Juned tiba di depan rumah kontrakannya tepat saat muazin selesai melantunkan azan Isya. Suasana gang tampak sepi, hanya ada beberapa tetangga yang berjalan terburu-buru menuju mushala. Ia menuntun motornya masuk ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu, ia meletakkan tas ranselnya di lantai. Rasa penat menjalar di sekujur tubuhnya setelah menempuh perjalanan berjam-jam di atas motor. Juned merebahkan punggungnya di kasur busa di ruang tamu, lalu meraih remot untuk menyalakan televisi. Perutnya mendadak berbunyi saat baru sejenak merebah. Ia pun mengambil bekal nasi dari ibunya.
Sambil menonton televisi, Juned membuka bekal itu. Tepat saat jemarinya baru saja hendak menyuap nasi, ponselnya berdering nyaring, layarnya menyala menampilkan nama ‘Bidadariku’ dalam panggilan video. Ia buru-buru mengurungkan suapannya, lalu menggeser tombol hijau.
“Halo, Assalamualaikum, Ayah. Udah di Cikampek?” Suara Mitha terdengar renyah di seberang sana, disusul suara riuh anak-anaknya di belakang.
“Waalaikumsalam. Iya, ini baru banget nyampe,” jawab Juned semringah.
Belum sempat Mitha melanjutkan obrolan, ponselnya sudah direbut oleh Arjuna. “Ayah! Tahu enggak, tadi Juna sama Mpa diajak Om Budi berenang di kolam yang besar banget! Terus sorenya jalan-jalan ke mall, dibeliin baju baru, sama makan di restoran Korea, loh, Yah!” Anaknya bercerita dengan nada yang antusias, saling berebut ponsel untuk memamerkan kegembiraan mereka selama menginap di rumah sang paman di Tangerang. Juned hanya bisa mendengarkan sambil membelalakkan mata dan sesekali mengulas senyum getir, mengiyakan setiap cerita polos yang meluncur dari bibir buah hatinya. Setelah Mitha kembali mengambil alih ponsel dan berpesan agar ia jangan lupa makan, panggilan itu pun berakhir.
Sambungan telepon terputus. Ruang tamu kembali senyap, menyisakan suara televisi yang tidak ia perhatikan. Juned menatap makanan di depannya, namun selera makannya mendadak menguap. Dada pria itu mendadak terasa sesak, perih. Ia merenung, memandangi lantai keramik.
Dulu, saat tokonya masih berjaya, membahagiakan istri dan anak-anaknya dengan cara seperti itu adalah hal yang sangat mudah baginya. Mengajak mereka ke mall dan membelikan apa saja yang mereka inginkan tanpa harus berpikir dua kali.