Juned dan Mitha

awod
Chapter #21

#21

Matahari mulai meninggi, menguapkan sisa-sisa embun yang menempel di pucuk-pucuk dedaunan sepanjang jalan desa yang dilalui Juned. Langkah kakinya berhenti saat sampai di depan pagar yang mengelilingi rumah Uwa. Saat ia mendekati pintu rumah yang terbuka, aroma khas gula aren yang tengah dimasak menguar, menggugah memori saat ia selalu mencium aroma itu setiap berangkat ke sekolah.

“Assalamualaikum, Wa,” ucap Juned sembari mengedarkan pandangan.

Dari arah dapur, Uwa melangkah ke depan rumah. “Waalaikumsalam. Masuk, Ned,” ajak Uwa sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang dikalungkan di leher.

Juned melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk menyalami. Ia sempat melongok ke arah pintu dapur yang tampak sepi. “Wa Uti mana, Wa?”

“Wa Uti lagi tidur di kamar. Lagi kurang enak badan. Kecapekan baru pulang nengok cucu.”

Uwa melangkah kembali menuju dapur. Juned mengikuti pria tua itu dari belakang.

“Juned bantuin, Wa,” pintanya sembari mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa dilakukan.

“Boleh. Tolong aduk gula arennya ini.”

Meski agak kaku, Juned terlihat menikmati pekerjaan itu.

“Kamu luwes sekali mengaduknya, Ned,” puji Uwa, lalu menyeruput kopi hitam yang masih mengepul.

Juned tertawa kecil mendengar pujian itu. Sembari mengaduk, ia memperhatikan keadaan dapur. Tampak bahan-bahan es cendol sudah siap diolah. Saat ia hendak berbicara, dilihatnya pria tua itu sedang memelototi ponsel yang dipegangnya dan sesekali terkekeh. Juned jadi penasaran. “Nonton apa, Wa?” tanya Juned, tersenyum melihat pria itu.

“Nonton video di YouTube,” jawab Uwa. Ia menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum, lalu meletakkan ponselnya.

Juned tertawa kecil. “Uwa sering nonton YouTube? Kirain aki-aki nggak pernah nonton YouTube.”

“Emang anak muda aja yang suka nonton YouTube?” ucap Uwa. Mereka berdua langsung kompak tertawa.

Uwa berjalan menuju rak piring, lalu mengambil gelas cangkir. “Udah, Ned. Matikan dulu kompornya. Ngopi dulu. Sini duduk,” ucap pria tua itu.

Mereka pun duduk di atas lincak di sudut dapur. Uwa menyodorkan kopi hitam panas yang baru diseduhnya. Juned menerimanya, lalu menyimpan kopi panas itu di samping piring yang berisi ketan bakar.

“Makan ketannya, Ned, mumpung masih anget.”

Juned mengangguk, lalu mengambil satu potong ketan dan melahapnya.

“Anak istrimu ikut?”

“Nggak, Wa. Lagi liburan ke rumah kakak ipar di Tangerang.”

Uwa menganggukkan kepalanya, lalu menyeruput kopi. “Toko gimana? Lancar?” tanya Uwa lagi.

Juned menelan ketan yang dikunyahnya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap cangkir kopinya. “Toko saya... udah nggak ada, Wa. Sudah bangkrut.”

Pria tua itu tidak memperlihatkan gestur terkejut yang berlebihan, ia hanya menghela napas pendek. Perlahan-lahan, Juned mulai menumpahkan seluruh kisahnya. Ia bercerita dengan suara yang bergetar mengenai tokonya yang mati suri dihantam pandemi, tentang ojol dan pasar malam keliling, hingga tentang tagihan utang bank dan rasa malu untuk pulang ke kampung halaman.

Uwa mendengarkan setiap cerita Juned tanpa memotong. Sesekali, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ketika Juned menyelesaikan kalimat terakhirnya, pria tua itu menghela napas panjang, lalu membetulkan posisi duduknya.

“Ned, kamu tahu tidak, apa alasan Uwa masih dikasih kekuatan buat tetap mendorong gerobak ini sampai sekarang di usia begini?”

Juned menengadahkan wajah menatap pria tua di hadapannya.

Lihat selengkapnya