khas; topi koboi cokelat tua yang sudah memudar warnanya. Juned langsung mengenalinya tanpa ragu.
“Uwa?!” panggil Juned, suaranya agak tertahan di tenggorokan.
Lelaki tua itu seketika menghentikan dorongan pada kedua lengan gerobaknya. Matanya menatap lekat ke arah Juned. Untuk beberapa detik, pria tua itu mematung. Juned melangkah mendekat, meraih tangan kanan pria tua itu, lalu mencium punggung tangannya.
“Juned?” Suara pria tua itu mengalun pelan, ragu-ragu. Namun, sejurus kemudian, sepasang matanya membesar.
Juned tersenyum, lalu mengangguk cepat. “Iya, Wa. Ini Juned.”
“Ya Allah... Gusti...” Pria tua itu tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. “Sudah lama tidak ketemu.” Telapak tangannya menepuk-nepuk bahu Juned. “Terakhir ketemu pas adik kamu menikah, ya?”
Juned ikut tertawa kecil. “Iya, Wa. Gara-gara Corona jadi nggak bisa mudik.” Juned menatap gerobak itu. “Uwa masih kuat jualan keliling?” tanyanya, memandangi wajah tua itu.
Uwa tersenyum lebar, lalu mengusap pegangan kayu gerobaknya yang sudah licin karena sering digenggam. “Alhamdulillah, Ned.”